Di ufuk timur Nusantara, di tanah yang dahulu sunyi dari denyut dakwah, pernah berdiri seorang ulama yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk ilmu, pendidikan, dan jalan Allah.
Namanya terpatri dalam sejarah sebagai Guru Tua—Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri. Sosok yang bukan hanya mendirikan lembaga pendidikan, tetapi juga menanamkan peradaban.
Memperingati HAUL ke-58 beliau yang jatuh pada Rabu, 12 Syawal/1 April, tema yang diusung tahun ini—“Meneguhkan spirit keteladanan Guru Tua dalam bingkai peradaban ilmu dan akhlak”—seakan mengajak kita untuk tidak sekadar mengenang, tetapi juga merenungi jejak panjang perjuangan beliau.
Guru Tua lahir di Taris, Hadramaut, Yaman, pada Senin, bulan Sya’ban 1309 H, dari keluarga ulama yang memiliki sanad keilmuan dan nasab yang mulia hingga kepada Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra, cucu Rasulullah SAW.
Lingkungan keluarga yang sarat ilmu, ketakwaan, dan akhlak membentuk karakter beliau sejak dini.
Didikan langsung dari ayahnya, seorang qadhi dan mufti, serta interaksi intens dengan para ulama Hadramaut, menjadikan beliau matang dalam ilmu agama dan bahasa. Bahkan, di usia muda beliau telah dipercaya menggantikan ayahnya sebagai qadhi dan mufti.
Namun, perjalanan hidup beliau tidak berhenti di ruang-ruang keilmuan Hadramaut. Gejolak politik dan semangat perlawanan terhadap penjajahan Inggris membawanya keluar dari tanah kelahiran. Sebuah misi besar yang berujung pada keputusan penting: hijrah ke Asia Tenggara—Indonesia.
Di Indonesia, perjalanannya tidak langsung mulus. Pernah berdagang batik di Pekalongan, menjadi guru di Solo, hingga menetap sementara di Jombang. Namun, panggilan jiwa beliau tetap sama: pendidikan dan dakwah.
Hingga akhirnya, langkahnya tertuju ke timur Indonesia—ke sebuah wilayah yang kala itu dikenal sebagai Celebes, tepatnya di Palu.
Di sana, beliau menyaksikan kondisi umat Islam yang membutuhkan sentuhan ilmu dan bimbingan, di tengah kuatnya arus misionaris dan minimnya dai.
Di titik inilah, Guru Tua mengambil peran sejarah.
Ia tidak memilih jalan konfrontatif. Sebaliknya, beliau mengamalkan prinsip dakwah yang penuh hikmah: mengajar, mendidik, dan membangun peradaban melalui ilmu. Seperti firman Allah, menyeru dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik.
Dengan biaya sendiri, Guru Tua mendirikan madrasah pertama di Palu pada 14 Muharram 1349 H (11 Juni 1930). Nama yang dipilih—Alkhairaat—bukan sekadar nama, tetapi doa: kebaikan yang terus mengalir.
Dari satu madrasah sederhana, Alkhairaat tumbuh menjadi jaringan pendidikan yang luas. Dalam waktu puluhan tahun, cabangnya menjangkau ratusan hingga ribuan, tersebar di Sulawesi, Maluku, dan kawasan timur Indonesia.
Lebih dari sekadar jumlah, Alkhairaat menjadi pusat lahirnya generasi berilmu dan berakhlak. Banyak alumninya melanjutkan studi hingga ke Timur Tengah, bahkan mendapatkan pengakuan dari Al-Azhar Mesir—sebuah capaian yang menunjukkan kualitas pendidikan yang dibangun oleh Guru Tua.
Perjuangan Guru Tua bukan tanpa rintangan. Beliau menempuh perjalanan panjang dari pulau ke pulau dengan perahu sederhana, menghadapi gelombang, badai, dan ancaman keselamatan. Bahkan, tak jarang perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Namun, semua itu dijalani dengan keikhlasan. Bagi beliau, dakwah bukan sekadar tugas, tetapi panggilan iman. Ilmu harus sampai, akhlak harus ditanamkan, dan umat harus dibimbing.
Di tengah keterbatasan, beliau justru menghadirkan kemudahan dalam dakwah. Tidak mempersulit, tidak menakut-nakuti, tetapi menghadirkan Islam sebagai rahmat—ramah, bijak, dan mencerahkan.
Hari ini, ketika kita memperingati HAUL ke-58 Guru Tua, pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah: apa makna keteladanan beliau bagi kita?
Di tengah era modern yang serba cepat, di mana informasi melimpah tetapi akhlak sering terabaikan, sosok Guru Tua hadir sebagai pengingat. Bahwa ilmu tanpa akhlak adalah kehilangan arah, dan dakwah tanpa hikmah adalah kehilangan makna.
Keteladanan beliau tercermin dalam tiga hal utama:
Pertama, keikhlasan dalam berjuang. Beliau meninggalkan kenyamanan, bahkan mempertaruhkan nyawa, demi menyebarkan ilmu.
Kedua, konsistensi dalam dakwah. Dari muda hingga akhir hayat, beliau tidak pernah berhenti mengajar dan membimbing.
Ketiga, keseimbangan antara ilmu dan akhlak. Beliau tidak hanya mencetak orang pintar, tetapi juga manusia yang beradab.
Meneguhkan Spirit dalam Bingkai Peradaban
Tema HAUL tahun ini bukan sekadar slogan. Ia adalah ajakan untuk melanjutkan estafet perjuangan. Meneguhkan kembali bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter.
Di tengah tantangan zaman—disrupsi teknologi, krisis moral, dan polarisasi sosial—nilai-nilai yang diwariskan Guru Tua menjadi semakin relevan. Kita membutuhkan lebih banyak pendidik yang ikhlas, lebih banyak dai yang bijak, dan lebih banyak institusi yang menjadikan akhlak sebagai fondasi.
Alkhairaat bukan hanya warisan fisik berupa madrasah dan pesantren. Ia adalah simbol peradaban—peradaban yang dibangun di atas ilmu, iman, dan akhlak.
Jejak yang Terus Hidup
Guru Tua wafat pada 12 Syawal 1389 H (1969 M), namun perjuangannya tidak pernah benar-benar berakhir. Ribuan madrasah, jutaan murid, dan nilai-nilai yang terus hidup menjadi saksi bahwa apa yang beliau tanam tidak sia-sia.
Seolah-olah, dari jejak itu kita mendengar pesan yang abadi:
bahwa hidup adalah tentang memberi manfaat,
bahwa ilmu adalah cahaya yang harus disebarkan,
dan bahwa akhlak adalah fondasi peradaban.
Maka, HAUL ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menata masa depan—dengan menjadikan Guru Tua sebagai teladan, dan menjadikan ilmu serta akhlak sebagai jalan peradaban. Walahu a’lam
Rifay (Redaktur Media Alkhairaat)

