Empat Kali Lebih Berisiko saat Bencana, Disabilitas Minim Dilibatkan dalam PRB

oleh -
Kiri ke kanan: Iftitah Zahra (moderator), Sultan, Asbiyah, dan Yassin Ali Hadu. (FOTO: media.alkhairaat.id/Iker)

PALU – Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) bersama IBU Foundation, CBM Global, dan FTPRB memaparkan uji coba Program Aksi Baik (Kemanusiaan yang Inklusi Berbasis Komunitas).

Pemaparan disampaikan pada kegiatan Talkshow Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Atrium Palu Grand Mall (PGM) Palu, Kamis (27/10).

Tiga narasumber dihadirkan dalam kegiatan itu, yakni Sultan dari Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sulawesi Tengah (Sulteng), Yassin Ali Hadu dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Sulteng, dan Asbiyah dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulteng.

Pada kesempatan itu, Sultan mengajak seluruh peserta talkshow juga pengunjung PGM untuk menyamakan persepsi mengenai konsep disabilitas berdasarkan UU RI Nomor: 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

“Perlu kita pahami konsep disabilitas itu seperti apa dan siapa, sehingga kita dapat membiasakan diri untuk tidak menyebut mereka dengan mengatakan orang cacat, atau rusak, atau tidak mampu, bahkan ada yang mengatakan memiliki kelainan,” kata Sultan.

Hal itu, kata dia, justru memunculkan stigma-stigma negatif kepada penyandang disabilitas.

Sultan juga mengatakan, penyandang disabilitas empat kali berisiko lebih tinggi ketika terjadi bencana, dibandingkan masyarakat umum.

“Hal ini terjadi karena keterlibatan para penyandang disabilitas dalam upaya-upaya penanggulangan bencana masih sangat minim. Kita boleh mengingat kejadian dari 2018, kalau bukan dari NGO kami tidak akan tahu apa-apa tentang pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, sampai detik ini, pihaknya belum pernah mendapatkan pelatihan-pelatihan dari pemerintah terkait dengan upaya penanggulangan bencana yang inklusif untuk penyandang disabilitas.

Sementara itu, Yassin Ali Hadu menuturkan sejumlah tantangan dalam uji coba Program Aksi Baik di lapangan. Tetapi tantangan itu dapat dilewati dengan berbagai media ketika survey.

“Kami pakai media atau aplikasi. Kalo narasumbernya teman tuli, dapat dilakukan tanya jawab melalui media gambar. Tapi kesulitan lain, biasanya karena mereka jarang bersosialisasi dengan lingkungannya, mereka masih malu berbicara, jadi kami kesulitan menggali informasi karena mereka sering diam,” tutur Yasin.

Tapi, kata dia, pihaknya mencoba meminimalkan kesulitan dengan memaksimalkan keluarga terdekat sebagai pendamping untuk membantu menyampaikan komunikasi.

Senada dengan Sultan, Asbiyah memaparkan bahwa konsep Aksi Baik dilatarbelakangi adanya penyandang disabilitas yang sering ditinggalkan dalam bantuan kemanusiaan.

“Penyandang disabilitas juga sering diabaikan dalam kegiatan atau siklus manajemen bencana dan jarang dianggap sebagai aktor penting,” ungkap Asbiyah.

Reporter : Iker/Editor : Rifay