Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar perjalanan fisik Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam (SAW), tetapi sebuah titik balik spiritual yang sarat makna, ujian keimanan, dan peneguhan risalah kenabian.

Peristiwa luar biasa ini terjadi pada masa penuh kesedihan bagi Nabi SAW, yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan), setelah wafatnya Sayyidah Khadijah ra. dan Abu Thalib.

Isra Mi’raj terbagi menjadi dua fase utama: yaitu Isra -perjalanan malam dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina) dan Mi’raj: perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha.

Allah Subhanahu Wa Taala berfirman: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1)

Dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menceritakan bagaimana beliau diperjalankan dengan Buraq, bertemu para nabi di setiap lapisan langit—Adam, Isa, Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, hingga Ibrahim ‘alaihimussalam—sebelum akhirnya sampai ke Sidratul Muntaha, tempat yang bahkan malaikat Jibril tidak mampu melampauinya.

Salah satu inti terpenting Isra Mi’raj adalah perintah shalat lima waktu, yang diterima Rasulullah SAW secara langsung tanpa perantara.

Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian diwajibkan atas umatku shalat lima puluh waktu, lalu dikurangi hingga menjadi lima waktu, namun pahalanya tetap seperti lima puluh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan ikatan langsung antara hamba dan Rabb-nya, serta bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Ketika Rasulullah SAW menyampaikan peristiwa Isra Mi’raj kepada kaum Quraisy, banyak yang mencemooh dan menganggapnya mustahil. Namun Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. tanpa ragu berkata: “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar.”

Dari sinilah beliau mendapat gelar Ash-Shiddiq—orang yang membenarkan sepenuhnya.

Peristiwa Isra Mi’raj mengandung banyak pelajaran mendalam, di antaranya:

Ujian akan Datang sebelum Kemuliaan

Isra Mi’raj terjadi setelah fase paling berat dalam hidup Nabi SAW. Ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah datang setelah kesabaran.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Shalat sebagai Mi’raj-nya Orang Beriman

Jika Rasulullah SAW dimi’rajkan secara fisik, maka shalat adalah mi’raj spiritual umat Islam—jalan naiknya ruh menuju Allah.

Keimanan Tidak Selalu Tunduk pada Logika

Tidak semua perkara agama dapat diukur dengan akal semata. Isra Mi’raj mengajarkan taslim (kepasrahan total) kepada kebenaran wahyu.

Masjidil Aqsa Bagian dari Akidah

Isra Mi’raj menegaskan bahwa Masjidil Aqsa bukan sekadar situs sejarah, tetapi bagian dari iman umat Islam.

Kedekatan dengan Allah adalah Tujuan Hidup

Puncak Mi’raj bukanlah perjalanan, tetapi kedekatan dengan Allah dan penyaksian tanda-tanda kebesaran-Nya.

Allah Subhanahu Wa Taala berfirman: “Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 18)

Isra Mi’raj bukan hanya kisah masa lalu, melainkan cermin perjalanan spiritual setiap Muslim. Ia mengajarkan bahwa dalam kesulitan ada kemuliaan, dalam shalat ada perjumpaan, dan dalam keimanan ada ketenangan.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang menjadikan shalat sebagai cahaya, kesabaran sebagai jalan, dan keimanan sebagai pegangan hidup. Wallahu a’lam

RIFAY (REDAKTUR MEDIA ALKHAIRAAT)