PALU – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2026 di Kantor DPD Gerindra Sulteng, Sabtu (14/2).

Rakerda tersebut diikuti seluruh pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Sulteng, anggota legislatif provinsi serta kabupaten/kota. Kegiatan tersebut menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat struktur dan soliditas partai hingga tingkat cabang.

Agenda Rakerda membahas penguatan organisasi, evaluasi kerja politik, serta pemantapan langkah menghadapi agenda politik ke depan.

Namun, yang menarik perhatian dalam forum tersebut adalah hadirnya sejumlah wajah baru tokoh politik bergabung dengan partai berlambang garuda tersebut.

Salah satunya adalah Irwan Lapatta, mantan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Sigi. Ia dipercaya memimpin organisasi sayap Partai Gerindra, yakni Satuan Relawan Indonesia Raya (SATRIA) Sulteng.

Dalam sambutannya, Ketua DPD Gerindra Sulteng, Longki Djanggola menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada Irwan.

“Selamat datang khususnya kepada adik saya Irwan Lapatta. Selamat bergabung dengan Partai Gerindra melalui sayap-sayap partai di Satria,” ujar Longki.

Selain Irwan, Bupati Banggai Kepulauan, Rusli Moidady, juga bergabung dengan Gerindra dan dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPC Gerindra Banggai Kepulauan.

Dikonfirmasi terpisah, Irwan Lapatta menegaskan bahwa dirinya belum resmi menjadi anggota Partai Gerindra karena belum ada Surat Keputusan (SK) diterbitkan.

“Saya ingin meluruskan bahwa sampai hari ini saya belum menjadi anggota Partai Gerindra. Secara formal, keanggotaan itu sah apabila sudah ada SK. Selama SK belum terbit, berarti saya belum tercatat sebagai anggota partai politik mana pun,” tegas Irwan.

Ia menjelaskan, keterlibatannya saat ini sebatas membantu penyusunan kepengurusan SATRIA sebagai organisasi sayap partai, bersifat kemasyarakatan (ormas), bukan partai politik.

“Posisi saya bukan sebagai anggota partai, tetapi di sayap partai seperti SATRIA, PIRA, GEMIRA, GEKIRA, dan TIDAR. Jadi jangan dimaknai lain,” ujarnya.

Irwan mengaku sebelumnya memilih jeda dari aktivitas politik. Namun komunikasi dengan berbagai pihak tetap terjalin, termasuk pertemuannya bersama Abcandra Muhammad Akbar dengan sejumlah kader Gerindra di Jakarta.

“Saya menyampaikan, Bismillah, kalau memang dipercaya dan diberi amanah, saya siap menjalankan tugas itu. Tetapi secara administrasi dan legalitas, saya masih menunggu keputusan resmi,” katanya.

Terkait kepindahannya dari Golkar, Irwan menegaskan bahwa proses tersebut berjalan baik dan tanpa konflik.

“Saya tegaskan, tidak ada yang salah dan tidak ada persoalan dengan Partai Golkar. Semua berjalan sesuai mekanisme dan komunikasi yang baik,” ujarnya.

Ia mengaku telah menyampaikan pengunduran diri secara resmi dan tertulis per 18 saat Musda Golkar Sigi beberapa bulan lalu.

“Sejak hari itu, saya bukan lagi bagian dari Partai Golkar dan sudah bebas menentukan sikap politik ke mana pun. Tidak ada lagi keterikatan secara struktural maupun administratif,” jelasnya.

Irwan memaparkan bahwa selama ini ia memiliki jaringan relawan dan sahabat perjuangan telah dibina sekitar 12 tahun, dengan jumlah terdata lebih dari 2.100 orang dan basis jaringan solid di Sigi, sedangkan Sulteng hampir mendekati 10 ribu orang.

“Ke depan, jika ada ingin berafiliasi atau masuk ke struktur organisasi tertentu, tentu mengikuti mekanisme yang ada. Saya tidak menduduki dua posisi di dua tempat sekaligus. Kalau nanti masuk secara resmi, tentu jelas dan formal,” tegasnya.

Ia kembali menekankan bahwa seluruh proses dijalaninya merupakan dinamika politik wajar dan terbuka.

“Semua ini berjalan secara terbuka dan tidak ada konflik dengan pihak mana pun. Saya hanya mengikuti proses dan dinamika politik wajar,” pungkasnya.

REPORTER : **/IKRAM