Esensi Lupa dan Ingat dalam Mengafal Al-Qurán

oleh -
Muhammad Sulhan

Penulis: Muhammad Sulhan

Al-Qur’an merupakan hadiah Maha cinta untuk seluruh makhluk di muka bumi, hadirnya bagai cahaya yang menyinari derap langkah hamba yang meniti jalan ketakwaan. Keistimewaan ayat-ayatnya  yang tidak pernah bercampur dengan kebatilan, terjaga setiap nashnya dari setiap perubahan, tak ada  kontradiksi antar ayat yang termaktub di dalamnya, keindahan gaya bahasa dan kandungan maknanya membuat satupun makhluk tak kuasa membuat ayat yang semisal dengannya, maka, jelaslah bahwa kehadiranya yang tiada cela menjadikannya sebagai hudan linnas dan penyempurna kitab sebelumnya.           

Bagi orang-orang yang beriman, narasi tentang pentas kehidupan ialah dunia sebagai lahan garapan tempat menanam benih-benih amal sholih dan negeri akhirat tempat menikmati hasilnya.  Sayang, jika gemerlap, dan hening malam terlewat tanpa lantunan Al-Qur’an. Merugilah kita  jika cerah dan kilaunya siang berlalu tanpa tadabbur maknanya.  

Syaikh Ali Jaber pernah mengungkapkan, “wa-Llahi jamaah sekalian, orang yang bersama Al-Qur’an tidak akan pernah merugi, berkah rizkinya, berkah umurnya, terjamin kebahagiaannya, yang penting kita berkenan bersama Al-Qur’an.” Ungkapan itu tentunya  selaras dengan kalam Rasulullah Saw;

“Suatu kaum tidak berkumpul di suatu rumah dari rumah Allah Swt (masjid) dalam rangka membaca dan tadarus Al-Qur’an, kecuali mereka dianugerahi ketenangan, diliputi rahmat, dikerumuni malaikat, dan dibanggakan Allah dihadapan para malaikat-Nya.” (HR Muslim)

Dari apa yang disabdakan Rasulullah tersebut tentu sangat jelas, bahwasanya rahmat Allah seketika turun, ketika saat ayat-ayatnya dibacakan. Rahmat inilah yang membuat kita senantiasa dalam kebaikan dunia dan akhirat.

Allah Swt mendesain kemampuan otak manusia dengan segala kapasitas yang sangat menakjubkan dengan segala potensi, baik dalam kemampuan dan kelemahannya.

Berkenanaan dengan “lupa” itu sendiri, di satu sisi menjadi suatu hal yang menarik dan bermanfaat. Misalnya saja dalam setiap pengalaman dan lika liku kehidupan yang menyakitkan dan mengecewakan yang terjadi di masa lalu, bila semuanya harus tersimpan dalam ingatan seseorang tentu jiwa manusia, maka dia akan terbelenggu dalam rasa sakit dan trauma yang mendalam. Tentunya hal ini akan menghasilkan suatu tingkah laku dan pengaruh yang tidak baik mengenai dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Jika dianalogikan dalam giat menghafal Al- qur’an, andaikan tak ada seorangpun yang mengalami lupa dalam menghafal Al-Qur’an, maka semua orang tentu akan menjadi hafidz  Qur’an, dan  indahnya perjuangan, kantuk, lelah, sakit kepala dalam menghafal tak akan terasa nikmatnya, terlebih lagi menghafal Al-Qur’an tak akan menjadi ajang berfastabiqul khoirot (berkompetensi dalam kebaikan). Terlebih lagi mungkin saja penyusunan Al-Qur’an dalam bentuk mushaf ditiadakan.

Para penghafal Al-qur’an memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt. Tentu hafalan yang diiringi kesolehan spiritual dan sosial, diiringi ilmu dan amal, ia yang diistilahkan ibarat mushaf yang berjalan. Sebagaimana untaian kalam Rasul mulia dalam hadisnya terkait derajat para ahlul Qur’an di sisi Allah sbb;

Dikatakan kepada pemilik Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta bacalah secara tartil. Sebagaimana anda membaca tartil di dunia. Karena kedudukan anda di ayat terakhir yang anda baca.” HR. Tirimizi, (2914) dan berkomentar: Hadits ini Hasan Shoheh. Albani mengomentari di Shoheh Tirmizi no. 2329 Hasan Shoheh. Abu Dawud, (1464.

