Mata Arfandi masih berkaca-kaca ketika ia mengisahkan perjalanan panjang bersama rombongan dari Desa Donggulu, Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), menuju Kota Palu.

Arfandi adalah Koordinator Napak Tilas Perjalanan Pendiri Alkhairaat, Habib Sayyid Idrus bin Salim (SIS) Aljufri atau Guru Tua dari Desa Donggulu menuju lokasi HAUL SIS Aljufri di komplek PB Alkhairaat.

Selama 4 hari, ia mengoordinir 17 rekannya untuk berjalan kaki menempuh jarak ratusan kilometer menuju pusat perguruan Alkhairaat, demi untuk mengenang 54 tahun berpulangnya Sang Guru ke haribaan Ilahi.

Baginya, bukan mau dipuji atau ingin terkenal, tapi cinta dan tawassul atas kesholehan Sang Guru-lah yang meringankan langkah kaki mereka untuk berusaha menapak medan panjang tak mulus itu selama berhari-hari.

Kerinduan. Itu juga alasan lain yang mendorong kedatangan Arfandi bersama rombongan menuju lokasi haul. Guru Tua sendiri pernah datang di desa mereka dan meninggalkan sebuah kursi yang hingga saat ini masih terawat dengan baik.

“Kami berharap dengan kedatangan Guru Tua di kampung, mendapatkan keberkahan dan dijauhkan dari bala bencana,” katanya.

Ia mengakui ada banyak tantangan dan rintangan yang harus dilalui selama perjalanan.

Di Kebun Kopi misalnya. Pada jalur paling ekstrem selama perjalanan itu, bahkan ada anggota rombongan yang hampir terjatuh karena kelaparan. Mereka terpaksa meminta bantuan dari warga Desa Donggulu untuk menyuplai makanan.

Melihat ada anggota rombongan yang kelaparan, ia pun memutuskan untuk istirahat di Kebun Kopi. Namun entah mengapa, mereka seakan digerakkan hatinya untuk terus melanjutkan perjalanan menuju Tawaili, wilayah Kota Palu.

Semua itu bukan apa-apa bagi mereka. Semua hanya secuil ujian dari sebesar apa cinta mereka kepada Habib Idrus. Selain itu, rintangan yang dialami juga tidak sebanding dengan begitu banyak kebaikan yang didapat selama perjalanan.

“Sepanjang perjalanan banyak dukungan, baik moril dan materil yang kami dapat. Itu semua karena kecintaan masyarakat dengan Alkhairaat dan Guru Tua,” ujar Arfandi, sembari mengusap air mata dengan ujung bajunya.

Kini mereka sudah tiba di Palu, disambut panitia haul di komplek PB Alkhairaat. Rasa syukur tak lupa ia ucapkan karena tiba dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Ia juga gembira karena sambutan hangat dan haru nampak dari mereka yang menyambut.

Namun, meskipun gembira, ia tetap tak bisa menyembunyikan raut kesedihan dari balik wajah lelahnya. Ada sesuatu yang terasa hilang ketika mereka tiba. Tidak ada lagi satu sosok penerus Sang Guru di tengah-tengah para penyambut.

Satu dari sepasang mata Guru Tua, Habib Sayyid Saggaf Aljufri memang telah berpulang ke rahmatullah. Ini adalah haul pertama Guru Tua tanpa keberadaan sosoknya.

Arfandi bercerita, hajat berjalan kaki bukanlah rencana dadakan. Arfandi mengaku bahwa ikhtiar itu memang sudah lama direncanakan. Itulah yang membuatnya sedih, karena dari rencana kala itu, yang akan menyambut kedatangan mereka adalah Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri.

“Sesuai rencana lalu, rombongan kami akan disambut Habib Saggaf bin Muhamad Aljufri. Tapi takdir berkata lain, beliau sudah berpulang terlebih dahulu,” katanya sedih, kembali menitikkan air mata.

18 pemuda ini tiba di Palu dan disambut Syarifah Zahra, istri dari Almarhum Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri, menjelang Shalat Dzuhur.

Selain Syarifah Zahra, turut hadir dalam penyambutan tersebut, Sekretaris Panitia Haul ke-54, Ustadz Suhban Lasawedi, Habib Thalib bin Abdillah Aljufri dan Kepala MTs Alkhairaat Pusat Syarifah Syaihun bin Abdillah Aljufri, Syarifah Sakinah Aljufri selaku Sekjend Pimpinan Pusat Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) Taufik Lasenggo dan Ketua PW HPA Sulteng, Dedi Irawan.

Ustadz Suhban mengatakan, setiap langkah demi langkah para pemuda yang menunaikan nazarnya pasti memiliki makna. Setiap detak nafas untuk menuju tempat Guru Tua sungguh memiliki arti. Baginya, apa yang dilakukan para pemuda itu sungguh mengetarkan hati warga Alkhairaat (abnaul khairaat) di seluruh wilayah Sulteng, bahkan di Indonesia bagian timur.

“Habib Idrus (Guru Tua) telah mendoakan setiap nafas abnaul khairaat ini menjadi ibadah di sisi Allah. Sehingga dari perjalanan ini, kami memberikan sambutan yang sungguh sangat luar biasa,” katanya

Reporter : Nanang IP
Editor : Rifay