SIGI – Ironi dirasakan warga Desa Pandere, Kecamatan Gumbasa. Di tengah aliran Sungai Saluki dan Sungai Gumbasa yang menjadi sumber utama Sistem Jaringan Air Baku Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala), masyarakat setempat justru belum menikmati air bersih dari proyek tersebut.
Padahal, jaringan pipa berukuran besar yang menyalurkan air baku itu melintas tepat di depan rumah-rumah warga. Namun hingga kini, air yang diambil dari wilayah mereka hanya mengalir ke daerah lain.
Moh Nur, warga Desa Pandere, Jumat mengungkapkan, sejak diresmikannya penggunaan air baku Pasigala oleh menteri beberapa waktu lalu, masyarakat setempat belum merasakan manfaatnya.
“Warga Pandere di musim kemarau saat ini susah mendapatkan air bersih dan selama ini hanya mengharapkan mata air dari pegunungan,” keluhnya melalui media ini, Jumat (17/4).
Kondisi ini semakin memprihatinkan saat musim kemarau tiba. Di saat daerah lain mulai menikmati suplai air dari Pasigala, warga Pandere masih bergantung pada sumber air alami yang terbatas.
Menurut Moh Nur, situasi ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Pasalnya, sumber air yang digunakan berasal dari Sungai Gumbasa yang berada di wilayah mereka sendiri.
“Inikan lucu, masa air yang di ambil dari sungai Gumbasa yang ada di Desa Pandere kita tidak bisa nikmati, sementara di Kota Palu sudah menikmati air tersebut, jadi ini perlu ada keadilan,” tegasnya.
Pemerintah desa, lanjutnya, telah berupaya melakukan koordinasi dengan pihak terkait mengenai akses air bersih bagi warga. Namun hingga saat ini belum ada kepastian kapan masyarakat Desa Pandere dapat menikmati air dari sistem Pasigala tersebut.
Situasi ini memperlihatkan kesenjangan yang dirasakan warga di sekitar sumber daya itu sendiri. Di satu sisi, air dari Sungai Gumbasa menjadi penopang kebutuhan daerah lain, namun di sisi lain, masyarakat di sekitar sumber justru masih kesulitan mendapatkan air bersih.
Warga pun berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait agar distribusi air dapat lebih adil, sehingga masyarakat Desa Pandere tidak lagi hanya menjadi penonton di tengah melimpahnya sumber air di wilayah mereka sendiri.

