Oleh: SM Syams*

SEBELUM peringatan 13 April besok, suasana memang mulai terasa berbeda. Informasi kegiatan, agenda perayaan, hingga persiapan teknis menjadi bagian dari percakapan publik.

Namun di saat yang sama, ada percakapan lain yang tidak kalah nyata.

Di pasar tradisional, orang masih berbicara tentang harga kebutuhan. Di ruang keluarga, pembahasan lebih sering berkisar pada biaya hidup, pendidikan anak, dan keberlanjutan penghasilan. Ada pula kegelisahan yang tidak selalu diucapkan, tetapi dirasakan, tentang akses yang belum sepenuhnya merata.

Perayaan ulang tahun Sulawesi Tengah tahun ini memang meriah. Namun kehidupan masyarakat tidak sepenuhnya bergerak mengikuti irama perayaan. Ia berjalan dengan ritmenya sendiri, dengan persoalan yang lebih sunyi tetapi lebih nyata. Di situlah perayaan perlu dibaca dengan lebih dalam, bukan hanya sebagai peristiwa, tetapi sebagai cermin.

Dari Program ke Kehidupan: “BERANI” dalam Lanskap yang Lebih Luas

Program “BERANI” hadir sebagai arah pembangunan yang ingin menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Ia lahir dari proses politik, tetapi ditujukan untuk kehidupan sosial yang nyata.

Namun dalam kenyataannya, kehidupan masyarakat tidak berdiri dalam satu dimensi. Ia dipengaruhi oleh banyak faktor sekaligus, ekonomi, sosial, geografis, hingga dinamika global yang tidak selalu terlihat.

Sulawesi Tengah hari ini tidak hanya berbicara tentang program pemerintah, tetapi juga tentang ketimpangan wilayah, tantangan pasca-bencana, dinamika urbanisasi, serta perubahan sosial akibat teknologi dan mobilitas. Maka membaca program tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus dilihat dalam lanskap kehidupan yang lebih luas.

Janji yang Pernah Ditanam, dan Harapan yang Terus Bergerak

Program “BERANI” tetap menjadi simbol harapan. Ia memberi arah bahwa pemerintah berupaya hadir dalam berbagai sektor kehidupan.

Dalam pengalaman masyarakat, beberapa program mulai terasa. Skema beasiswa Berani Cerdas, misalnya, telah membuka peluang bagi sebagian generasi muda untuk melanjutkan pendidikan.

Bagi banyak keluarga, ini bukan sekadar bantuan, tetapi jalan harapan yang sebelumnya terasa jauh.

Di sektor kesehatan, upaya peningkatan layanan dasar mulai menunjukkan arah yang lebih baik, meskipun belum merata. Sementara di sektor ekonomi, kegiatan berbasis UMKM seperti expo memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk tumbuh, walau masih dalam lingkup momentum.

Ini adalah capaian yang patut diapresiasi. Namun harapan tidak berhenti di situ. Masyarakat mulai berharap agar akses pendidikan dapat menjangkau seluruh jenjang hingga perguruan tinggi lanjutan seperti S2 dan S3. Demikian pula layanan kesehatan dan ekonomi diharapkan tidak hanya hadir dalam titik-titik tertentu, tetapi merata dan berkelanjutan.

Sebagian telah merasakan. Sebagian masih menunggu. Dan keduanya adalah bagian dari realitas yang harus dipahami dengan jujur.

Ekonomi Rakyat: Antara Momentum dan Ketahanan

Perayaan dan kegiatan besar memang mampu menggerakkan ekonomi dalam waktu singkat. Ini adalah hal yang wajar dan positif. Namun kehidupan ekonomi masyarakat tidak dibangun dari momentum semata. Ia tumbuh dari kesinambungan. Banyak pelaku usaha kecil hidup dari perputaran harian yang tidak mengenal jeda.

Dalam konteks ini, tantangan yang dihadapi bukan hanya bagaimana menciptakan keramaian ekonomi, tetapi bagaimana menjaga agar ekonomi tetap bergerak setelah keramaian usai. Di sinilah program diuji dalam dimensi yang lebih dalam.

Realitas Sosial: Lapisan yang Tidak Selalu Terlihat

Kehidupan masyarakat memiliki lapisan yang tidak selalu tampak di permukaan. Isu pendidikan, kesehatan, dan akses layanan dasar masih menjadi bagian dari realitas sehari-hari.

