PALU – Kepala Pusat (Kapus) Moderasi Beragama pada Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Drs Islamil Pangeran M.Pd menyatakan, dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, mahasiswa harus dibiasakan mempraktikkan sikap moderat.
“Moderasi Beragama tidak boleh berhenti menjadi slogan atau teks dalam buku materi semata, melainkan harus dipraktekkan,” ucap Ismail Pangeran, di Kota Palu, Sabtu.
Pandangan tersebut juga telah disampaikan Kapus Moderasi Beragama Ismail Beragama Ismail Pangeran dalam Rapat Kerja UIN Datokarama, yang membahas tentang implementasi visi perguruan tinggi tersebut di antaranya tentang optimalisasi moderasi beragama.
Ismail Pangeran mengemukakan, UIN Datokarama sebagai perguruan tinggi yang mengusung visi kampus moderasi beragama, memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan sikap dan intelektual yang moderat pada civitas akademik mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan.
Maka, kata dia, dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya Pendidikan dan pengajaran, pendidikan tentang moderasi beragama jangan hanya sebatas teori di kelas.
“Penerapan Pendidikan moderasi beragama idealnya yaitu 40 persen teori dan 60 persen praktik di lapangan, untuk menumbuhkan sikap moderat mahasiswa,” ungkap Ismail Pangeran yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Palu.
Ismail mengusulkan, setiap mata kuliah moderasi beragama, para mahasiswa diajak untuk mengunjungi rumah – rumah ibadah umat beragama, dan bersilaturahim serta berdialog dengan penganut agama.
Hal ini sekaligus menambah wawasan mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan, tentang keberagaman dan teologi.
“Moderasi beragama bagaimana kita mempertebal rasa kemanusiaan. Mahasiswa harus dibiasakan mempraktikkan sikap moderat: tidak ekstrem kanan, tidak ekstrem kiri, tapi berdiri tegak di tengah demi persatuan,” ungkap Ismail Pangeran.
Ismail Pangeran percaya bahwa para pimpinan UIN Datokarama Palu berkomitmen untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai moderasi dalam setiap aspek kemahasiswaan. Targetnya jelas yaitu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga membumi dengan sikap rendah hati dan inklusif.
“Kampus kita adalah laboratorium perdamaian. Mari kita tunjukkan bahwa dari Palu, kita bisa menginspirasi Indonesia dengan sikap moderat yang nyata,” imbuhnya.***

