Antara Kesucian Perayaan dan Tanggung Jawab yang Perlu Disempurnakan

SM Syams*

Pembuka Reflektif Situasional

Ada peristiwa yang menghadirkan ribuan manusia dalam satu niat yang sama, merapatkan hati dalam dzikir dan doa, menyatukan langkah dalam kecintaan kepada seorang guru. Di dalamnya, ada harap yang dilangitkan, ada rasa yang diperdalam, dan ada nilai yang ingin dihidupkan kembali.

Namun setiap peristiwa besar selalu memiliki sisi lain yang sering luput dari perhatian. Bukan pada saat keramaian berlangsung, tetapi pada saat semua mulai beranjak pulang. Di sanalah tersisa apa yang benar-benar kita tinggalkan, bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam bentuk nyata di ruang yang kita gunakan bersama. Dan di situlah, makna sebuah perayaan diuji secara diam-diam.

Deskripsi Peristiwa: Jejak yang Tertinggal Setelah Keramaian

Haul Guru Tua menjadi salah satu peristiwa terbesar yang menghadirkan lautan manusia dalam satu ruang yang sama. Aktivitas yang padat, konsumsi yang masif, serta mobilitas yang tinggi menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika tersebut.

Namun ketika acara berakhir, suasana perlahan berubah. Di berbagai sudut lokasi, tampak plastik bekas minuman berserakan. Bungkus makanan ringan menumpuk di sekitar area yang sebelumnya dipenuhi jamaah. Ada yang terinjak, ada yang tertiup angin, dan ada pula yang dibiarkan begitu saja.

Pada malam hari setelah puncak acara, pemandangan itu menjadi lebih jelas. Jalanan yang sebelumnya dipadati manusia kini dipenuhi oleh sisa-sisa aktivitas yang belum tertangani. Sampah seakan menjadi lapisan baru yang menutupi ruang yang sebelumnya sakral.

Fenomena ini bukan baru terjadi sekali. Ia berulang dari tahun ke tahun, menjadi semacam pola yang tanpa disadari dianggap biasa.

Di sisi lain, sebenarnya pernah ada keterlibatan petugas kebersihan melalui program “padat karya” dari Pemerintah Kota Palu yang turut membantu membersihkan lokasi. Namun kehadiran ini tidak selalu konsisten terjadi setiap tahun. Ketika tidak tertangani secara langsung pada hari yang sama, maka pembersihan sering kali bergeser ke waktu berikutnya.

Dalam banyak kejadian, kebersihan lokasi akhirnya menjadi tanggung jawab para siswa atau santri dari madrasah yang berada di dalam kompleks Alkhairaat. Saat aktivitas sekolah dimulai keesokan harinya, mereka diarahkan untuk membersihkan sisa-sisa sampah yang tertinggal. Sebuah kenyataan yang di satu sisi menunjukkan kepedulian, namun di sisi lain menyisakan pertanyaan yang lebih dalam.

Makna Antara Syukur dan Kegelisahan yang Tidak Diucapkan

Ada rasa syukur yang tidak bisa dipungkiri melihat besarnya antusiasme masyarakat dalam menghadiri haul. Namun di saat yang sama, muncul kegelisahan yang tidak perlu diucapkan dengan keras.

Bagaimana mungkin sebuah peristiwa yang sarat dengan nilai spiritual justru meninggalkan jejak yang kurang mencerminkan nilai tersebut? Bagaimana mungkin kebersamaan yang begitu kuat belum sepenuhnya menjelma menjadi tanggung jawab bersama?

Ini bukan tentang menyalahkan, tetapi tentang menyadari bahwa masih ada jarak antara niat dan kebiasaan.

Analisis Sosial: Antara Aktivitas Besar dan Sistem yang Belum Seimbang

Dalam skala keramaian seperti haul, perilaku individu sering kali larut dalam arus kolektif. Apa yang dalam kondisi biasa dianggap sebagai tanggung jawab pribadi, dalam keramaian bisa berubah menjadi sesuatu yang seakan tidak lagi dimiliki oleh siapa pun.

Di sisi lain, rangkaian haul yang terintegrasi dengan Festival Raudhah membawa dimensi sosial ekonomi yang sangat positif. Kehadiran pelaku UMKM, aktivitas jual beli, serta pentas seni dan hiburan Islami menjadikan ruang ini tidak hanya sebagai pusat spiritual, tetapi juga ruang interaksi sosial yang hidup.