Dalam sejarah hidup parapenghafal Al- qur’an, tiap detik waktu yang ia habiskan  ibarat tumpukan mutiara dalam kehidupan, menjadi jariah istimewa, pelajaran dan motivasi bagi lahirnya para ahlul qur’an di muka bumi. Cerita juang dan pengorbanannya dalam proses yang ia jalani membersamai Al-qur’an bagai lembaran- lembaran surat cinta dari orang yang kita cintai, selalu menggugah untuk dibaca dan diulang, tak usang dan lapuk dimakan zaman.

Selanjutnya mari kita lihat bagaimana pandangan Islam dan psikologi mengenai penyebab lupa dan ingat dalam memori kita…!

Dalam Al-Qur’an kata lupa atau yang disebut dengan Nasiy disebutkan sebanyak 21 kali dalam. Hal ini tentunya menjadi fakta bahwa perkara lupa menjadi sorotan penting dalam Islam, bahkan dalam penetapan hukum taklifi seseorang tidak akan terbebani oleh dosa dan mendapatkan rukhsah ketika dalam keadaan lupa.

Mengenai lupa Muhammad Utsman Najati menguraikan tiga makna lupa, yakni: pertama, lupa mengenai berbagai peristiwa, nama, dan informasi yang diperoleh seseorang sebelumnya, terdapat dalam surah Al-A’la ayat 6. Lupa yang bermakna lalai dalam  surah Al-Kahfi ayat 63, dan lupa dengan arti hilangnya perhatian terhadap suatu hal dalam surah At-Taubah ayat 67.

Ada satu kisah yang menarik yang terdapat dalam Al- Qur’an surah Al –Kahfi ayat 63 yang berbunyi ;

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ 

Menurut Syaikh Wahbah Az- Zuhaili, dalam menafsirkan ayat tersebut  yang berkenaan dengan seorang murid Nabi Musa, bahwasanya; Sang murid menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu. Penyebab aku lupa bercerita tidak ada kecuali syaitan dengan berbagai bisikannya.”

Menggaris bawahi kalimat “Penyebab aku lupa bercerita tidak ada kecuali syaitan dengan berbagai bisikannya”,  ayat tersebut kita bisa mengambil suatu paradigma berfikir melalui makna tekstual dan kontekstual, bahwasanya hal mendasar yang membuat lupa dan kelalian adalah syaitan.

Sedangkan dalam pandangan psikologi, Lahey menyatakan bahwa seseorang dapat lupa akan suatu informasi yang pernah diterimanya disebabkan beberapa hal, dalam berbagai teori yaitu: Pertama, Decay Theory. Artinya, informasi telah terlalu lama tersimpan dalam memori dan tidak digunakan.

Kedua, Interference theory Menurut teori ini, lupa bukanlah disebabkan oleh informasi telah tersimpan terlalu lama, namun karena terganggu oleh informasi lainnya. Misalnya karena informasi tersebut mirip dengan informasi yang akan diingat. Interference ini terdiri dari proactive interference dan retroactive interference. Proactive interference adalah terganggunya ingatan karena adanya informasi lama yang menghambat untuk mengingat informasi baru. Sedangkan retroactive interference adalah sulitnya mengingat informasi lama karena masuknya informasi baru.

Lalu ketiga, Reconstruction (schema) theory. Teori ini menyatakan bahwa informasi yang telah tersimpan menjadi sulit untuk diingat kembali bukanlah karena terlupa, namun karena muncul dalam bentuk yang distorted atau muncul dalam bentuk yang tidak tepat.

Keempat atau terakhir, Motivated forgetting. Teori ini menyatakan bahwa informasi tersebut menjadi hilang karena memang sengaja dilupakan, karena menimbulkan dampak negatif ketika mengingatnya.

Nah, menurut beberapa teori yang beragam di atas penyebab lupa tentunya tidak hanya karena kelalaian kita karena syaiton, tetapi juga ada pengaruh dalam perekaman, pemprosesan, dan penggunaan informasi itu sendiri. Jika kita mengaitkannya dengan hafalan Al- Qur’an tentunya harus sejalan dan seirama antara proses mengahafal, pemahaman ayat, dan pengamalannya.

