PALU – Ketua Umum Pengurus Besar Alkhairaat (PBA), HS. Mohsen Alaydrus, secara resmi membuka kegiatan lokakarya Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Alkhairaat yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan PB Alkhairaat, di Aula Fakultas Agama Islam Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, Senin (16/2) sore.

Lokakarya ini dalam rangka merumuskan arah pengembangan kurikulum dan tata kelola pendidikan di lingkungan Alkhairaat khususnya MDA atau Madrasah Dinyah Takmiliyah (MDT).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat, Jamaluddin Mariadjang, Rektor Universitas Alkhairaat Dr. Muhammad Yasin, PBA Prof. Saggaf S. Pettalongi, Ketua Umum Pengurus Pusat Wanita Islam Alkhairaat, Ketua Majelis Pendidikan PB Alkhairaat, sejumlah akademisi Unisa Palu, serta para guru di lingkungan Alkhairaat dan perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulteng.

Dalam sambutannya, Ketum PB Alkhairaat HS. Mohsen Alaydrus menegaskan pentingnya melihat pendidikan sebagai sebuah sistem yang terintegrasi dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Ketum menyampaikan bahwa penyusunan kurikulum tidak boleh hanya berorientasi pada standar formal semata, melainkan harus diawali dengan penentuan tujuan pendidikan yang jelas.

“Kita harus memutuskan terlebih dahulu, kita ingin menciptakan seperti apa hasil pendidikan kita. Setelah itu, kurikulum akan mengikuti kebutuhan dan perkembangan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, integrasi antara pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi keharusan. Ia mendorong agar sekolah-sekolah dasar yang berada di bawah naungan Alkhairaat menerapkan konsep sekolah terintegrasi, bukan sekadar terpaku pada sistem konvensional. Konsep terintegrasi tersebut menekankan pada substansi muatan pembelajaran yang seimbang antara nilai-nilai agama dan kebutuhan dunia modern.

Ia juga menyinggung pentingnya standar pendidikan. Menurutnya, standar pemerintah tetap menjadi acuan, namun lembaga pendidikan Alkhairaat dapat menetapkan standar yang lebih tinggi sesuai dengan visi dan misi organisasi.

Lebih lanjut, Mohsen menekankan pentingnya manajemen dalam penyelenggaraan pendidikan. Ia menyebut bahwa keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas input, proses, dan output yang dikelola dengan baik.

“Kita harus percaya pada proses. Jika input dan prosesnya baik, insya Allah outputnya juga akan baik. Tanpa manajemen yang baik, lembaga pendidikan tidak akan berjalan optimal,” tegasnya.

Selain persoalan kurikulum dan manajemen, Ketua Umum PB Alkhairaat juga menyoroti tantangan ketersediaan guru dan pembiayaan. Ia mendorong adanya program khusus untuk menyiapkan kader-kader guru dari pondok pesantren maupun lembaga pendidikan yang ada, dengan target melahirkan puluhan guru setiap tahun.

Menurutnya, jika setiap lembaga mampu melahirkan minimal 50 guru per tahun, maka kebutuhan tenaga pendidik di berbagai daerah dapat terpenuhi. Namun demikian, persoalan kesejahteraan guru juga harus menjadi perhatian bersama.

“Masyarakat kita ingin membangun pendidikan, tetapi pertanyaan yang muncul selalu soal gaji guru. Karena itu, kita perlu memikirkan sistem pembiayaan yang mandiri dan terpusat, dengan tetap memberdayakan potensi masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa sentralisasi kebijakan harus tetap diimbangi dengan kemandirian masing-masing satuan pendidikan, khususnya dalam hal pengelolaan pembiayaan dan pengembangan sumber daya. Lokakarya ini, PB Alkhairaat berharap lahir rumusan konkret terkait penguatan kurikulum MDA, sistem manajemen pendidikan, serta strategi penyiapan dan pembiayaan tenaga pendidik.

“Sehingga Madrasah Diniyah Awaliyah Alkhairaat mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan umat secara berkelanjutan,” tandasnya.