PALU- Ketua Harian DPD Partai Golkar Sulteng, Imelda Liliana Muhidin membuka secara resmi Pendidikan Politik, tema ” Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua ” bertempat di Aula DPD Partai Golkar Sulteng.Sabtu.
Dalam sambutannya, Liliana menyebutkan kegiatan pendidikan politik tersebut merupakan rangkaian pendidikan Nasional. Pemilu memang masih tiga tahun lagi, jika dilaksanakan pada 2029. Namun penguatan demokrasi, khususnya kepada generasi muda, harus mulai dilakukan sekarang.
“Kegiatan ini merupakan salah satu tugas dan fungsi utama partai politik, yaitu memberikan pendidikan politik, meningkatkan partisipasi politik, serta melakukan rekrutmen politik,” katanya.
Ia berharap, siswa, mahasiswa dan budayawan muda mendapatkan penguatan pemahaman mengenai demokrasi, pemilu, serta partai politik.
“Pemilu bukan sekadar datang ke TPS, membuka surat suara, mencoblos, lalu selesai. Lebih dari itu, kita semua harus ikut mengawal proses demokrasi,” bebernya.
Ia mengatakan, satu suara sangat berharga, sebab menentukan arah pembangunan Indonesia ke depan. Jangan sampai kader bersikap apatis terhadap politik ataupun partai politik.
Dalam pendidikan politik menghadirkan tiga narasumber yakni Rektor UIN Datokarama Prof Lukman Thahir, menawarkan konsep Sulteng Pemilih Muda Berdaya 2029. Konsep tersebut diarahkan memperkuat partisipasi pemilih muda. Karena itu, pendidikan politik harus benar-benar menyasar siswa, pelajar, dan mahasiswa.
Ia menyebut tantangan demokrasi ke depan di antaranya, rendahnya literasi kepemiluan, tingginya paparan hoaks, politik uang dan pragmatisme politik terus berlangsung, serta pendidikan politik masih bersifat formal dan sesaat.
Sulteng Pemilih Muda Berdaya 2029, dibangun di atas empat pilar utama diantaranya yakni literasi demokrasi berkelanjutan, penguatan komunitas pemilih muda, simulasi demokrasi mini.
Dosen Untad Palu Prof Sahrul Saehan dalam paparan materinya mengatakan, para pemilih pemula, terus memperkuat intelektualitasnya. Jika melihat data statistik pemilu sebelumnya, jumlah pemilih pemula diperkirakan sekitar 10 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT).
“Pada Pemilu 2024, jumlah pemilih di Sulteng mencapai sekitar 2,23 jiwa. Dengan demikian, estimasi pemilih pemula berada kisaran 220 ribu hingga 330 ribu orang pada pemilu 2029,” katanya.
Olehnya kata dia, perlu ada kolaborasi antara KPU, sekolah, kampus, komunitas seni, budayawan dan organisasi masyarakat dalam meningkatkan partisipasi politik generasi muda.
” Program seperti ‘Demokrasi Goes to School and Campus’ dapat menjadi salah satu alternatif,” katanya.
Ia berharap, para pemilih pemula dapat menjadi motor penggerak demokrasi, sehat, inklusif, kritis, dan berintegritas.
“Pemilu 2029 bukan hanya tentang angka partisipasi, tetapi tentang kualitas demokrasi dihasilkan,” ujarnya.
Semantara Yunan Lampasio, mengatakan, pada 2029 nanti, sekitar 70 persen pemilih adalah pemilih pemula yang belum mengenal dunia politik.
Olehnya ia menyarankan partai Golkar segera membentuk tim kreator konten. Mereka bisa mengemas pesan politik menjadi menarik dan mudah di pahami.
“Media sosial jauh lebih penting dibandingkan baliho di jalan. Anak muda lebih tertarik pada Tik Tok dan konten kreatif dibandingkan spanduk dan baliho,”katanya.
Olehnya kata dia, menyarankan kepada ketua harian membuat penyegaran bagaimana menghadapi pemilu dan memanfaatkan potensi pemilih pemula dengan baik.

