PALU – Ketua Umum Pimpinan Pusat Wanita Islam Alkhairaat (WIA), Sy Saikhun bin Abdillah Aljufri, mengenang masa-masa indah bulan suci Ramadan saat dirinya masih kecil. Kenangan tersebut menjadi pengingat akan betapa besarnya makna Ramadan dalam membentuk spiritualitas dan kebersamaan umat Islam.
Menurutnya, menjelang datangnya Ramadan, ingatan tentang masa kecil selalu menghadirkan kerinduan tersendiri.
“Kalau kita kembali mengingat masa-masa kecil, waktu masih sekolah, banyak sekali kenangan di bulan Ramadan,” ujar Ketum WIA Sy Saikhun bin Abdillah Aljufri, Senin, (16/2) sore.
Ia menuturkan, salah satu momen yang paling dirindukan adalah pelaksanaan shalat tarawih berjamaah. Suasana tarawih, katanya, terasa sangat khas dan hanya hadir di bulan Ramadan. Semangat anak-anak untuk berangkat ke masjid begitu besar, bahkan sampai berebut tempat untuk menggelar sajadah agar bisa berada di saf depan.
“Kalau tidak duluan menaruh sajadah, bisa dapat di belakang atau bahkan di halaman masjid,” kenangnya.
Semasa kecil, ia kerap melaksanakan tarawih di Masjid Alkhairaat dan Masjid Alkautsar. Ia biasanya mengikuti orang tuanya, Habib Abdillah Aljufri yang sering mendapat undangan ke berbagai daerah selama Ramadan, termasuk ke wilayah Donggala (Sigi saat ini). Masa tersebut menjadi pengalaman berharga karena dapat merasakan suasana Ramadan di kampung-kampung.
Selain salat tarawih, kebersamaan saat berbuka puasa juga menjadi kenangan yang tak terlupakan. Hidangan khas menu buka puasa seperti kolak, palu butung dan pisang ijo selalu dinantikan.
“Buka puasa bersama keluarga dengan sajian manis-manis itu sangat dirindukan,” katanya.
Shalat Subuh di bulan Ramadan pun memiliki cerita tersendiri. Setelah shalat, anak-anak biasanya tidak langsung pulang ke rumah, melainkan berjalan-jalan pagi bersama teman-teman yang sudah berjanji sebelumnya.
Ia juga mengingat tradisi tadarus Al-Qur’an sejak kecil. Anak-anak termotivasi untuk membawa buku catatan dari sekolah dan meminta tanda tangan imam sebagai bukti kehadiran di masjid-masjid. Menurutnya, strategi tersebut sangat efektif dalam membangun semangat ibadah anak-anak.
“Motivasi di bulan suci itu sangat luar biasa. Kita tahu pahalanya berlipat ganda, sehingga semangat beribadah juga meningkat,” tuturnya.
Menghadapi Ramadan tahun ini, ia mengajak umat Islam untuk memanfaatkan bulan Ramadan sebaik mungkin. Ramadan, kata dia, adalah kesempatan istimewa yang hanya datang sekali dalam setahun. Ia berharap bulan ini dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
“Manfaatkan bulan suci Ramadan ini dengan memperbanyak ibadah, sedekah, kepedulian sosial, dan kemanusiaan. Karena keberkahannya luar biasa bagi umat Islam,” tandasnya.

