OLEH : Dr. Gani Jumat, M.Ag*

Hari ini kita sebut idul fitri. Kata id terambil dari akar kata yang berarti kembali, yakni kembali ke tempat atau ke keadaan semula.

Ini berarti bahwa sesuatu yang kembali pada mulanya berada pada suatu keadaan atau tempat, kemudian meninggalkan tempat atau keadaan itu, lalu kembali lagi ke tempat dan keadaan semula.

Nah, apakah tempat dan keadaan semula itu ? hal ini dijawab oleh kata alfithr, yang berarti; asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian.

Kesuacian adalah gabungan dari tiga unsur; benar baik dan indah.

Maka seseorang yang beridul fithri dalam arti “kembali ke kesuciannya” akan selalu berbuat yang benar baik dan indah. Juga penting disadari bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan, dan dari kesadarannya itu ia bersedia untuk memberi dan meminta maaf.

Sehingga idul fitri bukanlah pesta anti- klimaks untuk melepaskan hawa nafsu setelah sebulan lamanya dikekang dan dikendalikan, namun ia ibarat hari WISUDA bagi mereka yang telah berhasil meraih prestasi dalam upaya mengembalikan keseimbangan jiwa dengan menempatkan kekuatan nuraninya yang bening untuk memegang kendali hidup.

Selama satu bulan kita berusaha membersihkan diri dan hati kita, dari niat yang buruk, dendam, benci, hasut, iri hati, dan penyakit hati lainnya; membersihkan kehormatan kita dari prilaku maksiat, dosa dan kefasikan; dan akhirnya mensucikan harta kita dari barang-barang yang haram dan syubhat dengan mengeluarkan zakat fitrah dan zakat mal.

Puasa adalah proses tazkiyatunnafs (pembersihan diri). Allah berfirman:

Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya (dengan beriman) (14). Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat (15). Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia (16). Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal (17). Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu (18). Yaitu, kitab-kitab Ibrahim dan Musa (19). (QS. Al-A’la: 14-19).

Prestasi penyucian diri tersebut akan mempermudah turunnya rahmat dan hidayah Allah swt kepada seseorang sehingga buah latihan spiritual selama bulan Ramadan dapat menjadi sumber kekuatan dan pelita hidup menuju kehidupan yang lebih bermakna ketimbang tahun yang lalu.

Salah satu target puasa Ramadan adalah untuk menghayati ajaran Islam bahwa Tuhan itu Maha Dekat, Dia selalu mengawasi dan membimbing serta melindungi setiap hamba-Nya yang bermohon kepada-Nya dengan segala kesungguhannya.

Melalui ibadah puasa (menunda kesenangan), seseorang diajak menghayati harkat dan marftabat kemerdekaannya dan menyadari bahwa manusia pada dasarnya makhluk yang bermoral dan beradab, selalu damba pada akhlak mulia serta ingin selalu memegang amanat.

Dengan menyadari harkat kemerdekaannya itu, maka amal ibadah yang dilakukan seseorang seperti membaca alquran, tarawih, infaq, shadaqah, zakat, juga membagikan THR (Tunjangan Hari Raya), sama sekali bukan karena mengharapkan pujian dan sanjungan dari orang lain, tetapi semata-mata karena setia pada hati nurani (fithrah) dan rasa malu kepada Allah swt.

Puasa adalah cara Allah melatih setiap mukmin untuk berlaku jujur dan memiliki rasa malu sehingga nuraninya bisa tampil menjadi hakim yang jujur,-mampu menegur diri sendiri jika tergoda bebuat kehinaan-.

Dengan demikian, mereka yang mengaku berpuasa, tetapi masih saja melakukan korupsi dan tindak kecurangan, keculasan lain dalam setiaap objek kerja kita sebagai apapaun; dosen, ustadz, pejabat, pedagang, petani, pengusaha, supir, dll., serta tidak lagi memiliki rasa malu, maka kualitas dan dampak moralitas puasanya perlu di ragukan.

Jika nurani seorang pejabat misalnya, telah tumpul, rasa malu telah sirna, dan kemudian diganti oleh sikap serakah dan arogan, maka yang merugi tidak hanya yang bersangkutan, tetapi rakyat yang dipimpinnya akan turut serta menanggung sengsara.

Mari kita belajar kepada Panglima Besar Jenderal Soedirman..

