Hari Ketiga Puasa, saat Madinah Kehilangan Mawarnya

oleh -
Ilustrasi. (Youtube: YtCrash Islam)

Hari ketiga puasa di Madinah Almunawarah. Kota itu kehilangan mawarnya. Putri Rasulullah kembali ke pengakuan Allah Ta’ala menyusul ayahandanya, nabi kita Baginda Muhammad SAW. Itu terjadi tatkala Fatimah bermimpi didatangi Rasulullah.

Fatimah menyadari ajalnya makin dekat, saat itu dia menemui ayahnya dalam mimpi: “Wahai Fatimah! aku datang untuk memberi kabar gembira kepadamu. Telah datang saat terputusnya takdir kehidupanmu di dunia ini, putriku. Tiba sudah saatnya untuk kembali ke alam akhirat! Wahai Fatimah, bagaimana kalau besok malam kamu menjadi tamuku?”

Inilah yang mendatangkan kedukaan yang mendalam bagi Ali. Sebab, sebelum meninggal, Fatimah berlaku tidak biasa di dalam rumah dia menyisir Hasan dan Husein dengan air mawar dan hati terus bergetar karena tahu dia akan meninggalkan dua buah hatinya.

Didekapnya Hasan dan Husein, lalu diciuminya dalam-dalam sembari menahan air matanya. Dia berlaku tenang dan tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda.

Menyaksikan itu, Ali termenung dan terus memandangi belahan hatinya tersebut. Ali terpana dan tidak mampu berkata apa-apa. Kala itu, Siti Fatimah sudah sakit keras. Lantas Fatimah pun berkata dan tahu bahwa Ali bertanya: “Wahai Ali. Bersabarlah untuk deritamu yang pertama dan bertahanlah untuk deritamu yang kedua! Jangan engkau melupakan diriku. Ingatlah diriku selalu mencintaimu dengan sepenuh jiwa. Engkau kekasihku, suamiku, teman hidupku yang terbaik, teman diriku berbagi derita dan teman perjalananku.”

Lalu keempat orang itu menangis dan berpelukan, Ali, Siti Fatimah dan anaknya Hasan dan Husen, meski tidak sadar apa yang akan terjadi kepada ibunya yang begitu sabar itu.

Fatimah lalu meminta kedua anaknya berziarah ke pemakaman Baki. Anak-anaknya menurut. Untuk terakhir kali Fatimah memandang Ali secara mendalam. “Halal semua atasku wahai cahaya kedua mataku,” ujar Fatimah memohon maaf.

Fatimah kemudian berbaring dan menyuruh Asma binti Umais menyiapkan keperluan dan makanan. Memang tak disangka, beberapa waktu sebelum ditariknya nyawa Fatimah, dua anaknya kembali ke rumah.

Fatimah pun menyuruh lagi keduanya pergi ke Raudah, dia tidak ingin anaknya sedih melihatnya menghadap Ilahi.

Dalam penderitaan kesakitannya yang tidak bertepi, Fatimah berbisik kepada Ali. Dia menitipkan wasiat kepada Ali, yaitu permohonan maaf kepada Ali, meminta Ali mencintai kedua anaknya, meminta dirinya dimakamkan pada malam hari agar saat dikebumikan tidak banyak dilihat manusia, dan meminta Ali untuk sering mengunjungi makamnya.

Wasiat Cinta Abadi Siti Fatimah untuk Ali dan Kedua Anaknya

Saat menitipkan wasiat, tiba-tiba dua anaknya kembali dari Raudah. Sadar kondisi ibunya yang sudah tidak berdaya, mereka mendekap Fatimah erat-erat.

Fatimah meminta keduanya agar jangan berpaling di jalan Al-Quran, jalan Rasulullah dan melawan ayahnya. Fatimah meminta semua orang keluar dari kamarnya, dia hendak menyendiri dan ingin bersama tuhannya.

Fatimah berpesan jika tidak ada lagi sahutan dari dalam kamar maka dia telah berpulang. Meski tidak banyak yang tahu karena dia wafat pada malam hari dan dimakam pada malam itu, tetapi alam tetap berduka.

Semua berduka karena kehilangan seorang yang terlahir bak bidadari, wanita yang tangguh dan sudah teruji dalam peperangan ketika berangkat bersama sang Rasulullah. Alam berduka, langit mendung, Siti Fatimah  berpulang pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriah atau 23 November 632 Masehi, dalam usia 27 tahun. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)