Perbuatan baik harus dilandasi keikhlasan, karena tanpa keikhlasan perbuatan itu akan sia-sia belaka.

Allah SWT hanya akan melihat perbuatan hamba-Nya yang ikhlas, yaitu yang berbuat baik semata-mata untuk mendapat ridha-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kebahagiaan bagi siapa saja yang ikhlas dengan menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.

Selain itu, dengan ikhlas seseorang akan terhindar dari rasa takut, khawatir, cemas, sedih dan sebagainya.

Begitu besar faidah dari ikhlas ini, oleh karena itu marilah berusaha dan melatih diri kita agar kita dapat digolongkan kepada golongan hamba Allah yang ikhlas.

Ikhlas berarti memurnikan seluruh peribadatan hanya kepada Allah. Setiap amal ibadah kita, baik yang nampak, seperti shalat lima waktu, manasik haji, dan lain sebagainya, maupun yang tidak nampak, seperti Roja atau rasa harap.

Khouf atau rasa takut dan semua jenis amalan hati lainnya haruslah dimurnikan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala saja.

Yang tahu kedalaman keikhlasan seseorang adalah dirinya sendiri dan Allah SWT, karena Dia Maha Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi. Justru, orang yang menampak-nampakkan secara demonstratif keikhlasannya di muka umum, yang perlu dipertanyakan.

Menampakkan perbuatan baik sebetulnya tidak dilarang, asal tujuannya untuk memotivasi dan supaya dicontoh orang lain.

Jadi, meskipun menampakkan, hatinya tetap ikhlas. Hanya saja, menampakkan itu berpotensi mengganggu keikhlasan, maka hati dan mentalnya harus kuat betul.

Maka dari itu, Alquran menegaskan bahwa menyembunyikan tetap lebih baik. ”Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, menyembunyikan itu lebih baik bagimu”. (QS Albaqarah [2]: 271).

Ikhlas itu lillahi ta’ala! Do it and forget it, kerjakan dan lupakan. Dalam hal berderma, ikhlas adalah memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain.

Setelah itu kita lupakan bahwa kita pernah memberikan sesuatu kepadanya. Jangan pernah berpikir atau punya perasaan bahwa Allah SWT atau malaikat akan lupa tidak mencatatnya. Keliru besar.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian”. (QS Albaqarah [2]: 264).

Menurut hadits Rasul SAW, ”Orang yang memamerkan perbuatan baiknya, maka pada hari kiamat Allah akan memamerkan kepada makhluk-Nya dengan mengejek dan mengecilkannya.’‘ (HR Ahmad).

Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt.

Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya.

Sebaliknya, ia cemasi apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt. karena itu ia kerap menangis.

Rasanya, negeri ini masih butuh orang-orang yang ikhlas. Jangan sampai terjadi orang memberikan bantuan untuk pamrih kepentingan jangka pendek. Apalagi saling klaim jasa dan kebaikan yang pernah diperbuatnya untuk orang banyak. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)