PARIMO – Penyesuaian harga Bahan Bakar Khusus (BBK) oleh pemerintah mulai berdampak pada perubahan pola konsumsi masyarakat di wilayah Parigi.

Konsumen yang sebelumnya bergantung pada BBM subsidi kini mulai beralih ke BBM non-subsidi seperti Pertamax demi efisiensi waktu dan kualitas.

Manager SPBU Kampal, Rivai Muhammad, mengatakan selisih harga yang semakin tipis antara BBM subsidi dan non-subsidi mendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap produk unggulan Pertamina.

“Ketika selisih harga tidak terlalu jauh, konsumen lebih memilih Pertamax karena antreannya lebih singkat dan kualitasnya lebih baik,” ungkapnya, saat ditemui Selasa (05/01).

Ia merinci, harga BBM non-subsidi saat ini mengalami penurunan cukup signifikan. Pertamax kini dijual seharga Rp12.650 per liter, sementara Pertamina Dex turun drastis dari sebelumnya Rp15.300 menjadi Rp13.900 per liter.

Adapun Pertalite dan Solar tetap bertahan pada harga subsidi lama karena tidak termasuk dalam kebijakan penyesuaian harga, penurunan harga tersebut berdampak langsung pada peningkatan volume penjualan di SPBU Kampal.

Ia mengungkapkan, penjualan Pertamax kini mencapai lebih dari 1,5 ton per hari atau naik sekitar 500 liter dibandingkan periode sebelum penurunan harga.

“Ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen. Mereka mulai mempertimbangkan efisiensi waktu, kenyamanan, dan kualitas bahan bakar,” jelasnya.

Terkait ketersediaan stok, Rivai memastikan pasokan BBK di SPBU Kampal dalam kondisi aman. Sistem distribusi tebus-angkut dinilai cukup responsif mengikuti permintaan pasar, dengan satu tangki BBK berkapasitas sekitar 8 ton rata-rata habis terserap dalam waktu satu minggu.

Ia mengaku beban layanan SPBU Kampal meningkat, khususnya pada sektor Solar. Saat ini, SPBU Kampal menjadi satu-satunya penyedia Solar di dalam Kota Parigi menyusul masih disanksinya SPBU Pombalowo.

“Kami terus berupaya menjaga stabilitas layanan, terutama bagi kendaraan logistik dan transportasi umum yang sangat bergantung pada Solar,” pungkasnya.