PAGI itu, suasana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Palu terasa berbeda. Tidak seperti hari-hari biasa yang cenderung sunyi dan teratur, momen Idul Fitri menghadirkan nuansa hangat yang mengalir dari setiap sudut. Senyum, pelukan, dan tawa perlahan menghapus sekat dingin jeruji, menghadirkan rasa “rumah” bagi para warga binaan.

Sejak pagi, keluarga mulai berdatangan. Mereka rela antre di loket pendaftaran demi satu tujuan sederhana: bertemu orang tercinta. Proses pemeriksaan yang ketat terhadap barang bawaan tidak mengurangi semangat. Justru di balik tas berisi makanan rumahan itu, tersimpan rasa sayang yang ingin disampaikan secara langsung, sesuatu yang tak tergantikan oleh kata-kata.

Tahun ini, ada yang istimewa. Waktu kunjungan diperpanjang hingga sore hari, memberi ruang lebih luas bagi keluarga dan warga binaan untuk saling melepas rindu. Jika biasanya pertemuan terasa singkat dan tergesa, kini waktu seolah melambat. Obrolan menjadi lebih dalam, tawa terdengar lebih lepas, dan kebersamaan terasa lebih utuh.

Di pelataran dan aula lapas, suasana kekeluargaan begitu terasa. Anak-anak duduk di samping ayahnya, istri menyuapi suami, dan orang tua menggenggam tangan anaknya dengan erat. Makanan sederhana yang dibawa dari rumah berubah menjadi hidangan penuh makna. Bukan soal rasa, tapi tentang kebersamaan yang lama dinanti.

Kepala Lapas Kelas II A Palu, Makmur, menjelaskan bahwa layanan khusus ini diberikan selama tiga hari berturut-turut selama Idul Fitri. Perpanjangan jam kunjungan menjadi bentuk perhatian agar warga binaan tetap bisa merasakan kehangatan hari raya, meski dalam keterbatasan.

Namun lebih dari sekadar kebijakan, momen ini adalah pengingat bahwa di balik status sebagai warga binaan, mereka tetap manusia yang memiliki keluarga, rindu, dan harapan. Idul Fitri menjadi jembatan yang menghubungkan kembali ikatan itu—meski hanya untuk beberapa jam.

Sebelum masuk berkunjung lebih dulu keluarga wabin mendaftar loket pendaftaran, lalu semua bawaan makanan atau minuman diperiksa oleh petugas, jangan sampai ada barang terlarang disisipkan, sebelum disantap oleh wabin beserta keluarganya.

Ketika waktu kunjungan berakhir dan keluarga harus pulang, suasana kembali hening. Tapi ada yang berbeda. Hati terasa lebih ringan, semangat kembali terisi. Sebab bagi mereka, hangatnya Idul Fitri tidak hanya dirasakan di rumah, tetapi juga di balik tembok tinggi yang untuk sesaat berubah menjadi ruang penuh cinta.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas II A Palu Makmur menjelaskan, selama lebaran pimpinan memberikan layanan khusus selama tiga hari berturut-turut, mulai Sabtu hingga Senin.

Ia mengatakan, membedakan pelayanan selama lebaran dengan hari biasa terletak pada jam operasional. Selama lebaran pelayanan dibuka mulai pagi hari hingga petang hari. Sementara pada hari biasa pelayanan hanya berlangsung hingga pukul 11.30 WITA.

“Apabila dalam tiga hari tersebut tidak sempat berkunjung,maka kunjungan tetap dapat dilakukan pada hari-hari berikutnya sesuai dengan jadwal normal,” ujarnya.