PALU – Pelaksanaan Salat Jumat perdana di Masjid Raya Baitul Khairaat, Jumat (28/11), dipadati sekitar 20 ribu jamaah dari berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sigi, Kota Palu, Donggala, dan Parigi Moutong.
Masyarakat berharap masjid termegah di Sulawesi Tengah itu dapat dikelola secara profesional ke depan—menjadi rumah besar umat, pusat peradaban, serta ruang kajian Islam yang menebarkan nilai kebaikan, kebersamaan, kedamaian, dan kemajuan.
Namun, sejumlah jamaah mengeluhkan kualitas sound system yang belum optimal.
Keluhan Jamaah: Suara Khatib Tidak Jelas
“Hanya saja beberapa item pendukung seperti sound system perlu dibenahi. Tidak terdengar di semua ruangan, seperti yang terjadi pada Salat Jumat perdana tadi. Bahkan tidak jelas apa yang disampaikan Khatib. Suaranya kresek-kresek dan tidak jernih,” ujar Abdul Aziz, warga Jalan Bantilan.
Ia berharap kekurangan tersebut menjadi bahan evaluasi menjelang peresmian masjid pada 4 Desember 2025. Selain sound system, Aziz menilai arus keluar-masuk kawasan masjid dan penataan parkir juga perlu diperbaiki agar tidak terjadi penumpukan kendaraan.
“Kalau perlu, ruas jalan provinsi Cumi-Cumi yang tembus ke Jalan Nasional Yos Sudarso dibuka sementara pada tanggal 4 Desember itu,” tambahnya.
Kadis Cikasda: Mic Imam Tidak Sesuai Arahan
Di tempat terpisah, Kadis Cikasda Sulteng Rully Djanggola menjelaskan bahwa masalah sound system terjadi karena imam menggunakan mic yang tidak sesuai arahan teknisi.
“Kemarin itu mic yang digunakan imam tidak sesuai arahan sound engineering, sehingga area bawah tidak kedengaran. Ini sudah kami informasikan juga kepada jamaah. Ke depan, imam akan diarahkan menggunakan mic utama agar seluruh sudut terdengar, karena lantai dasar sudah full speaker plafon,” ujarnya, Sabtu (29/11).
Rully menambahkan bahwa penggunaan perdana kemarin sekaligus menjadi proses pembelajaran. Pengaturan sound system membutuhkan penyesuaian, termasuk pemahaman imam terhadap arahan teknis.
“InsyaAllah pada tablig akbar tanggal 4 Desember nanti, keluhan sound system sudah lebih baik,” ujarnya.
Terkait pengaturan lalu lintas, Rully memastikan Dishub dan kepolisian sudah menyusun rekayasa lalu lintas yang dikoordinir Asisten I Pemprov Sulteng. “Yang terpenting jamaah tidak menumpuk,” katanya.
Keluhan Lain: Struktur Arsitektur Dianggap Menyulitkan Jamaah
Keluhan juga datang dari warga bernama Rifay, terkait desain arsitektur masjid. Ia menilai area sandal yang tidak memiliki pelindung dan jarak area suci yang terlalu luas menjadi kendala.
“Area sucinya berupa keramik terbuka. Siang hari sangat panas. Jalan menuju masjid jauh, kaki kepanasan. Makanya banyak orang menggantung sandal di pohon atau menaruhnya di bawah pohon,” ujarnya.
Ia berharap ke depan pengelola dapat mencari solusi agar kenyamanan jamaah meningkat.
“Keindahan tidak selamanya indah kalau membuat jamaah kerepotan. Jika terlalu merepotkan, orang bisa memilih salat di masjid terdekat yang lebih praktis,” katanya.

