Oleh: Nurdiansyah Lakawa
MEDIO Februari tahun ini, Pengurus Besar (PB) Alkhairaat dalam Lokakarya Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Alkhairaat di Aula Fakultas Agama Islam Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, menegaskan, pentingnya menghadirkan kembali ruh dan identitas pendidikan Alkhairaat. Follow up dari lokakarya itu, konon penyusunan kurikulum yang lebih terstruktur hingga pada tingkat modul pembelajaran.
Sampai sekarang ini, kita belum mendengar lagi kabar perkembangan bagaimana sistem pendidikan yang telah disusun oleh Majelis Pendidikan PB Alkhairaat. Namun bila boleh memberi saran, penulis ingin menegaskan satu prinsip. Hal ini sekadar perenungan penulis yang fakir ilmu, namun kiranya dapat dipertimbangkan.
Bermula ketika penulis teralihkan pada satu objek foto di media sosial: ruangan Museum Mini KH. Rustam Arsyad, ada quote/kutipan yang bergambarkan Habib Idrus bin Salim Aljufri, yaitu “al-madrasatu hiya al-ustaaz” yang artinya ‘madrasah adalah guru’, dimana terjemahan oleh museum ini: Kualitas Sekolah Ditentukan oleh Kualitas Guru”.
Saya pun terpikir, ungkapan itu bukan sekadar retorika. Ada filosofi yang mendalam di sana. Artinya, bila ingin membangun sekolah atau madrasah maka bangun gurunya. Bila guru ditempatkan sebagai inti pendidikan, maka secara sistemik madrasah akan terbangun pula.
Dalam banyak pendekatan modern, pendidikan sering direduksi menjadi sistem: kurikulum, manajemen, evaluasi, dan infrastruktur. Guru kemudian ditempatkan sebagai pelaksana dari sistem tersebut. Padahal dalam tradisi Islam, posisi guru jauh melampaui itu. Guru adalah: Pewaris ilmu para nabi, Penanam adab (ta’diib), Pembina kepribadian (tarbiyah) dan Teladan hidup yang konkret. Sebagaimana ditegaskan oleh seorang filsuf asal Malaysia, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, inti pendidikan Islam adalah ta’diib, yaitu penanaman adab. Dan adab tidak diajarkan melalui modul, tetapi melalui keteladanan. Nah, keteladanan sendiri kuncinya adalah Guru.
Dengan demikian, guru bukan sekadar bagian dari sistem, bukan sekadar pelaksana. Kasarnya bukan hanya sebagai budak peraturan. Justru gurulah penentu hidup atau matinya sistem itu sendiri. Tidak akan ada makna gedung megah, konsep kurikulum atau modul yang lengkap berbundel-bundel, tanpa guru yang menghidupkannya. Tanpa jiwa guru yang kuat, apalah arti semua itu.
Inilah yang dulu kita saksikan dalam sejarah awal Alkhairaat, semua murid Alkhairaat menjadi Guru. Dari produktifitas dalam mencetak guru itulah Alkhairaat secara sistemik sangat berkembang. Kemajuannya dapat dilihat pada tahun 1953, dengan dapat membangun gedung sekolah besar dan bertingkat. Madrasah ini, menjadi gedung termegah dibanding dengan sekolah lain di Sulawesi Tengah, bahkan bangunan pemerintah sekalipun.
Apalagi sepulangnya KH. Rustam Arsyad dari menempuh amanah sebagai guru di Kalimantan, Guru Tua membuat satu model pendidikan pencetak guru, yaitu Mualimin. Di sana, KH. Rustam Arsyad memegang amanah sebagai Direktur, melampaui struktur organisasi modern pada zamannya. Dimana lagi-lagi sistem pendidikan itu untuk mencetak para guru. Artinya, sistem Alkhairaat sejak awal bukanlah school-based system, melainkan teacher-based system.
Apakah maksud saya semua alumni Alkhairaat jadi guru? Tentu tidak begitu. Maksud saya, di Alkhairaat harus menjadikan guru sebagai profesi elit atau prestisius. Dihormati dan disegani. Sikap yang akhir-akhir ini hilang di negeri ini, dan menjadikan Indonesia terpuruk dalam pendidikan.
