PALU, MAL — Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah sebesar 8,32 persen pada triwulan I 2026 dinilai perlu diikuti dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif, khususnya pertambangan dan industri pengolahan berbasis nikel.
Direktur Studi Sosio-Bioekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Fiorentina Refani, mengatakan tingginya pertumbuhan ekonomi tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan pembangunan jika struktur ekonomi daerah semakin bergantung pada sektor tertentu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh 8,32 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Pada periode tersebut, industri pengolahan menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 15,09 persen.
Fiorentina mengatakan, perubahan struktur ekonomi Sulawesi Tengah dalam satu dekade terakhir menunjukkan semakin besarnya peran sektor pertambangan dan industri pengolahan.
Ia membandingkan struktur ekonomi Sulawesi Tengah pada 2014 dan 2024. Pada 2014, sektor pertanian disebut masih berkontribusi sekitar 34,4 persen terhadap struktur ekonomi daerah, sedangkan pertambangan dan industri pengolahan berada di kisaran 16 persen.
Sepuluh tahun kemudian, kontribusi pertanian disebut turun menjadi sekitar 15,8 persen. Sebaliknya, pertambangan dan industri pengolahan nikel berkembang hingga menguasai hampir 60 persen struktur ekonomi Sulawesi Tengah.
“Jadi, kita melihat ada pertanian yang turun drastis dan sektor ekstraktif naik secara drastis,” kata Fiorentina dalam Diskusi dan Workshop BiCARA Sulawesi Tengah di Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako, Selasa (29/9).
Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena ketergantungan terhadap sektor ekstraktif membuat perekonomian daerah lebih mudah terpengaruh perubahan kebijakan dan harga komoditas global.
Fiorentina mencontohkan kebijakan pembatasan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang berdampak terhadap aktivitas industri.
Berdasarkan informasi yang diterima CELIOS dari pekerja di Morowali, kondisi tersebut juga diikuti dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Selain kebijakan, harga nikel di pasar global turut memengaruhi industri. Fiorentina menyebut harga nikel pada awal September 2026 berada di sekitar 16.600 dolar AS per ton, sedangkan harga yang dinilai diperlukan untuk menjaga margin produksi berada di kisaran 17.000 dolar AS per ton.
“Karena sudah masuk ke pasar global, ada volatilitas harga. Kebijakan global dan implikasi ekonomi global akhirnya membuat harga nikel sangat tidak stabil,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. Pertumbuhan yang sebelumnya mencapai 11,91 persen pada 2023 turun menjadi 9,89 persen pada 2024, kemudian 8,47 persen pada 2025 dan 8,32 persen pada triwulan I 2026.
Data BPS kemudian mencatat ekonomi Sulawesi Tengah pada semester I 2026 tumbuh 6,64 persen secara kumulatif. Pada triwulan II 2026, pertumbuhan secara tahunan tercatat 5,06 persen.
Industri pengolahan tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi 44,37 persen, disusul pertanian, kehutanan, dan perikanan 15,60 persen serta pertambangan dan penggalian 13,79 persen.
Bagi Fiorentina, kondisi tersebut menunjukkan perlunya pemerintah memperkuat sektor ekonomi lain agar pertumbuhan Sulawesi Tengah tidak hanya bergantung pada industri ekstraktif.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi juga harus dilihat bersama kondisi sosial dan lingkungan masyarakat. Peningkatan nilai ekonomi, kata dia, belum sepenuhnya menggambarkan biaya yang ditanggung masyarakat akibat perubahan lingkungan dan aktivitas industri.
CELIOS, misalnya, menghitung meningkatnya biaya masyarakat untuk memperoleh air bersih serta biaya operasional nelayan akibat perubahan kondisi perairan.
Fiorentina mencontohkan nelayan yang sebelumnya dapat memperoleh ikan dalam jarak sekitar dua hingga tiga kilometer, tetapi kini harus melaut lebih jauh. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan bahan bakar dan waktu melaut.
“Kerugian-kerugian itu selama ini disepelekan atau tidak dicatat dalam data pemerintah,” ujarnya.
Karena itu, CELIOS mendorong diversifikasi ekonomi melalui penguatan sektor pertanian, kehutanan, perikanan, industri pengolahan skala rumah tangga, serta pariwisata berkelanjutan.
Menurut Fiorentina, Sulawesi Tengah memiliki sumber daya dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di luar sektor pertambangan dan industri pengolahan nikel.
Dalam pemodelan CELIOS, diversifikasi pada sembilan sektor ekonomi berpotensi menghasilkan pertumbuhan rata-rata sekitar 8,83 persen per tahun selama 20 tahun.
Model ekonomi restoratif yang dipaparkan CELIOS menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat pada tahap awal, tetapi meningkat secara bertahap dalam jangka panjang.
“Ekonomi restoratif naiknya pelan, tetapi akan terus naik sampai setidaknya 20 tahun setelah itu dilakukan,” katanya.
Fiorentina mengatakan pemerintah daerah perlu menentukan arah kebijakan ekonomi yang tidak menjadikan sektor ekstraktif sebagai satu-satunya tumpuan pertumbuhan.
“Pemerintah dan pemerintah daerah itu punya political will atau tidak?” ujarnya.
Ia menambahkan, riset dan data dari masyarakat sipil, komunitas, serta lembaga penelitian dapat digunakan untuk melengkapi data pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi Sulawesi Tengah.
Dengan diversifikasi tersebut, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah diharapkan tidak hanya tinggi dalam angka, tetapi juga lebih beragam dan tidak terlalu bergantung pada sektor ekstraktif.
