Habib Saggaf

oleh -
Habib Sayyid Saggaf Bin Muhammad Aljufri

JUDUL tulisan ini hanya “Habib Saggaf”. Tidak kuembel-embeli dengan kata yang lain. Mungkin Nampak tidak berbunga-bunga, tapi sesungguhnya nama ini sangat berbunga.

Habib Saggaf bagiku dan mungkin bagi semua Abnaulkhairaat, sudah cukup. Cukup merepresentasekan segala kebaikan. Bila kububuhi kata predikat, objek atau keterangan lain setelah Habib Saggaf, itu justru akan kurang. Karena masih banyak predikat, objek yang lain terabaikan yang menggambarkan beliau.

Nama Habib Saggaf adalah atribusi Alkhairaat. Dengar dan ingat Habib Saggaf kita mengingat Alkhairaat. Alkhairaat sendiri adalah perhimpunan dari segala kebaikan.

Ketika Habib Idrus (Guru Tua) memutuskan nama Alkhairaat sebagai organisasinya, banyak ulama ahli bahasa yang terkagum-kagum dengan pilihan ini. Maknanya sangat luas. Seringkalai para pendiri organisasi, memperpanjang nama organisasinya dengan dua atau tiga kata. Tapi Alkhairaat tidak, bahasanya sarat akan kepadatan makna.

Kembali kepada nama Habib Saggaf, nama yang langsung membawa kita pada ‘Alkhairaat’. Sebab dia menjadi Ketua Utama Alkhairaat, sejak 1975, sampai 2021. Waktu yang tidak singkat mengurusi jutaan Abnaulkhairaat. Maka siapa yang tidak langsung melekatkannya dengan Alkhairaat?
Perlu kuingatkan betapa beliau menyatu dengan Alkhairaat. Pernahkah kalian melihat orang di zaman sekarang ini, di masa usia sepuh, ada yang rela menyediakan waktu dan tenaganya untuk umat. Mungkin kalau cuma berdakwah di sekitaran komplek, kita mudah temui. Tapi beliau di saat tubuhnya yang kita dapat sebut telah uzur, justru ia hibahkan untuk umat di manapun.

Kadangkala orang-orang tua yang kita hormati di kampung kita, justru kala bertemu Habib Saggaf, mesti cium tangan. Menandakan umurnya di atas mereka.

Perlu kuingatkan, kadangkala dia ke Morowali, ke Poso, ke Ampana, ke Ternate, ke berbagai daerah lainnya yang jauh-jauh. Bukan cuma di ibu kotanya, kadangkala ke desa-desanya. Menghampiri abnaulkhairaat di sana. Sedangkan kita, diberi amanah oleh kantor saja pergi ke tempat jauh sering menolak, itu pun kadang dijanjikan akan ada uang perjalanan dinasnya. Tapi beliau? Adakah orang tua semacam ini sekarang? Orang muda? Hmmm…

Saya jadi ingat di Haul beberapa tahun lalu, Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba sampai menangis mendengar bila Habib naik mobil ke salah satu Iven Alkhairaat di daerah. Sementara para pejabat ada yang naik helikopter. Tapi Habib Saggaf justru tidak membahas itu di kala ia memberikan pesan kealkhairaatan di momen itu. Dia tidak bicara soal dirinya, lagi-lagi yang ia amanahkan perhatikan Alkhairaat, terutama Madrasah Ibtidaiyah (yang dimaksud adalah; Madrasah Diniyah Awaliyah Alkhairaat).

Jika memandang wajahnya terpancar cahaya kesejukan. Siapa yang pernah bersamanya sangat jarang atau tidak pernah melihat beliau marah. Kalaupun ada kekecewaan dari beliau, sangat tidak tampak. Hanya kadang kita menafsirkan sendiri, sepertinya Habib tadi tidak senang. Saya pribadi pernah merasakan itu.

Saya tidak ingin Anda membaca tulisan ini seperti Anda mendengar kabar duka setiap pagi di masa pandemic ini. Karena ketika membaca kabar duka orang-orang itu, kadang kita seperti merasa ketakutan, justru bukan sedih. Di sini yang menjadi objek setelah membaca kabar duka, adalah diri sendiri. Takut bila mati sudah menghampiri.

Sebaliknya, ketika Anda mendengar Habib Saggaf wafat, mungkin benar berduka. Sedih sedalam-dalamnya. Tapi yang kita sedihkan adalah semata ditinggalkan oleh beliau, mungkin karena cinta kita dan mungkin karena sulit mendapatkan sosok yang punya kafaah (derajat) yang sama seperti beliau. Dan justru setelah dia pergi meninggalkan kita, kita mengingat kembali pesan-pesannya yang pernah terabaikan. Setelah itu kita punya ghiroh (semangat) kuat untuk melanjutkan perjuangannya.

Lalu kita kembali merenungi, sesungguhnya beliau kini telah bahagia. Sebab beliau Husnul Khatimah. Beliau memetik amal-amal kebaikannya yang teramat berat di mizan nanti. Yakin seyakin yakinnya, beliau kelak bersama dengan Kakek-kakeknya sejak dari Nabi Muhammad SAW sampai Habib Idrus bin Salim Aljufri, termasuk ayahnya Habib Muhammad bin Idrus Aljufri.
Allahumaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu..

Nurdiansyah Lakawa (Pemimpin Redaksi MAL Online)