Coba perhatikan! Negara-negara seperti Singapore, Korea Selatan, dan Finland menunjukkan bahwa ketika profesi guru ditempatkan sebagai pekerjaan yang prestisius dengan melalui seleksi ketat, pendidikan tinggi, dan kepercayaan besar, maka kualitas pendidikan ikut terdongkrak, sebagaimana tercermin dalam capaian Programme for International Student Assessment (PISA) yang konsisten tinggi di negara-negara tersebut; meskipun pendekatannya berbeda, dari model disiplin kuat di Asia Timur hingga model kepercayaan profesional di Finland. Semuanya menegaskan satu hal: kemajuan sistem pendidikan sangat bergantung pada bagaimana sebuah bangsa memuliakan dan memperkuat peran gurunya.
Jika memang pemikiran ini dipertimbangkan, maka penekanan saya, sistem pendidikan Alkhairaat mesti menempatkan guru sebagai puncak. Inilah yang dapat disebut sebagai “sistem berbasis otoritas guru”.
Dalam wacana besar peradaban Islam, kita mengenal konsep sistem Imaamah dan Khilaafah sebagai bentuk kepemimpinan yang mengatur arah umat baik dalam ibadah dan kehidupan. Bila kita menarik terminology yang serupa pada pendidikan, siapa yang memiliki representasi: otoritas, tanggung jawab, dan fungsi strategis dalam membimbing kehidupan manusia. Maka jawaban itu kembali pada satu titik: guru. Inilah yang kemudian menjadi sistem.
Jika Imaamah dan Khilafah adalah wacana kepemimpinan dalam ibadah dan tata kehidupan negara, maka dalam dunia pendidikan kita dapat menyebutnya sebagai “Ustaadziyyah”.
Dalam sistem ini, lakukan:
- Prioritas Alkhairaat: Rekrutmen guru
Bukan sekadar mencari pengajar, tetapi mencari pembina manusia. Lewat lembaga pendidikan formal/non formal, beasiswa scholarship maupun fellowship. - Investasi Alkhairaat: Pembinaan guru
Penguatan kompetensi, spiritualitas, dan visi harus menjadi program inti. - Fondasi Alkhairaat: Kesejahteraan guru
Guru yang tidak sejahtera sulit melahirkan peradaban yang kuat. - Arsitek Kurikulum: Guru
Kurikulum tidak lagi kaku, tetapi hidup dalam kreativitas dan kebijaksanaan guru. - Maintenance Sistem: Melayani Guru
PB Alkhairaat, Komisariat dan seluruh sayap Alkhairaat terkonsentrasi pada satu tugas utama: Melayani guru sebagai pusat system pendidikan.
Dengan pendekatan ini, sistem tidak lagi kering dan administratif, tetapi menjadi hidup, dinamis, dan berjiwa.
Sebagai lembaga pendidikan yang lahir dari tradisi ulama, Alkhairaat memiliki modal historis dan ideologis yang kuat untuk mengembalikan sentralitas guru. Identitas Alkhairaat tidak dibangun oleh gedung atau kurikulum semata, tetapi oleh figur-figur guru yang membawa sanad keilmuan, akhlak, dan pengabdian. Olehnya menjadikan guru sebagai puncak sistem bukanlah gagasan baru, melainkan kembali kepada jati diri Alkhairaat itu sendiri.
Oh iya, ada satu hal yang sering luput kita renungkan secara mendalam. Dalam tradisi Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri disebut dengan nama “Guru Tua”.
Sepintas, hanya gelar penghormatan. Tapi coba telaah lebih jauh, nama itu tidak lebih popular disebut dengan gelar lebih formal lainnya seperti Syekh, Habib, al-Allamah, Sayid, Muassis Alkhairaat? Mengapa justru yang melekat di masyarakat Alkhairaat atau masyarakat umum “Guru Tua”? Dan bahkan bila kita ingat Guru Tua, kita ingat Alkhairaat, mengapa begitu?
Jawabannya karena jelas dari beliau; terpancar pewaris nabi, pengajar ilmu, pembina peradaban, dan suri tauladan yang nyata. Beliaupun secara tidak langsung adalah kurikulum berjalan, organisasi hidup, konsep/sistem yang bergerak, dan brand model pendidikan maju. Itulah yang kita harapkan ada di Alkhairaat saat ini sosok-sosok pelanjutnya Guru Tua yang memiliki peran yang sama.
Oleh karena itu, sebagaimana apa yang diharapkan PB Alkhairaat di awal tulisan ini, mencari ruh dan identitas Alkhairaat, maka menurutku ruh dan identitas Alkhairaat itu adalah: Guru. Tabe, wassalam.
*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media Alkhairaat/Guru MDA Alkhairaat Kalukubula 2017-2024

