PALU- Hasil kajian Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU), menunjukan program hilirisasi rumput laut menetapkan Banggai Kepulauan sebagai kawasan hilirisasi rumput laut, belum berjalan optimal dan maksimal.

Dari Kawasan budidaya rumput laut desa Komba-Komba, memiliki luas total 418,14 hektare. Dari luasan tersebut, hanya sekitar 287,46 hektar mampu menghasilkan rumput laut dengan kualitas dan kuantitas optimal.

Sementara, 130,68 hektar lainnya menunjukkan pertumbuhan kurang baik.Area ini umumnya berfungsi sebagai jalur keluar–masuk nelayan, transportasi antar pulau, maupun aktivitas logistik pesisir, sehingga menimbulkan tekanan fisik dan ekologis tidak kondusif bagi budidaya rumput laut.

Hal tersebut disampaikan Direktur Yayasan KOMIU Givents , dalam diskusi, diseminasi hasil kajian melalui kegiatan workshop Promosi Inisiatif Pengelolaan Gurita dan Rumput Laut, di Cafe YOLKS Jalan Wolter Monginsidi, Kota Palu, Jumat petang.

Ia mengatakan, rumput laut yang merupakan komoditi unggulan Banggai Kepulauan merupakan rumput laut Kappaphycus alvarezii, biasa juga disebut Eucheuma cottonii memiliki peluang  strategis dan peluang usaha menjanjikan untuk dikembangkan, namun produksi rumput laut di kawasan ini belum dikelola secara maksimal.

” Mengingat potensi dan prospek pasar produk rumput laut baik dalam negeri maupun untuk ekspor sangat terbuka lebar dibutuhkan oleh beberapa industri farmasi, makanan dan industri lainnya,” katanya.

Ia mengatakan, perbaikan tata kelola budidaya rumput laut di tingkat desa merupakan faktor kunci untuk meningkatkan produktivitas rumput laut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dan penyerapan tenaga kerja di wilayah Pantai.

Lebih lanjut kata dia, dalam Rencana Pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2025-2029. Hilirisasi rumput laut menjadi salah satu program prioritas pemerintah pusat, hal ini selaras dengan arah pembangunan pemerintah provinsi Sulawesi tengah 2025-2029, yang mengintegrasikan penetapan Kabupaten Banggai Kepulauan sebagai kawasan hilirisasi rumput laut.

” Produksi rumput laut Banggai Kepulauan pada tahun 2022 tercatat 562.677 ton, tahun 2023, tercatat 608.889 ton, dan tahun 2024 mencapai 562.677 ton. Hal ini menempatkan posisi Banggai Kepulauan sebagai penghasil rumput laut terbesar dari seluruh kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Dia mengatakan, dari hasil kajian beberapa masalah utama budidaya rumput laut di Banggai Kepulauan. Seperti faktor musim, tingkat kematian rumput laut yang tinggi, pemboman dan pembiusan ikan di lokasi budidaya, ketersediaan bibit unggul terbatas, penguasaan lahan atau Lokasi budidaya karena adanya keterbatasan modal operasional sehingga produktivitas lahan menurun, serta beralihnya aktivitas pembudidaya ke pekerjaan di luar budidaya seperti berkebun dan bertani.

Olehnya dari hasil kajian tersebut kata dia, pihaknya merekomendasikan, diantaranya
menerapkan pengawasan terpadu berbasis masyarakat untuk mencegah praktik penangkapan ikan destruktif. Kemudian, patroli laut partisipatif secara berkala, meningkatkan kapasitas kelompok pembudidaya rumput laut dan nelayan. Selanjutnya pendataan potensi sumber daya pesisir untuk pengembangan ekonomi dan ekosistem.

Lanjut kata dia, menerapkan pencatatan log book hasil penjualan rumput laut. Mencanangkan Desa Komba-Komba sebagai Desa Budidaya. Melakukan pemetaan ruang laut partisipatif untuk tata kelola pesisir. Merehabilitasi terumbu karang dengan metode bioreeftek. Terakhir menjalin kolaborasi lintas pihak untuk upaya rehabilitasi dan pelestarian laut.