Sesaat sebelum perang gerilya berkobar, beliau jatuh sakit. Namun beliau minta izin kepada istrinya agar mengikhlaskan barang-barang perhiasan milik pribadi istrinya dijual untuk menambah biaya perang gerilya.

Padahal barang-barang perhiasan itu merupakan pemberian dari mertua Jenderal Sudirman buat istrinya, bukan mahar kawin pemberian dari Jenderal Sudirman sebagai suami.

Bisa dibayangkan, sebagai seorang Panglima Besar menggunakan harta milik pribadi istrinya untuk kepentingan perang memperjuangan Indonesia merdeka.

Bandingkanlah dengan kita sekarang sebagai apapun status kita; sebagai dosen, ustadz, pejabat, aparat keamanan dll.

Mampukah kita meneladani kecerdasan akhlak moral seperti Jenderal Sudirman? Jika tidak,.

Maka seorang pejabat akan melihat kumpulan rakyat kecil sebagai angka yang dapat dikalikan dengan satuan biaya dan menghasilkan proyek milyaran rupiah.

Tetapi ia tidak mampu memandang butir-butir air mata kepedihan dan ketertindasan di balik mata-mata yang cekung dan ungkapan kemiskinan di sela-sela tulang rusuk yang mencuat.

Seorang ilmuan akan mampu melihat keteraturan di alam semesta, tetapi tidak mampu menyimak dan merasakan kehadiran sang pencipta di balik semua keteraturan itu.

Seorang dokter segera dapat melihat gejala-gejala penyakit pasiennya, tetapi tidak mampu melihat sentuhan kemanusiaan dan kasih sayang di dalamnya, sehingga ia hanya memandang pasien sebagai sebongkah tubuh kasar yang dapat dikalikan dengan jutaan rupiah biaya periksa dan obat-obatan.

Seorang ahli hukum segera dapat mengetahui pasal mana yang dapat dipakai untuk memenangkan sebuah perkara, tetapi buta dengan pesan-pesan keadilan sehingga klien berubah menjadi sapi perahan yang menguntungkan. (Kang Jalal, Renungan Sufistik, 2008).

Kita tidak bisa menyelamatkan dunia hanya dengan sebuah sistem.

Karena itu, kedamaian tidak bisa diraih tanpa kedermawanan, keteraturan sosial tidak dapat diwujudkan tanpa kehadiran orang-orang suci, para ulama, sufi, dan para nabi.

Tidak ada suatu sistem sosial, teori, ideologi, atau apapun namanya dapat menyelamatkan dunia dari krisis musibah yang berkepanjangan-kita memerlukan orang-orang suci dari para ulama dan umara (pemimpin) yang jujur yang dengan sinar ruhaninya memancarkan kasih sayang dan menerangi kegelapan.

Salah satu pesan moral ibadah puasa adalah jangan jadikan perut anda sebagai kuburan orang lain.

Jangan jadikan perut anda sebagai kuburan rakyat kecil. Jangan pindahkan tanah dan ladang milik mereka ke dalam perut anda. Itulah pesan moral ibadah puasa yang sangat relevan dengan kondisi sebagian orang yang terlalu berambisi mengejar kehidupan dunia dengan berbelanja barang-barang yang tidak bermanfaat dan dikejar-kejar untuk meningkatkan status sosial.

Allah berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (1); Sampai kamu masuk ke dalam kubur (2).Hati-hatilah, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) (3). Dan berhati-hatilah, kelak kamu akan mengetahui (4). Sungguh seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin (5). Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim(6). Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘Ainul Yaqin (7). Kemudian kamu pasti ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia) (8). (QS:Al-Takatsur, 1-8)

Attakatsur, adalah persaingan antar dua pihak atau lebih dalam hal memperbanyak hiasan dan kegemerlapan hidup dunia serta berusaha untuk memilikinya sebanyak mungkin tanpa menghiraukan norma dan nilai-nilai agama.

Para pakar agama berpendapat bahwa persaingan yang dimaksud adalah memperbanyak harta benda, kekuasaan dan pengaruh di masyarakat.

Menumpuk harta, kekuasaan dan pengaruh, apabila motivasinya untuk persaingan, maka ia tidak pernah berakhir kecuali dengan kematian.

