PALU – Antusiasme tinggi ditunjukkan emak-emak purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Desa Kaliburu, Kecamatan Sindue Tombu Sabora, dalam mengikuti Pelatihan Keterampilan Usaha Mikro yang digelar oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU bekerja sama dengan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Jerman.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program lanjutan pelatihan psikososial yang sebelumnya telah dilaksanakan di sejumlah desa yang ditetapkan sebagai Desa Migran Emas oleh KP2MI, yakni Desa Guntarano, Labuan, Tibo, Kaliburu, dan Tambu. Pelatihan ini difokuskan pada peningkatan kapasitas ekonomi purna PMI dan komunitas desa melalui penguatan usaha mikro berbasis digital.
Koordinator Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Berbasis Komunitas (P2MI-BK), Moh Bagit Pagessa, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa, khususnya para purna PMI, agar mampu mengembangkan usaha secara lebih profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Sebanyak 25 peserta terlibat dalam kegiatan ini, terdiri dari purna PMI dan keluarganya, tim lokal, Satgas DEMIMAS, perangkat desa, PKK, pemuda, hingga tokoh masyarakat. Program ini juga mengedepankan prinsip inklusivitas dengan melibatkan mayoritas perempuan sebagai peserta utama.
Salah satu peserta, Dinar, mengaku pelatihan tersebut memberikan wawasan baru dalam mengembangkan usaha. Ia kini mulai memahami pentingnya legalitas usaha serta strategi pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar.
“Saya jadi berpikir untuk mengembangkan usaha, tidak lagi secara tradisional, tapi mulai memanfaatkan digital marketing,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Ibu Rinda, pelaku usaha gado-gado di kawasan pesisir Desa Kaliburu. Ia mengungkapkan bahwa tantangan kenaikan harga bahan pokok mendorongnya untuk berinovasi agar tetap bertahan di tengah persaingan.
“Yang penting rasa tetap enak dan menarik, pelanggan dari desa lain juga masih datang,” katanya.
Pelatihan ini menghadirkan fasilitator Budiman Jaya Anshari dari LPP Mitra Edukasi Indonesia. Materi yang diberikan mencakup manajemen konflik dan pondasi bisnis, inovasi produk lokal, perancangan model bisnis, manajemen keuangan dan harga pokok produksi (HPP), pemasaran digital, hingga legalitas UMKM.
Budiman mengaku terkesan dengan semangat peserta, khususnya para perempuan dari keluarga purna PMI yang dinilainya memiliki motivasi kuat untuk berkembang. Ia menilai potensi UMKM desa sangat besar, terutama dari sisi keunikan produk berbasis kearifan lokal.
“Produk UMKM desa punya keunikan, hanya perlu sentuhan inovasi dan strategi pemasaran agar bisa menembus pasar digital,” ujarnya.
Lebih jauh, ia berharap pelatihan ini tidak berhenti pada transfer pengetahuan semata, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan. Menurutnya, penguatan ekosistem UMKM membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga keuangan, dan komunitas.
Budiman optimistis, dengan dukungan yang konsisten, UMKM desa dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Harapannya, akan lahir UMKM unggulan dari Desa Kaliburu dan desa migran lainnya yang mampu bersaing hingga tingkat regional bahkan nasional, tanpa meninggalkan identitas dan kearifan lokal,” pungkasnya.

