PALU – Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, menerima kunjungan jajaran Hanna Asa Indonesia di Rumah Jabatan Wali Kota Palu, Senin (18/05).

Audiensi tersebut membahas pelaksanaan sejumlah program edukasi literasi keuangan bagi generasi muda di Sulawesi Tengah, termasuk kegiatan Smart Financial Journey yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (23/05) mendatang.

Founder Hanna Asa Indonesia, Mardiyah, menyampaikan, kunjungan tersebut dilakukan untuk mempererat silaturahim sekaligus menyampaikan berbagai agenda kegiatan yang akan digelar pihaknya dalam waktu dekat.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut akan menghadirkan ratusan anak muda Sulawesi Tengah di kantor Hanna Asa Indonesia yang berlokasi di Hana Homestay guna mengikuti edukasi pengelolaan keuangan.

Menurutnya, peningkatan literasi keuangan menjadi hal penting di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini.

“Kita akan belajar bagaimana sebenarnya cara mengelola keuangan. Karena kenapa saat ini yang kita tahu banyak sekali tantangan di masalah keuangan,” ujarnya.

Mardiyah mengungkapkan, persoalan seperti pendapatan yang tidak menentu, belum tersedianya dana darurat, hingga tingginya kasus masyarakat yang terjerat pinjaman online ilegal menjadi perhatian serius.

“Yang pertama pendapatan itu sering naik turun. Kemudian rata-rata anak muda tidak punya dana darurat. Lalu banyak ternyata yang terlilit pinjol. Apalagi Sulawesi Tengah adalah salah satu provinsi dengan korban OMC yang tertinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Dirinya berharap kegiatan tersebut dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, terlebih karena agenda nantinya direncanakan disiarkan secara langsung melalui Instagram.

“Harapannya reach out-nya semakin banyak karena kita pengen Kota Palu ini bisa menjadi salah satu kota yang menjadi role model di Indonesia Timur yang gencar melaksanakan edukasi literasi keuangan,” tambahnya.

Mardiyah juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Palu terhadap program-program edukasi literasi dan inklusi keuangan yang selama ini dijalankan Hanna Asa Indonesia.

“Pak Wali sendiri sebenarnya sejak dua tahun lalu kita intens berkomunikasi. Pak Wali sangat mendukung kegiatan edukasi literasi juga inklusi keuangan,” jelasnya.

Selain itu, Mardiyah turut memaparkan data survei tahun 2025 dari Otoritas Jasa Keuangan dan Badan Pusat Statistik yang menunjukkan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih berada di angka 66,46 persen, sedangkan tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.

“Ini artinya masyarakat sudah banyak menggunakan layanan keuangan, tetapi belum semuanya memahami cara pengelolaan keuangan yang baik dan benar,” tutupnya. ***