SIGI — Sejak pagi buta, langkah demi langkah masyarakat memadati Gedung Ampera di Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru. Wajah-wajah tua dan muda larut dalam suasana khidmat, menghadiri haul ke-38 seorang ulama kharismatik, KH Dg. Maria Pilarante Djaelangkara, sosok yang lebih akrab disapa Pua Kali.

Bagi masyarakat Sigi dan sekitarnya, nama itu bukan sekadar kenangan. Ia adalah jejak panjang pengabdian, kesederhanaan, dan ketulusan dalam berdakwah.

Murid Pertama Sang Guru Tua

KH Dg. Maria Pilarante Djaelangkara merupakan salah satu murid generasi awal dari pendiri Perguruan Alkhairaat, yakni Habib Idrus bin Salim Aljufri, yang masyhur dengan sebutan Guru Tua.

Dalam manaqib yang dibacakan Dr. Munif Godal, dikisahkan bahwa semasa menuntut ilmu, Pua Kali dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan membantu siapa saja. Di antara puluhan santri, ia menonjol bukan karena banyak bicara, melainkan karena ketulusan sikapnya. Melihat sifat mulia itu, Guru Tua menyematkan nama Abdul Muqhis kepadany, sebuah doa sekaligus penghormatan atas akhlaknya.

Sebagai santri angkatan pertama dari 60 murid dan termasuk dalam 12 kader tamatan kedua pada 1935, Pua Kali telah dianggap matang dalam ilmu dan akhlak. Bersama rekan-rekannya seperti Alwintje Ute, Hasjim Samsudin, Abdullah Hay Abdullah, Saat F. Basir, Zahrani, B. Dg. Malino, M. Muhammad, Hasan Intje Ute, dan M. Noh Lawewa, ia menerima mandat besar: mengajar dan menyebarkan ilmu.

Dari Ampana hingga Bolaang Mongondow

Tugas pertamanya sebagai mubalig dimulai di Ampana pada 1934. Setahun kemudian ia mengajar di Palu, lalu Taweli pada 1936. Jejak dakwahnya terus berlanjut hingga Gorontalo dan Bolaang Mongondow pada 1938.

Hampir satu dekade ia mengabdikan diri menyebarkan pendidikan agama di berbagai wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Dakwahnya tidak hanya melalui mimbar, tetapi juga melalui teladan hidup.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke kampung halamannya di Biromaru. Di tanah kelahiran itulah ia melanjutkan khidmat, membina umat, dan menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda.

Dipercaya Menjadi Qadhi

Pada masa pendudukan Jepang, Pua Kali dipercaya dan diangkat sebagai Qadhi. Jabatan itu bukan sekadar posisi formal. Qadhi adalah pemegang amanah besar dalam memutuskan perkara agama—tugas yang hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kedalaman ilmu dan kebijaksanaan.

Kepercayaan tersebut menjadi bukti pengakuan atas kapasitas dan integritasnya sebagai ulama. Penelusuran sejarah juga mencatat bahwa latar belakangnya sebagai murid Guru Tua turut menjadi pertimbangan penting.

Warisan yang Tak Pernah Usai

KH Dg. Maria Pilarante Djaelangkara wafat pada 3 Februari 1987, bertepatan dengan bulan Jumadil Akhir 1407 Hijriah. Namun nilai-nilai yang ia tanamkan tak ikut terkubur bersama jasadnya.

Di Gedung Ampera hari itu, doa-doa dipanjatkan. Lantunan manaqib menggema, menghidupkan kembali kisah seorang santri sederhana yang menjelma menjadi ulama panutan. Bagi masyarakat Sigi, haul bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat tentang pentingnya ilmu, ketulusan, dan pengabdian.

Pua Kali telah pergi, tetapi jejaknya tetap hidup dalam setiap madrasah, dalam setiap pengajian, dan dalam hati murid-murid yang pernah disentuh nasihatnya.

Seperti pesan yang diwariskannya: ilmu bukan untuk disimpan, melainkan untuk diamalkan dan dibagikan.