Ramadhan telah berlalu. Sebulan lamanya, kita telah menempuh bulan pendidikan dan latihan yang sangat intensif untuk menjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT.

Kini, kita telah berada di bulan Syawal, bulan pembuktian keberhasilan shaum Ramadhan.

Maka dengan masuknya pada bulan Syawal mari kita membuka hati yang jernih dan fikiran yang bersih serta meninggalkan semua larangan Allah SWT dan senantiasa istiqamah dalam menjalankan amal ibadah yang telah dirajut ketika Ramadhan pada bulan – bulan berikutnya, dan senantiasa juga menjaga ukhuwah antar sesama, karena itulah kemenangan hakiki atau kemenagan dengan sebenar – benarnya kemenangan.

”Ruh Ramadhan harus tetap dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Sejatinya, Syawal adalah bulan peningkatan ibadah dan ketakwaan. Pada bulan kesepuluh hijriyah ini, umat Islam diperintahkan untuk melanjutkan dan melipatgandakan amal ibadah yang telah dilakukan selama Ramadhan

Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik perbuatan adalah sesuatu yang berkelanjutan mudawamah walapun tidak terlalu banyak.”

Amal ibadah yang dilakukan selama Ramadhan tak boleh terputus. ”Amaliyah Ramadhan itu bisa dilanjutkan di bulan Syawal, Dzulqaidah, Dzulhijjah sampai ke Ramadhan lagi,

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh. Artinya spirit puasa Ramadhan harus berkesinambungan.

Setelah menunaikan puasa Syawal selama enam hari, umat Islam juga bisa menunaikan shaum sunat setiap Senin dan Kamis serta puasa sunat di pertengahan bulan Hijriyah setiap tanggal 13, 14 dan 15 yang disebut ayyamul bidh.

Amaliyah lainnya, seperti, membaca Alquran, shalat malam, membayar zakat, infak dan sedekah yang banyak dijalankan selama Ramadhan harus terus dihidupkan pada Syawal dan bulan lainnya.

”Pada Syawal dan bulan lainnya, umat Islam bukan hanya sekedar membaca Alquran. Yang lebih penting lagi adalah memahami makna Alquran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,”.

Keberhasilan shaum Ramadhan dibuktikan dengan peningkatan amal ibadah pada Syawal dan bulan lainnya.

Alquran telah menjelaskan bahwa shaum Ramadhan bertujuan mencetak umat yang beriman menjadi insan bertakwa.

Salah satu tanda orang bertakwa adalah memperbanyak infak dan sedekah dalam keadaan lapang dan sempit. ”Justru ujiannya tergambar setelah Ramadhan.”

Oleh karena itu mari kita menyerap energi positif Ramadhan dalam menjadikan diri menjadi pribadi yang lebih baik ke depan.

Bila ada orang yang tak bisa berubah karena Ramadhan dengan semua kemuliaan yang ada di dalam Ramadhan, dari shalat, puasa, zakat, maka apalagi yang bisa merubahnya.

Ramadhan bukan sekadar satu masa tertentu. Namun Ramadhan adalah semangat nilai-nilai bahkan visi manusia yang di dalamnya terdapat kemaafan, keikhlasan, pengorbanan keistiqomaah, kemuliaan, dan saling semangati dalam kebaikan.

Sungguh Ramadhan bukanlah kata benda tapi ia adalah kata kerja dan kata sifat. Kata kerja karena keutamaan Ramadhan hanya dapat diraih oleh mereka yang mengisinya dengan amal shaleh.

Mari terus me-Ramadhan-kan diri kita, bawah semangat Ramadhan dalam keseharian kita tanpa putus dan tanpa henti,

Rasul bersabda, pahala sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Artinya kalau Ramadhan kita bagus maka syawal kita pasti bagus, sebaliknya kalau Ramadhan kita buruk, buruk pula syawal kita.

Itulah sebabnya ulama mendefinisikan keberkahan sebagai keberlanjutan dalam kebaikan, Semoga hari hari di Syawal ini kita makin lebih baik. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)