Penulis: Ari Fahry
Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Palu

Setelah bencana 28 September silam, HUT kota ini yang mestinya menjadi hari bahagia kita semua berubah tiba-tiba. Sejak saat itu, momen penting kota ini berubah menjadi hari paling memilukan. Memori kolektif kita tidak akan pernah lupa bencana maha dahsyat itu, semua kita terkejut, kaget dan seolah tidak percaya, kita mengalami hal yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Benar, kita tidak ingin larut dalam kesedihan, kita tidak ingin hidup dalam bayang-bayang duka, kita ingin tetap semangat, optimis, bahwa Palu “rumah” yang kita tinggali bersama ini akan sama-sama kita rawat, kita jaga, dan kita benahi bersama-sama.

28 September 8 tahun silam saya melihat bagaimana kita benar-benar bagai sebuah keluarga, kita mungkin tidak saling mengenal, tapi masih sempat saling bertanya, saling berbagi dan membantu semampu yang kita bisa. Sebuah pemandangan kebersamaan yang sampai hari ini tak akan pernah saya lupa. Di tengah-tengah masyarakat kota ini bahkan “hidup” sebuah istilah, Malam kita korban, siangnya kita relawan.

Hari-hari pasca peristiwa itu, suasana Palu masih mencekam, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan nanti. Tapi Alhamdulillah, sampai hari ini kita tetap setia di sini, berdiri di atas tanah kota ini. Hari demi hari kita lalui, mengumpulkan kembali puing-puing “jiwa” yang terserak dihantam dahsyatnya gempa, tsunami dan likuefaksi. Pilihan untuk tetap tinggal di Palu, adalah pilihan sadar, sebab kita telah terlanjur mencintai tanah kota ini.

Delapan tahun pasca bencana, kehidupan kita berjalan normal kembali, bangunan-bangunan yang dahulu ambruk telah berdiri lagi. Situs-situs kota sudah berdiri gagah, jembatan, masjid, hotel, gedung-gedung perkantoran semuanya telah diperbaiki, seperti tak nampak bahwa bangunan itu pernah luluh lantak dihantam bencana.

Di tengah laju perjalanan kota ini kembali pada kondisi yang lebih baik. 28 September ini adalah masa yang tepat untuk menjeda sebentar, berhenti sesaat, menengok ke kiri dan ke kanan, jangan sampai ada yang terlupa, jangan sampai ada yang tertinggal di tengah lajunya kita berjalan. Mana tahu ada saudara kita yang belum benar-benar bangkit sampai hari ini, mana tahu ada yang belum tumbuh dengan kuat, dan boleh jadi, masih ada saudara kita yang menunggu disapa oleh kita sebagai sesama alumni 28 September 2018.

Kota ini harus berjalan ke depan, jangan sampai ada yang tertinggal. Palu harus kuat dengan tidak melemahkan yang lain, Palu harus bangkit dengan tidak mengubur teman, Palu yang kita ingin tinggal di dalamnya adalah “rumah” kita bersama untuk tumbuh menumbuhkan dan hidup menghidupkan.

Memori bencana 28 September mesti kita rawat bersama, bukan untuk melanggengkan kesedihan. Tapi untuk memetik banyaknya hikmah dan pelajaran yang perlu kita ambil di sana. Ingatan pada peristiwa monumental itu adalah warisan berharga pada generasi ke depan nanti, bahwa kota ini pernah hancur oleh bencana besar, dan kita semua berhasil keluar dari situasi sulit itu. Ingatan-ingatan itu perlu kita ceritakan pada anak-anak kita, bahwa di situasi sulit itu kita mampu berempati pada sesama, saling menolong, dan membantu sekalipun kita juga sama-sama mengalami situasi sulit yang sama.

28 September juga adalah hari bermuhasabah, bahwa sungguh kita hanyalah makhluk yang lemah dan tak memiliki daya. Kita lemah di hadapan yang maha kuasa. Kepongahan dan kesombongan kita tak berarti apa-apa disapu gempa, tsunami dan likuefaksi.

Dan hari ini, 48 Tahun sudah usia kota Palu, kita akan tetap di sini, mencintai kota ini dengan sepenuh hati. Bencana 28 September mungkin telah memisahkan kita dengan sanak keluarga dan kerabat terdekat, tapi kita juga dipertemukan dengan banyak orang-orang baik yang hadir membersamai kita. Kita mungkin kehilangan banyak rumah dan harta yang tidak sedikit, tapi kita juga mendapat pelajaran yang tidak kalah berharga dari harta yang pergi.

Selamat ulang tahun Kota Palu, Maliuntinuvu Nosarara Nosabatutu.