Namun dalam dinamika tersebut, muncul konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Intensitas konsumsi meningkat, penggunaan kemasan sekali pakai bertambah, dan volume sampah pun ikut melonjak secara signifikan. Dalam konteks ini, membludaknya sampah menjadi ekses yang wajar dari besarnya aktivitas yang berlangsung.

Yang menjadi persoalan bukan pada kemunculan sampah itu sendiri, tetapi pada bagaimana ia dikelola. Ketika peningkatan aktivitas tidak diiringi dengan peningkatan sistem pengelolaan, maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan antara produksi dan penanganan.

Keberadaan petugas kebersihan, termasuk melalui program “padat karya”, secara tidak langsung juga membentuk persepsi bahwa kebersihan adalah tugas pihak tertentu. Padahal dalam skala sebesar ini, tidak mungkin satu sistem bekerja sendiri tanpa dukungan kesadaran kolektif.

Dari Penanganan ke Pencegahan

Upaya yang telah dilakukan tentu patut diapresiasi. Namun dengan skala kegiatan yang terus membesar, pendekatan yang digunakan perlu bergeser secara perlahan.

Penanganan pasca kegiatan tetap penting, tetapi belum cukup. Diperlukan langkah yang lebih antisipatif, yang hadir sejak awal dan berjalan bersamaan dengan kegiatan.

Bukan untuk menggantikan yang telah ada, tetapi untuk menyempurnakan agar lebih selaras dengan kebutuhan di lapangan.

Nilai Spiritual: Kebersihan sebagai Amanah

Dalam nilai-nilai Islam, kebersihan bukan hanya urusan pribadi, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial. Ia tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi meluas pada ruang yang digunakan bersama.

Meninggalkan sampah bukan sekadar persoalan kebiasaan, tetapi tentang bagaimana seseorang memaknai amanah. Bahwa tempat yang kita pijak, meski hanya sementara, tetap memiliki hak untuk dijaga.

Di sinilah nilai haul menemukan ujian nyatanya.

Refleksi Solutif: Gerakan Bersama dan Tanggung Jawab Proporsional

Ke depan, solusi yang berimbang menuntut keterlibatan semua elemen secara proporsional. Tidak cukup hanya menyadari bahwa sampah adalah konsekuensi, tetapi juga menyadari bahwa setiap aktivitas membawa tanggung jawab.

Para jamaah bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. Para pedagang dan pelaku UMKM memiliki peran dalam mengelola limbah dari aktivitasnya. Panitia dan stakeholder memiliki tanggung jawab dalam menyediakan sistem yang memadai.

Pembentukan seksi khusus kebersihan dalam kepanitiaan menjadi sangat penting. Unit ini harus bekerja sejak awal hingga akhir acara, mengoordinasikan relawan, mengatur distribusi tempat sampah, serta memastikan proses berjalan simultan.

Kehadiran petugas di titik-titik strategis, serta sinergi dengan program “padat karya”, dapat memperkuat sistem ini. Dengan demikian, kebersihan tidak lagi menjadi urusan akhir, tetapi bagian dari proses.

Penegasan Makna

Pada akhirnya, setiap peristiwa besar akan selalu meninggalkan jejak. Namun yang menentukan bukan banyaknya orang yang hadir, melainkan bagaimana mereka pergi.

Haul Guru Tua seharusnya tidak hanya meninggalkan kenangan spiritual, tetapi juga meninggalkan ruang yang tetap layak dihormati setelahnya.

Pada akhirnya, kebersihan bukanlah persoalan siapa yang terakhir membersihkan, tetapi siapa yang sejak awal merasa memiliki. Ketika setiap orang hanya merasa sebagai pengguna ruang, maka sampah akan selalu menjadi milik orang lain. Namun ketika setiap elemen, sekecil apa pun perannya, merasa sebagai penjaga ruang bersama, maka sampah tidak akan sempat menjadi masalah yang berulang. Haul Guru Tua adalah peristiwa besar yang mempersatukan banyak hati, dan sudah sepatutnya ia juga menjadi ruang yang mendewasakan tanggung jawab. Sebab keberkahan tidak hanya diukur dari banyaknya yang hadir, tetapi dari seberapa ringan jejak yang kita tinggalkan setelahnya.

Palu, 02 April 2026 / 13 Syawal 1447

“Jika doa mengangkat hati kita ke langit, maka jejak kitalah yang menentukan apakah bumi ikut dimuliakan.”

*Akademisi dan Pemerhati Refleksi Sosial Kemasyarakatan Palu