Di beberapa wilayah, faktor geografis masih menjadi tantangan. Di sisi lain, wilayah perkotaan menghadapi tekanan biaya hidup yang terus meningkat. Ditambah lagi dengan dinamika global, seperti ketidakpastian ekonomi dunia dan fluktuasi harga komoditas, yang secara tidak langsung memengaruhi kondisi daerah.

Semua ini membentuk realitas yang kompleks. Dan di dalam kompleksitas itulah kebijakan publik bekerja.

Kritik yang Tidak Selalu Berisik

Dalam masyarakat, kritik tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras. Ia sering muncul dalam bentuk perbandingan, harapan, atau bahkan diam yang panjang. Sebagian masyarakat mulai melihat jarak antara program dan pelaksanaan. Bukan untuk menolak, tetapi untuk memahami.

Dalam kajian pembangunan, kondisi ini sering disebut sebagai jarak antara desain kebijakan dan implementasi. Sesuatu yang wajar terjadi, tetapi tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Kritik yang muncul seharusnya dibaca sebagai bagian dari proses perbaikan.

Menjaga Arah di Tengah Ketidakpastian

Pembangunan membutuhkan waktu. Dan waktu membutuhkan konsistensi. Di sinilah muncul kekhawatiran yang wajar di masyarakat, tentang keberlanjutan. Apakah program yang telah dimulai akan terus berjalan dan berkembang, atau akan berubah mengikuti dinamika kepemimpinan yang berubah.

Kepercayaan publik sangat bergantung pada kepastian ini. Ketika arah terjaga, masyarakat akan ikut menjaga. Namun ketika arah terasa berubah, kepercayaan pun perlahan ikut goyah. Bukan karena masyarakat menolak, tetapi karena mereka membutuhkan kepastian.

Refleksi yang Lebih Luas: Bukan Hanya Tentang Pemerintah

Pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada pemerintah. Ia tumbuh dari keterlibatan semua pihak, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, dan generasi muda. Namun pemerintah tetap menjadi penentu arah. Dan arah yang baik akan melahirkan partisipasi yang baik.

Di titik ini, perayaan seharusnya menjadi ruang kesadaran bersama. Bahwa kemajuan bukan hanya tentang program, tetapi tentang nilai yang dijaga bersama, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.

Penegasan Makna: Antara Panggung dan Kehidupan

HUT ke-62 Sulawesi Tengah adalah momentum yang penting. Ia membawa kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab. Dan yang perlu dijaga adalah keseimbangan, antara merayakan dan memperbaiki, antara optimisme dan kejujuran.

Karena pada akhirnya, sebuah daerah tidak diukur dari seberapa meriah ia merayakan hari jadinya, tetapi dari seberapa dalam ia memahami dirinya.

Penutup Sebagai Suatu Penegasan

Perayaan akan selesai. Panggung akan dibongkar. Lampu akan dipadamkan. Namun kehidupan masyarakat akan tetap berjalan seperti biasa. Di situlah sesungguhnya ukuran keberhasilan itu berada. Bukan pada seberapa besar acara dilaksanakan, tetapi pada seberapa jauh dampaknya tinggal setelah semuanya usai.

Jika “BERANI” benar-benar ingin menjadi arah, maka ia harus hidup di luar panggung, hadir dalam kebijakan yang konsisten, dan terasa dalam kehidupan yang nyata. Karena sejarah tidak mencatat seberapa meriah sebuah perayaan, tetapi seberapa jujur sebuah perjalanan dijalankan.

Selamat berulang tahun Sulawesi Tengah ke-62, semoga setiap langkah hari ini menjadi pijakan yang kokoh menuju masa depan, menjadi batu loncatan menuju provinsi terdepan di Indonesia, yang tidak hanya maju dalam angka, tetapi juga matang dalam nilai dan kemanusiaan.”

Palu, 12 April 2026

“Yang dirayakan akan berlalu, tetapi yang dirasakan akan tinggal. Sebuah daerah menjadi besar bukan karena sorak-sorai, tetapi karena kesungguhan yang tidak berhenti.

Penulis adalah Akademisi dan Pemerhati Refleksi Sosial Kemasyarakatan Palu