DONGGALA, MAL – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Watatu di jalur Trans Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, telah beroperasi sekitar dua tahun tanpa dilengkapi dispenser dan nosel untuk pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) ke tangki kendaraan.
Selama ini, pelayanan penjualan BBM di SPBU tersebut dilakukan secara manual menggunakan drum dan jeriken.
Kondisi itu dialami Ramli, warga Birobuli, Kecamatan Palu Selatan, saat membeli Pertalite di SPBU Watatu. Ia mengaku prihatin dengan sistem pelayanan yang ditemuinya.
“Sangat miris rasanya, masih ada SPBU yang lokasinya tidak jauh dari Kota Donggala, tetapi kondisinya sangat memprihatinkan seperti ini,” ungkap Ramli kepada media ini.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian Pertamina, kepolisian, dan Pemerintah Kabupaten Donggala. Ia juga mempertanyakan keberadaan tim pengawasan atau Satgas Monitoring BBM yang bertugas memantau penyaluran BBM di lapangan.
“Dispenser BBM tidak ada, mereka hanya menggunakan drum. Nozelnya juga tidak ada, sehingga saya melihat tadi mereka menggunakan jeriken untuk mengisi BBM ke kendaraan saya. Mau bagaimana lagi, terpaksa diterima apa adanya saja daripada tidak bisa sampai di Palu,” ujarnya.
Ramli juga mempertanyakan kepastian takaran BBM yang diterima konsumen dan alasan Pertamina mengizinkan SPBU tersebut beroperasi tanpa fasilitas pengisian sebagaimana SPBU pada umumnya.
“Apakah takarannya sudah sesuai? Masa Pertamina mengizinkan SPBU seperti ini beroperasi? Di mana slogan Pertamina, Pasti Pas?” katanya.
Alfred, salah seorang karyawan SPBU Watatu yang dipercaya sebagai pengawas distribusi BBM, membenarkan bahwa pelayanan menggunakan drum dan jeriken telah berlangsung sekitar dua tahun.
Ia mengatakan, pihak SPBU masih menunggu teknisi Pertamina untuk memasang peralatan pengisian BBM.
“Untuk sementara waktu, cara ini yang kami lakukan. Kami juga tidak mau terus-menerus seperti ini. Namun, pihak Pertamina hanya menjanjikan akan mendatangkan teknisi untuk memasang peralatannya, tetapi sampai sekarang belum juga datang,” ujar Alfred.
Menurutnya, pihak SPBU telah menunggu selama dua tahun. Namun, pemasangan peralatan belum terlaksana karena teknisi yang dijanjikan disebut masih memiliki kesibukan lain.
“Kami ini tidak juga mau begini, kami hanya dijanji-janji terus. Katanya teknisi masih sibuk dan belum bisa datang ke sini, tidak mungkin mau dipaksa,” tambahnya.
Alfred juga menyebutkan, pasokan Pertalite untuk SPBU Watatu mencapai 128 kiloliter (KL) per bulan. Sementara kuota Solar dibatasi sebanyak 16 KL per bulan.
Terkait laporan masyarakat tersebut, Iskan yang mewakili Pertamina menyampaikan terima kasih dan berjanji melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
“Terima kasih atas laporannya. Kami segera turun ke lokasi untuk mengecek kebenaran kondisi SPBU tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Retail Pemasaran dan Pengawasan SPBU wilayah Palu-Donggala, Made, yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp mengenai kondisi SPBU Watatu, belum memberikan tanggapan hingga berita ini ditulis. Pesan konfirmasi yang dikirimkan telah terbaca, tetapi tidak mendapat balasan.
Bupati Donggala Vera Laruni juga mengaku belum mengetahui secara langsung keberadaan dan kondisi SPBU Watatu di jalur Trans Kecamatan Banawa Selatan.
“Terima kasih atas laporannya. Untuk SPBU itu merupakan kewenangan Pertamina,” singkatnya.
