PALU-, Sulawesi Tengah— Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Sulawesi Tengah menggelar kegiatan Pendidikan Buruh Transportasi Kontainer di Kelurahan Mamboro, Kota Palu, Ahad, 11 Januari 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh puluhan buruh transportasi kontainer dan menjadi titik awal program pendidikan buruh FNPBI se-Sulawesi Tengah dimulai dari Kota Palu.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Pimpinan Kota (PK) FNPBI Palu tersebut mengusung tema “Meningkatkan Kapasitas Anggota FNPBI untuk Melawan Serakahnomics”. Tema tersebut diangkat sebagai respons atas semakin masifnya praktik ekonomi eksploitatif merugikan buruh dan hanya menguntungkan segelintir pihak.

Dalam sambutannya, Ketua Wilayah FNPBI Sulawesi Tengah, Abd Wahyudin, menegaskan pentingnya pemahaman organisasi serikat bagi kaum buruh. Menurutnya, buruh tidak cukup hanya bekerja keras, tetapi juga harus memiliki kesadaran organisasi agar mampu melawan ketidakadilan struktural mereka hadapi.

“Buruh harus paham organisasi serikat. Ketika terjadi persoalan hubungan kerja, upah, PHK, maupun eksploitasi, buruh tidak lagi kebingungan karena sudah mengetahui apa menjadi hak-haknya dan bagaimana cara memperjuangkannya secara kolektif,” tegas Abd Wahyudin.

Sementara , Sekretaris FNPBI Kota Palu, Jalal Arianza, menekankan bahwa secara konstitusional buruh memiliki jalur hukum jelas dalam memperjuangkan hak-haknya. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan prinsip hukum ketenagakerjaan, pihak dapat mewakili dan menyelesaikan persoalan buruh adalah serikat pekerja/buruh dan pendamping hukum (pengacara) dalam pengadvokasian perselisihan hubungan industrial.

“Ini menunjukkan betapa pentingnya serikat buruh. Tanpa serikat, posisi buruh sangat lemah dalam menghadapi persoalan di dalam perusahaan, terlebih di tengah sistem ekonomi yang semakin eksploitatif,” ujar Jalal Arianza.

Ia juga mengaitkan kondisi buruh saat ini dengan konsep Serakahnomics, yakni praktik ekonomi serakah, hanya berorientasi pada akumulasi keuntungan segelintir elite dengan mengorbankan kesejahteraan buruh.

Menurutnya, Serakahnomics kini menjadi musuh utama kaum buruh dan tengah gencar dikampanyekan oleh FNPBI secara nasional.

“Kaum serakah inilah menjadi musuh bersama buruh. Mereka ingin memperkaya diri sendiri, sementara buruh terus diperas tenaganya dan hak-haknya diabaikan,” tambahnya.

Kegiatan pendidikan buruh tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi, diskusi interaktif, serta sesi tanya jawab membahas persoalan konkret dihadapi buruh transportasi kontainer di Kota Palu. Acara ditutup dengan foto bersama sebagai simbol komitmen kolektif untuk memperkuat perjuangan buruh di Sulawesi Tengah.

FNPBI Sulawesi Tengah menegaskan bahwa kegiatan pendidikan buruh tersebut, terus dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran, kapasitas, anggota dan organisasi buruh dalam melawan sistem ekonomi tidak adil (serakahnomicks).***