Sedangkan untuk mengenali sistem kemampuan memori kita dalam mengingat dan menyimpan informasi mari kita pahami bersama paradigma dalam pandangan Islam mengenai cara menguatkan  ingatan atau hafalan itu sendiri, yakni melalui suatu riwayat menarik berikut ini :

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,”Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190)

Dalam pandangan Islam sendiri penyebab seseorang lupa disebakan karena cahaya ilmu tak mampu menembus gelapnya jiwa seseorang, karena kemaksiatan yang dikerjakannya menghasilkan dosa yang menggelapkan hati seseorang .

Sedangkan dalam Psikologi kognitif menurut Atkinson dan Shiffrin mengenai struktur ingatan dibedakan menjadi tiga sistem, yaitu Pertama; Sistem ingatan sensorik (sensory memory), di mana cara kerja memori sensori dalam merecord informasi atau stimuli yang masuk melalui salah satu atau kombinasi dari panca indra, saat informasi atau stimuli tersebut tidak diperhatikan akan langsung terlupakan, namun bila diperhatikan maka informasi tersebut ditransfer ke sistem ingatan jangka pendek.

Kedua menurut Atkinson dan Shiffrin lagi; Sistem ingatan jangka pendek atau short term memory (STM). Memori jangka pendek menjalani fungsinya sebagai penyimpanan transitori yang dapat menyimpan informasi yang sangat terbatas dan mentransformasikan serta menggunakan informasi tersebut dalam menghasilkan respon atas suatu stimulus.

Lalu yang ketiga; Sistem ingatan jangka panjang atau long term memory (LTM). Memori jangka panjang memiliki kapasitas yang tidak terbatas dan durasinya yang seolah‐olah tak pernah berakhir.

Sebagai tambahan, menurut Bower (1975) beberapa macam informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang meliputi; model spasial dari alam di sekeliling kita; pengetahuan hukum‐hukum fisika, kosmologi, sifat obyek dan segala sesuatu yang terkait dengannya; Keyakinan kita terhadap orang, diri sendiri, dan tentang bagaimana berperileku dalam situai sosial yang bervariasi; Nilai‐nilai dan tujuan sosial yang kita cari; Kelima, keterampilan motorik dalam mengemudif; dan keenam, keterampilan perseptual dalam memahami bahasa atau menginterpretasikan lukisan atau musik informasi‐informasi dalam sistem memori jangka panjang tersimpan secara terorganisir dalam berbagai cara.

Lalu bagaimana sumbangsi psikologi yang dipadukan dengan metode hafalan dalam menguatkan ingatan dan meminimalisir lupa? Di antaranya, memfokuskan perhatian; mengaktifkan pengetahuan yang relevan atau memahami makna kandungan ayat yang kita hafalkan; mengatur informasi baru atau menentukan target tambahan hafalan dan murajaah hafalan dalam satu waktu; membaca berulang dikenal dengan istilah muraja’ah atau tikrar yakni pengulangan ayat sampai terekam secara otomatis baik dalam penentuan durasi waktu dan kuantitas pengulangannya; mengembangkan ketertarikan atau didasari atas niat yang kuat, keikhlasan, keyakinan, dan istiqomah; meningkatkan memori visual atau mengaitkannya dengan proses sima’i, katabah, talaqqi, tadabbur makna dan kandungannya; menciptakan pohon ingatan atau  mengklasifikasikan kata kunci pada tiap-tiap ayat; menuliskan hal yang perlu diingat atau menuliskan ayat- ayat yang dihafal; memilih waktu yang tepat, mendapat cukup tidur, dan; melatih pikiran atau melakukan proses hafalan secara istiqomah atau kontinu.

Itulah beberapa uraian dan solusi untuk sahabat yang saat ini, tengah berjuang dalam proses menghafal Al Qur’an yaa, kritik dan saran yang kontrukstif dari para pembaca penulis harapkan untuk membenahi artikel sederhana ini.***

*Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Pascasarjana interdislipnary Islamic Studies, Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam.