Guru Tua, Nasionalisme, dan Sikap Anti Zionis

oleh -

OLEH: Nasrullah Muhammadong*

Setiap tanggal 12 Syawal, penyelenggaraan Haul Guru Tua SIS Aljufri, rutin dilakukan. Bila Idul Fitri jatuh pada 1 Syawal, maka kegiatan haul dimaksud, juga dapat menjadi momen silaturahmi atau halalbihalal  antarpeserta haul yang hadir.

Namun sayang, untuk tahun ini, Pengurus Besar Alkhairaat, kembali mengambil keputusan meniadakan kegiatan haul guru tua. Sesuai amanat Ketua Utama Alkhairaat, kegiatan Haul Guru Tua ke-53, hanya dilakukan lewat online. Dan masyarakat dapat mengikutinya melalui live streaming via Youtube dan Facebook.

Alhamdulillah, setelah mendapatkan flyer yang disebarkan melalui grup-grup WA, penulis berkesempatan untuk mengikuti ceramah atau amanat dari Ketua Utama Alkhairaat pada malam 12 Syawal 1442 H atau 24 Mei 2021 M (via Youtube).

HAUL GURU TUA

Terlahir dengan nama lengkap Sayyid Idrus bin Salim Aljufri. Lahir di Hadramaut, Yaman, pada 14 Sya’ban tahun 1309 Hijriah, atau 15 Maret 1892 M.  Nama beliau, biasa diringkas: “SIS Aljufri”. SIS merupakan singkatan: “Sayyid Idrus bin Salim”.

Adapun istilah “guru tua”, adalah sebutan yang diberikan oleh masyarakat etnis kaili, yang merupakan basis massa penerima ajaran dakwahnya (Syamsuri: “Konvergensi Simbolik Di Haul Guru Tua”, 2019).

Bila mengenang kembali kegiatan haul guru sebelum pandemi Covid-19, betapa puluhan ribu orang selalu berjubel untuk datang menghadiri kegiatan yang penuh kesakralan itu. Perasaan massa yang selalu berkumpul di kegiatan haul guru tua, selalu diliputi sugesti religiusitas.

Dengan demikian dapat memunculkan kekaguman psikologis, yang pada akhirnya mengikat secara kuat solidaritas organisasi Alkhairaat (Syamsuri: 2019).

Dalam pelaksanaan haul, di samping membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, parade bacaan salawat, juga dibacakan kisah perjuangan guru tua dalam berdakwah, teristimewa dalam mendirikan pusat perguruan Alkhairaat.

Terkadang murid beliau, atau yang pernah bersentuhan langsung, diberikan kesempatan untuk membawakan narasi tentang kehidupan sang habib. Dalam cerita itu, terkadang diselipkan kisah-kisah keramat yang pernah dialami atau dilakoni oleh guru tua sendiri.

Melalui kisah itu, peserta haul seolah diajak memasuki lorong waktu untuk kembali masa lampau, demi berjumpa dengan orang yang dimuliakannya.  

JIWA NASIONALISME

Sejarah kehidupan Guru Tua, khusus telaah atas jiwa dan sikap nasionalismenya, telah diangkat dalam bentuk disertasi. Adalah Gani Jumat (Dosen IAIN Palu), telah melakukan riset yang mendalam sehingga menghasilkan karya ilmiah yang diberi judul: Nasionalisme Ulama: Pemikiran Politik Kebangsaan Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri (1891-1969).

Menurut Gani Jemat, berbicara akar sejarah nasionalisme Habib Idrus dapat dilihat dari beberapa aspek. Salah satu aspek atau sebab itu adalah, Guru Tua lahir di Hadramaut pada waktu itu dijajah Inggris, sehingga ia tumbuh dengan pertarungan dan perlawanan dengan penjajah (Media Alkhairat, 29/08/2020).

Apa yang diungkapkan tadi, pernah pula penulis ceritakan melalui opini berjudul, “SIS Aljufri: Sang Pencerah dan Penakluk Badai! (Media Alkhairaat, 20/07/2016).

Dikisahkan, ketika lnggris menancapkan kekuasaannya di Hadramaut, maka rasa nasionalisme SIS Aljufri terpanggil untuk melakukan perjuangan demi membela tanah airnya yang terjajah. Bersama sahabatnya, Habib Abdurrahman bin Ubaidillah As-Saqqaf, keduanya bersepakat untuk menyalakan api perlawanan dengan cara gerakan bawah tanah.

