Oleh: SM Syams*

PERAYAAN sering kali menghadirkan wajah terbaik dari sebuah daerah. Angka pertumbuhan ditampilkan, capaian dipamerkan, dan optimisme disusun dalam narasi yang rapi. Namun kehidupan tidak selalu bergerak dalam panggung yang sama. Ada realitas lain yang tidak ikut dirayakan, tetapi justru menentukan arah masa depan. Sulawesi Tengah yang kini berusia 62 tahun sedang berdiri di antara dua wajah: satu wajah yang dirayakan, dan satu wajah yang lainnya perlahan mengkhawatirkan.

Ketika Data Menjadi Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan

Fakta menunjukkan bahwa Sulawesi Tengah termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan narkoba yang tinggi secara nasional. Ratusan kasus terungkap dalam satu tahun, dengan barang bukti dalam jumlah besar. Lebih dari itu, ribuan pengguna berasal dari kalangan usia produktif dan pelajar. Ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi persoalan generasi. Jika sebuah daerah kehilangan kualitas generasinya, maka ia sedang kehilangan masa depannya secara perlahan.

Ironi Perayaan: Ketika yang Dirayakan Tidak Menyentuh yang Terancam

Perayaan ulang tahun daerah sering menonjolkan keberhasilan pembangunan fisik dan ekonomi. Namun jarang sekali menyentuh kualitas manusia yang menjadi inti dari keberlanjutan itu sendiri. Di sinilah ironi itu muncul. Kita merayakan pertumbuhan, tetapi mengabaikan keretakan yang terjadi di dalam generasi muda. Padahal, kemajuan tanpa manusia yang sehat hanyalah kemajuan yang rapuh.

Makna Kemanusiaan: Generasi yang Perlahan Kehilangan Arah

Narkoba tidak menghancurkan secara instan. Ia bekerja dalam diam, melemahkan daya pikir, mengikis kesadaran, dan mengaburkan tujuan hidup. Generasi muda yang terpapar tidak hanya kehilangan masa kini, tetapi kemungkinan juga akan kehilangan masa depannya. Dan ketika jumlahnya semakin banyak, maka yang terancam bukan lagi individu, melainkan keberlanjutan sosial itu sendiri bahkan wilayah atau Negara.

Ketika Ketergantungan Berubah Menjadi Ancaman Sosial

Salah satu dampak paling nyata dari penyalahgunaan narkoba adalah meningkatnya tindak kriminalitas. Ketergantungan menciptakan kebutuhan yang mendesak, sementara kemampuan ekonomi tidak selalu mampu mengikutinya. Dalam kondisi ini, sebagian pengguna terdorong melakukan tindakan kriminal seperti pencurian, perampasan, hingga kekerasan. Fenomena ini menunjukkan bahwa narkoba tidak hanya merusak individu, tetapi juga mengganggu stabilitas sosial. Rasa aman masyarakat menjadi taruhannya.

Pragmatisme dan Jalan Pintas yang Menyesatkan

Di tengah tekanan ekonomi dan perubahan sosial, muncul kecenderungan pragmatisme yang semakin kuat. Hasil menjadi lebih penting daripada proses. Sebagian orang melihat narkoba bukan hanya sebagai konsumsi, tetapi sebagai peluang ekonomi instan. Dalam beberapa situasi, relasi sosial bahkan menjadi ruang perlindungan yang tidak disadari. Pembiaran terjadi, dan perlahan menjadi kebiasaan.

Ketika Diam Menjadi Bagian dari Masalah

Banyak kasus narkoba tidak muncul ke permukaan karena tertutup dalam lingkup keluarga. Rasa takut terhadap stigma membuat masalah disimpan rapat. Padahal, keterlambatan penanganan sering kali membuat kondisi semakin parah. Ketika kejujuran tidak hadir, maka penyelesaian menjadi sulit. Dan ketika banyak pihak memilih diam, maka masalah menjadi kolektif.

