PALU – Beberapa wilayah Sulawesi tengah sering dilanda hujan deras beserta angin kencang. Selain berdampak pada wilayah pemukiman, cuaca buruk juga memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat pesisir dengan berkurangnya hasil tangkapan para nelayan.
Salah seorang pedagang ikan bernama Haeruddin, mengatakan, kurangnya pasokan ikan diakibatkan cuaca dan angin kencang sehingga beberapa langganan mereka tidak turun melaut.
“Ikan mulai kurang sejak tahun baru kemarin. Karena cuaca di laut tidak mendukung, angin kencang sehingga jadi kendala nelayan tidak melaut,” kata Haerudin di pasar inpres Manonda, Selasa.
Selain kurangnya stok ikan dipasar, hal tersebut berdampak dengan harga ikan melonjak naik.
Ia mengatakan, ikan biasanya mereka beli berasal dari wilayah Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong.
“Kalau ikan agak besar seperti cakalang (tongkol) itu biasanya diambil dari Kabupaten Donggala, kalau ikan katombo (kembung) biasa dari Kecamatan Ampibabo di Kabupaten Parigi Moutong,” ujarnya.
Haeruddin mengatakan, sejak awal Januari hingga saat ini, harga ikan dipasaran melonjak naik hingga dua kali lipat dari harga biasanya.
“Seperti ikan katombo (kembung) yang semulanya seharga 30 Ribu hingga 40 Ribu perkilo naik menjadi 60 Ribu hingga 70 Ribu perkilo,” katanya.
Tak hanya ikan hasil laut, ikan air tawar pun mengikuti pola kenaikan harga.
“Seperti ikan air tawar bandeng, yang semula seharga 5 Ribu per ekor naik menjadi 7.500 atau 15 Ribu 2 ekor,” ujarnya.
Salah satu pembeli Karim, mengatakan, bisanya ikan katombo dibeli masih bisa harga Rp 20.000 sampai 6 atau 7 ekor ukuran sedang, sekarang setengah kilo harganya Rp 30.000.
“Agak mahal ikan sekarang, dan penjual ikan juga tidak ramai, seperti biasanya,” katanya sambil berlalu.