Gerakan tersebut adalah sebuah perjuangan yang dilakukan secara tertutup dan rahasia. Tanpa harus angkat senjata. Gerakan ini mengingatkan kita kepada bentuk perlawanan yang pernah dilakukan Sutan Syahrir. Tokoh pergerakan ini melakukan propaganda dan agitasi dengan cara menyusup ke sel-sel jaringan masyarakat, demi mengobarkan perlawanan rakyat terhadap penjajah.

Pun Jiwa dan sikap nasionalisme Guru Tua, pernah diangkat oleh Media indonesia (6/12/2016), melalui editorialnya berjudul “Guru Tua”. Isinya penulis ringkas, sebagai berikut:

“Guru Tua yang wafat pada 22 Desember 1969 ini, adalah Pengagum Bung Karno. Ulama yang pertama kali datang ke Indonesia pada usia 17 tahun ini, tak gampang memberi fatwa. Hanya sekali ia mengeluarkan fatwa, yakni fatwa untuk meneguhkan Indonesia yang masih muda”. Begini fatwanya, “Kita harus tetap berdiri di belakang Bung Karno untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan terjebak oleh bujuk dan rayuan gerakan separatis dari utara (Permesta) dan selatan (DI/TII). Kita tetap berkiblat ke Jakarta.”

Selanjutnya tulis editorial, “Urusan setia kepada Jakarta waktu itu tidak sederhana. Namun, bagi Guru Tua, Republik Indonesia atau nasionalisme merupakan pilihan utama. Justru dalam kondisi Indonesia tengah kritis karena banyaknya pemberontakan, ia tetap teguh. Meski banyak pihak di daerah merasa dianaktirikan oleh pusat, ia tidak mengambil manfaat untuk berkhianat”.

SIKAP ANTI ZIONIS

Dalam disertasinya, Gani Jumat juga mencantumkan betapa banyak syair yang dibuat oleh Guru Tua, yang melukiskan rasa cinta kepada NKRI, penghomatannya kepada umara, termasuk sikapnya yang anti imperialisme. Bahkan lebih dari itu. Sang Guru Tua juga sangat paham tentang situasi geo-politik internasional ketika itu. Ini dapat dibaca dalam salah satu syairnya, sebagai berikut:

 “Musuh Arab dan Islam Amerika, yang memerintah atau  menguasai wilayah Asia sampai Afrika. Adapun Eropa telah hina dina karena wibawanya nyaris hilang, sehingga  Britania (Inggris) mengalami nasib yang sama seperti  Belgia. Perancis telah menyalahi kebijakan dan melakukan  pengkhianatan yang dikenal dengan politik memalukan  seperti itu.

Adapun Rusia, siasat politiknya  selalu berhati- hati,  dan tidak pernah takut kepada Amerika. Sedangkan   Republik Rakyat Cina (RRC) diberkahi keuntungan dari  persaingan-persaingan yang ada serta memiliki keunggulan  dengan penduduknya yang berjumlah besar diantara negara- negara di seluruh dunia”.

Atas tulisan (syair) tersebut, Gani Jumat dalam disertasinya menjelaskan: “Lontaran pemikiran politik pada syair di atas menunjukkan, betapa Guru Tua sangat memahami peta politik dunia Internasional pada masanya. Menurutnya, musuh bangsa Arab dan Islam adalah Amerika bersama sekutu-sekutunya. Amerikalah yang berada di balik perang antara Israel dan Palestina, dan yang menggerakkan Amerika sesungguhnya adalah bangsa Yahudi (Zionis).

Sebagai penutup tulisan ini, akan dikutip kelanjutan syair diatas. Syair ini lebih spesifik, yaitu bagaimana sang guru tua menggambarkan watak dari orang Yahudi itu sendiri:

“Kekuasaan dan kekuatan Allah tidak tersembunyi pada  seorang pun, barang siapa yang memerangi Arab dan Islam akan binasa. Adapun Yahudi mereka kaum yang tidak berpekerti, dan  segala rahasia mereka telah tersebar kapada manusia. Mereka jangan mimpi memiliki kerajaan di tempat kami,  mereka juga tidak memiliki sesuatu di tanah air bangsa  Arab.

Selanjutnya, disyairkan oleh Guru Tua: “Lihatlah sejarah kita yang terang, sejak masa  sahabat niscaya kau akan  mendapatkan keadilan dipijak. Deklarasi Balghur, tidak menguntungkan mereka (Israel)  sama sekali, karena menjanjikan sesuatu kezhaliman, itu  tidak akan menguntungkan orang-orang Yahudi yang  celaka (terkutuk).”.

Selamat Haul Guru Tua Ke-53 (12 Syawal 1442 H / 24 Mei 2021 M).

*Penulis adalah Direktur Yayasan Pelita Bangsa , Sulawesi Tengah.