Kelemahan Sistemik: Antara Upaya dan Tantangan Integritas

Pengungkapan kasus menunjukkan bahwa penegakan hukum berjalan. Namun kompleksitas jaringan narkoba, menuntut konsistensi yang lebih kuat. Secara umum, tantangan mencakup keterbatasan sumber daya dan dinamika sosial yang tidak sederhana. Kepercayaan publik menjadi fondasi utama. Tanpa itu, upaya pemberantasan akan kehilangan daya dorongnya.

Dua Dunia dalam Satu Daerah

Di satu sisi, ruang-ruang elite berbicara tentang kemajuan, pembangunan, dan masa depan yang cerah. Narasi disusun dengan rapi, penuh optimisme. Namun di sisi lain, masyarakat di lapisan bawah menghadapi realitas yang berbeda. Lingkungan yang rentan, pergaulan yang tidak sehat, serta tekanan hidup membuka ruang bagi narkoba untuk masuk. Kesenjangan ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal perhatian. Ketika realitas di bawah tidak benar-benar dipahami, maka kebijakan sering kali tidak menyentuh akar persoalan. Akibatnya, ada jarak antara apa yang dibicarakan dan apa yang benar-benar terjadi.

Krisis Keteladanan: Ketika Arah Tidak Lagi Jelas

Generasi muda membutuhkan contoh nyata. Ketika keteladanan melemah, maka standar nilai menjadi kabur. Dalam kondisi ini, generasi mudah kehilangan pegangan. Mereka mencari arah sendiri, sering kali tanpa fondasi yang kuat. Dan ketika arah itu tidak jelas, maka pilihan yang salah menjadi lebih mungkin terjadi.

Pudarnya Pengendali Sosial dari Dalam dan Kehidupan yang Kehilangan Makna

Nilai-nilai budaya yang dahulu menjadi benteng sosial perlahan melemah. Rasa malu sebagai pengendali diri tidak lagi sekuat sebelumnya. Ketika kontrol internal melemah, maka kontrol eksternal menjadi tidak cukup. Masyarakat kehilangan kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri. Di balik semua ini, ada kekosongan batin yang tidak terlihat. Kehidupan yang kehilangan arah membuat manusia mudah mencari pelarian instan. Narkoba menawarkan ketenangan semu. Namun ia tidak pernah menyelesaikan masalah dan ketika manusia jauh dari nilai yang menuntunnya, maka ia menjadi mudah terjatuh dalam pilihan yang merusak.

Refleksi Keterhubungan: Ulang Tahun sebagai Momentum Kejujuran

Ulang tahun ke-62 Sulawesi Tengah seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan sekadar seremoni. Krisis narkoba adalah bagian dari masa depan daerah. Ia tidak bisa dipisahkan dari narasi pembangunan. Merayakan tanpa menyadari ancaman adalah bentuk kelalaian yang halus.

Penegasan Makna: Ancaman Kehilangan Generasi dan Identitas

Jika generasi hari ini tidak terselamatkan, maka yang hilang bukan hanya masa depan, tetapi juga identitas itu sendiri. Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang, Sulawesi Tengah tetap ada secara nama, tetapi kehilangan jiwa generasinya. Generasi yang hidup tanpa arah, tanpa kesadaran, bahkan tanpa keterikatan dengan nilai dan sejarahnya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, perayaan tidak lagi sekadar kehilangan makna, tetapi kehilangan subjek yang merayakannya. Sebuah daerah bisa tetap berdiri, tetapi diisi oleh manusia yang terasing dari dirinya sendiri. Dan di situlah ancaman terbesar itu menjadi nyata.

Palu, 12 April 2026

“Selamat ulang tahun Sulawesi Tengah ke-62, semoga usia ini tidak hanya dirayakan, tetapi disadari sebagai tanggung jawab untuk menyelamatkan generasi. Sebab ketika generasi runtuh, maka peradaban tidak lagi hanya kehilangan arah, tetapi juga akan kehilangan masa depannya.”

*Penulis adalah Akademisi dan Pemerhati Refleksi Sosial Kemasyarakatan Palu