Karena yang bersaing tidak pernah puas, selalu saja terbayang dalam benaknya harta, kedudukan yang lebih tinggi, serta pangikut dan pengaruh yang lebih besar, lebih fanatik dan radikal sekalipun, bahkan lebih besar dari apa yang telah diperolehnya. (Quraish, Tafsir Ayat pendek)

Islam tidak menghalangi umatnya untuk memiliki dan menikmati anugerah Allah yang diperolehnya secara wajar dan halal. Yang dikecam oleh agama hanyalah perlombaan dan persaingan yang tidak sehat serta menjadikan seseorang melupakan kenikmatan yang lebih besar dan kekal abadi di hari kemudian.

Dari takatsur ini, lahirlah tiga penyakit rohani yaitu, sombong, dengki dan dendam.

Karena takatsurlah kita menjadi takabur. Karena kita merasa kekayaan kita banyak, kita cenderung meremehkan orang lain.

Rasa sayang kepada mereka yang nasibnya lebih malang berubah menjadi kebencian. Kita lemparkan sumpah serapah kepada mereka kaum fuqara dan masakin.

Kita usir mereka karena kita anggap mengganggu kesibukan-kesibukan kita. Kita lupa bahwa Allah telah mengamanatkan harta kepada kita untuk menyayangi mereka.

Attakatsur juga menyuburkan rasa dengki, ketika kita melihat orang lain lebih kaya, lebih berpengaruh, lebih populer dan lebih dihormati dari kita, kita menjadi marah.

Dengan segala cara kita menjatuhkan mereka, kita sebarkan aib mereka. Terkadang kita tidak segan-segan mengunjing, menfitnah membuat berita dusta diberbagai media sosial.

Lalu ketika lawan kita jatuh, kita tersenyum bangga. Ketika mereka celaka, kita merasa bahagia.

Bahaya takatsur yang paling besar ialah dendam. Kita membenci orang yang telah mengalahkan kita dan berusaha membalas kekalahan kita dengan mencelakakan mereka.

Kita berubah dari makhluk Allah yang dititipi seperseratus rahmat-Nya menjadi hamba setan dengan ratusan tipuan.

Seperti iblis yang tertawa gembira melihat manusia yang diperdayakannya celaka, demikian pula seorang pendendam terhadap orang yang didendamnya.

Mari kita hilangkan kesombongan, kedengkian dan kebencian. Agar kita tidak termasuk orang yang bangkrut tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat nanti. Riwayat berikut ini mengingatkan kita bahwa:

Nabi Muhammad Saw, pernah bertanya kepada para sahabatnya, tahukah kalian siapa orang orang yang bangkrut itu?

Para sahabat menjawab, bagi kami yang bangkrut itu ialah orang yang kehilangan hartanya dan seluruh miliknya.

Tidak, kata Rasulullah, orang yang bangkrut ialah, yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala dari puasanya, pahala zakat dan hajinya,tetapi ketika seluruh pahala itu di timbang datanglah sekelompok orang mengadu; ya Allah dahulu orang ini pernah menuduhku berbuat sesuatu kejahatan padahal aku tidak melakukanya. Kemudian Allah menyuruh orang yang diadukan itu untuk membayar orang yang mengadu dengan sebahagian pahala dan menyerahkannya kepada orang yang mengadu tersebut. Kemudian datang lagi orang mengadu, ya Allah, hakku pernah di ambil dengan sewenang-wenang.’

Lalu Allah menyuruh membayar dengan amal salehnya lagi kpada orang yang mengadu itu.”

Setelah itu datang lagi orang yang lain mengadu; sampai seluruh pahala shalat, puasa, haji, dan zakatnya habis dipakai untuk membayar orang yang pernah haknya dirampas, yang pernah disakiti hatinya, yang pernah dituduh bemaksiat tanpa pembuktian yang jelas.

Semuanya dia bayarkan sampai tidak tersisa lagi pahala amal salehnya, akan tetapi orang yang mengadu kepada Allah masih terus berdatangan juga.

Akhirnya, Allah memutuskan agar kejahatan orang-orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu.”

Kata Rasulullah selanjutnya: Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat.: yaitu orang yan rajin melaksanankan shalat, puasa, zakat, haji, akan tetapi dia tidak memliki akhlak yang baik justru pada saat yang sama dia merampas, menzhalimi, menindas dan mengambil hak-hak orang lain dan menyakiti hati mereka.(Shahih Al-Bukhari). Wallahu A’lam bi al-Shawab.

*Dekan FSAINTEK UIN Datokarama Palu/Khatib Idul fitri. Sabtu, 1 Syawal 1447 H, di Lapangan Sepak Bola Mini, Jalan Dayodara, Talise Valangguni