OLEH: drg. Agus Baijuri*

​Senja itu, langit Palu berselimut warna lembayung yang cantik, namun menyimpan rahasia yang tak seorang pun tahu. Di ambang waktu Maghrib, seorang bapak menuntun putra kecilnya menyeberang jalan menuju musholla.

Dengan penuh kasih, ia melepas sang anak untuk mengaji bersama kawan-kawannya. Itulah senyum terakhir sang anak yang ia saksikan sebelum ia berbalik pulang.

​Baru saja kaki sang bapak berpijak di depan pintu rumah, suara mengerikan “Broooooommmmmm” menggelegar.

Bumi bergoncang hebat. Saat ia menoleh ke belakang, dunia yang ia kenal telah hilang. Musholla itu sirna dalam sekejap. Tanah bergerak layaknya mixer, menelan bangunan dan menghanyutkan atap-atap rumah dalam pusaran likuifaksi yang dahsyat.

Di sanalah, pertemuan terakhirnya dengan sang buah hati terkubur dalam rahasia alam.

​Sementara, di tempat lain, ditengah keriuhan bencana. Seorang ibu mencari ibunya yang sudah sepuh di antara puing-puing rumah yang amblas. Dengan suara bergetar ia memanggil, “Ibu, di mana?”
​Sebuah jawaban tenang terdengar dari dalam tanah, “Saya di sini nak, sedang di dapur lagi memasak.”

Keajaiban nyata terjadi; sang ibu sepuh selamat melalui celah jendela dapur, sama sekali tidak menyadari bahwa rumahnya telah tertelan bumi. Entah amalan apa yang ia jaga hingga Tuhan melindunginya dengan cara yang begitu halus.

​”Dimana saya waktu itu ?” Kata ibu wakil gubernur, dalam pidato sambutan pelantikan pengurus wilayah PDGI Sulawesi Tengah. “Saya ada di tepi pantai yang saat itu ada acara”.

Namun karena saat itu menjelang sholat maghrib, saya menyegerakan untuk mendirikan sholat, karena tidak memungkin sholat dilokasi acara itu, saya minta sopir untuk keluar lokasi, saya masih ingat pesan orang tua, jika sudah masuk waktu sholat, minimal kita ambil wudlhu dulu”.

Hanya beberapa menit saya keluar dari lokasi terjadilah peristiwa itu, suara ombak yang mengerikan, lampu dan alat komunikasi mati total, saya hanya bisa bersyukur masih bisa diberi kesempatan melanjutkan hidup, untuk terus mengabdikan diri, melakukan kebaikan kebaikan”

Sebuah pidato yang sungguh luarbiasa dan memyentuh hati. Sebuah sujud yang menyegerakan, ternyata menjadi wasilah keselamatan.

Itulah beberapa kisah yang saya dengar dan saya tangkap, Selama saya berkeliling kota Palu, diantar oleh dokter gigi mawar, melati dan angrek. Jika dibutuhkan mereka pasti mau bersaksi bahwa cerita yang saya sampaikan di atas itu sesuatu yang benar dan sahih.

Subuh di Jumat pagi itu, saya berada dalam masjid yang siapapun akan menitikkan airmata mendengar kisah pembangunannya. Masjid yang juga menjadi korban dari tiga jenis bencana itu.

Masjid baitul khairat kini berdiri megah, bukan saja bangunannya. Tapi jamaahnya begitu perkasa mengisi masjid ini.

Sholat Subuh terasa seperti sholat jumat, jamaah penuh mengisi masjid yang tidak kecil itu. Dalam sejarah saya sholat subuh, selain masjid haromain (mekah madinah) mungkin hanya masjid jogokarian dijogyakarta yang bisa menyamai jumlah jamaahnya. Karena sholat subuh berjamaah dimasjid itu sungguh berat terasa.

Sholat subuh dimulai, sang imam menyampaikan jika nanti di rokaat pertama akan ada sujud tilawah, sang imam mulai rokaat pertama membaca surat as sajadah yang ditengah nya ada ayat sajadah, ayat yang ketika kita baca di sunahkan untuk bersujud tilawah.

Dengan bacaan imamnya yang merdu tidak terasa meski harus berdiri lebih lama dari sholat biasanya. Surat yang intinya bercerita tentang pengingat bagi manusia agar tidak sombong atas asal-usulnya, mengakui kebenaran akhirat, dan memotivasi diri untuk memperbanyak ibadah (khususnya di waktu malam) sebagai bekal menghadapi hari pertemuan dengan Allah.

​Tahukah Anda?

Rasulullah SAW sangat sering membaca Surah As-Sajdah pada rakaat pertama Shalat Subuh di hari Jumat karena maknanya yang sangat mendalam tentang penciptaan dan hari akhir.

Rakaat kedua pun berlangsung tak kalah dahsyat. Setelah Surah Al-Fatihah, sang imam memilih Surah Al-Insan—yang juga dikenal sebagai Surah Ad-Dahr (Waktu). Ketika ayat-ayat yang menceritakan asal-usul manusia itu mulai dilantunkan, air mata ini kembali menetes tak terbendung.

​Sepanjang bacaan, suara sang imam terdengar bergetar hebat. Siapa yang takkan ikut bergetar mendengarnya? Surah tersebut seolah menjadi pengingat tajam bahwa hidup ini hanyalah sebuah ujian. Barangsiapa yang memilih jalan syukur dan peduli kepada sesama, Allah telah menyediakan kemuliaan yang tak terbayangkan di akhirat kelak.

​Jumat pagi itu, di bawah kubah Masjid Baitul Khairat, saya memetik satu pelajaran berharga: bahwa hidup hanyalah sebuah jeda pendek antara satu sujud ke sujud berikutnya.

​“Innamā yu’minu bi’āyātinallażīna iżā żukkirụ bihā kharrụ sujjadaw wa sabbaḥụ biḥamdi rabbihim wa hum lā yastakbirụn.”

*Sekretaris Bidang Organisasi dan Keanggotaan, PB PDGI Periode 2025 sampai dengan 2030