PALU – Guru Besar sekaligus Pakar Pemikiran Islam Modern Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Profesor Zainal Abidin mengemukakan Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi momentum penting untuk mengasah dan meningkatkan toleransi antar-umat beragama dan persatuan antar-sesama manusia dalam Kebhinekaan.

Profesor Zainal Abidin dilibatkan oleh Universitas Tadulako (Untad) Palu untuk menjadi Khatib pada Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah yang akan dilaksanakan oleh perguruan tinggi tersebut pada Sabtu 21 Maret 2026.

Profesor Zainal Abidin yang merupakan Mantan Ketua STAIN Datokarama dan Mantan Rektor IAIN Palu, akan menyampaikan khutbah tentang “menghormati perbedaan, memantapkan toleransi dan persatuan dalam bingkai Kebhinekaan”.

Profesor Zainal Abidin menyatakan, menciptkan dan meningkatkan toleransi sosial harus dengan memperbaiki hubungan bertetangga, dari hal yang kecil, berbagi makanan dengan niat ikhlas dan kejujuran sikap.
“Dan itu secara universal dianjurkan oleh ajaran agama-agama dunia. Nabi dan para sahabatnya memberi contoh yang
begitu agung dan indah mengenai hal ini,” ujarnya.

Kata dia, hubungan antar umat beragama berada pada tataran hubungan sosial kemasyarakatan tidak memasuki wilayah
akidah, karena tiap-tiap agama punya garis batas untuk wilayah akidah ini. Begitu pula dalam Islam ada pembeda dan itu perlu dihormati dengan cara tidak dicampuradukkan yang mengakibatkan disharmoni.

“Islam punya perinsip yang jelas, ”lakum dienukum waliyadiyn” bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Soal kepercayaan
adalah soal masing-masing dan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan di akhirat kelak,” ucap Profesor Zainal Abidin.

“Tugas kita adalah berupaya agar harmoni tetap terjaga dan kerukunan dapat ditumbuh kembangkan. Tugas kita bukanlah untuk membuktikan bahwa agama kita yang paling benar, tetapi untuk menunjukan bahwa kita mampu menebar kebajikan kepada sesama makhluk Tuhan, karena kita adalah umat yang beragama,” imbuhnya.

Zainal Abidin menguraikan, salah satu sifat yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagai pengejawantahan dari misi kerahmatan yang diemban oleh beliau adalah sikap toleransi. Kita sebagai umat Muhammad adalah penerus pengemban misi tersebut.

Menurut dia, sikap saling menghormati dan menghargai sesama warga masyarakat serta tidak saling mencurigai adalah cerminan dari seorang Muslim sejati. Sikap ini pun diteladankan oleh Nabi Muhammad saw, antara lain, misalnya, ketika lewat iringan jenazah seorang Yahudi, Rasulullah berdiri untuk memberi penghormatan.

Bahkan, kata dia, tidak dapat disangkal, ditolak, apalagi dinafikan bahwa kebhinekaan dalam segala hal di dunia ini adalah fakta yang tak terbantahkan.

“Bahkan, merupakan sunnatullah dan bagian dari tanda-tanda Kemahakuasaan Tuhan. Dia-lah yang betul-betul Esa, dan selain-Nya mengandung kebhinekaan. Bentuk kebhinekaan yang terlihat sangat jelas dan terkait langsung dengan manusia di muka bumi ini adalah kebhinekaan dalam pikiran, budaya, bahasa, ras, etnis, suku, bangsa, warna kulit, adat istiadat, agama, kecenderungan politik, dan sebagainya,” ungkapnya.

Profesor Zainal Abidin mengimbau, biarlah ada perbedaan keyakinan. Biarlah masing-masing memiliki cara berdoa sendiri-sendiri. Biarlah Tuhan disebut dengan bermacam-macam nama. Biarlah Tuhan dilukiskan dengan bermacam-macam bentuk. Biarlah kemuliaan Tuhan dinyanyikan dalam semua bahasa dan dalam keanekaragaman lagu. Biarlah semua tumbuh dengan subur karena yang kita cari sesungguhnya adalah rahmat Tuhan.***