PALU – Ketua Utama Alkhairaat, Sayyid Alwi bin Saggaf Aljufri, menyampaikan tausyiah menjelang berbuka puasa dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bersama puluhan ribu masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Kantor Gubernur Palu, Jumat (6/3) sore.

Dalam ceramahnya, Sayyid Alwi menjelaskan bahwa ibadah puasa memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah lainnya. Hal itu merujuk pada hadis kudsi dari Nabi Muhammad yang menyebutkan bahwa semua amal anak Adam adalah untuk dirinya kecuali puasa.

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki keistimewaan dibandingkan ibadah lainnya,” kata Ketua Utama Alkhairaat.

Menurutnya Sayyid Alwi, pada dasarnya seluruh ibadah memang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Namun puasa memiliki karakteristik yang berbeda karena tidak memiliki penampakan fisik sebagaimana ibadah lainnya.

Sayyid Alwi menerangkan, bahwa ibadah seperti salat, sedekah, zikir, maupun haji dapat terlihat secara nyata oleh orang lain. Sementara puasa adalah ibadah yang bersifat rahasia antara seorang hamba dengan Allah SWT.

“Kalau orang salat kita bisa melihat gerakannya. Orang bersedekah juga terlihat. Tapi puasa tidak memiliki penampakan. Inilah yang menjadikan puasa sebagai ibadah sir, rahasia antara hamba dan Allah,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam hadis tersebut juga disebutkan bahwa Allah SWT sendiri yang akan memberikan ganjaran bagi orang yang berpuasa. Jika pahala amal pada umumnya dilipatgandakan mulai dari sepuluh hingga tujuh ratus kali, maka pahala puasa diberikan tanpa batas.

Selain itu, ia menekankan bahwa puasa merupakan ibadah yang membentuk karakter manusia. Melalui puasa, umat Islam dilatih untuk disiplin terhadap waktu, baik saat sahur maupun ketika berbuka.

Puasa juga menjadi pendidikan kejujuran. Menurutnya, seseorang yang berpuasa sebenarnya bisa saja membatalkan puasanya ketika sendirian tanpa diketahui orang lain, namun keimanan dan kecintaan kepada Allah membuatnya tetap menjaga puasanya.

“Di sinilah nilai kejujuran ditanamkan. Ketika seseorang sendirian dia bisa saja membatalkan puasanya, tetapi karena takut dan cinta kepada Allah, dia tetap menjaganya,” katanya.

Selain itu, puasa juga melatih kepekaan sosial terhadap sesama, khususnya kepada fakir dan miskin. Rasa lapar yang dirasakan selama berpuasa menjadi pelajaran agar manusia memahami kondisi mereka yang kekurangan.

“Dengan rasa lapar itu kita dilatih memiliki kepekaan terhadap orang-orang fakir dan miskin, sehingga tumbuh rasa untuk berbagi kepada mereka,” katanya.

Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama Ramadan, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial, tidak hanya dirasakan selama bulan suci saja, tetapi tetap menjadi bagian dari kepribadian umat Islam setelah Ramadan berakhir.

“Semoga Allah SWT mencatat puasa kita sebagai puasa yang diterima dan menjadikan nilai-nilai Ramadan tetap terjaga dalam kehidupan kita setelah Ramadan berlalu,” tandasnya.