Cara Kita Sebagai Abnaul Khairaat Mengikuti Jalan Habib Saggaf (Bagian 2)

oleh -1.075 Kali Dilihat
Kakak beradik, Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri (kanan) dan Habib Abdillah bin Muhammad Aljufri (kiri), semasa hidup. (FOTO: IST)

OLEH : Habib Thalib bin Abdillah bin Muhammad Aljufri*

Habib Saggaf telah meninggalkan kita, tapi ilmu dan nasehat-nasehat beliau masih bisa kita dengar dalam rekaman video maupun lisan-lisan para muridnya.

Kita tidak ingin larut dalam kesedihan atas kepergian beliau. Sebagai Abnaul-khairaat, kita harus bangkit dan meneruskan perjuangan beliau. Itulah bukti cinta kita kepada Habib Saggaf, termasuk juga Habib Abdillah dan Guru Tua yang terlebih dulu berpesan kepada kita untuk senantiasa menghidupkan Alkhairaat.

Lalu bagaimana cara melanjutkan amanah tersebut?

Dalam satu kesempatan Haul, Habib Saggaf pernah menyampaikan wasiat Guru Tua kepada Abnaul Khairaat:

واصرف زمانك فى تعاليم الورى
لا تبتغى بدلا لهذا المقصد
“Habiskan umurmu untuk mengajar kebaikan (memberikan manfaat) kepada manusia, jangan sekali-kali engkau mencari pengganti untuk tugas yang mulia ini.”

Inilah cara kita dalam meniti jalan bersama Habib Saggaf dan datuk beliau.

Mengajar adalah tugas mulia yang dilakukan oleh Habib Idrus bin Salim Al Jufri semasa hidup hingga akhir hayat. Ini juga merupakan kebiasaan Habib Saggaf yang istiqomah beliau lakukan meski di usia senja. Beliau masih mengajar dan menulis berbagai pelajaran untuk dibukukan seperti Mahfudzat dan bahasa Arab Madrasah.

Sikap mencintai ilmu dan menghiasinya dengan amal ini adalah bagian dari jalan (thariqah) para pendahulu kita dari Salafus Shalihin. Jalan ini disebut Thariqah Alawiyah.

Ajaran utama dari Thariqah Alawiyah adalah ilmu dan amal, yang lainnya adalah Wara (berhati-hati pada perbuatan dosa), ikhlas, dan takut kepada Allah.

Guru Tua, dan penerus beliau Habib Abdillah dan Habib Saggaf Al-Jufri telah istiqomah dalam dakwah dan pendidikan dengan tujuan menuntun kita kepada jalan (thariqah) Allah dan Rasul-Nya. Mereka dan orang-orang shalih telah disifati oleh Al Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad:

ثبتوا على قدم النّبي والصحب # والتابعين لهم وتتبع

ومضوا على قصد السبيل إلى العلي # قدما على قدم بجد أوزع

“Mereka berjalan tegak dijalan Nabi saw dan para sahabat-sahabatnya, juga para tabi’in. Maka tanyakan kepada mereka dan ikutilah jejak mereka.
Mereka menelusuri jalan menuju kemuliaan dan ketinggian (derajat), setapak demi setapak (mereka menelusuri) dengan kegigihan dan kesungguhan”.

Kita beruntung, Guru Tua, Habib Saggaf adalah Murabbi yang telah menjadi penyambung menuju jalannya Nabi Muhammad Saw. Seluruh tenaga, pikiran, harta, dan waktunya mereka berikan untuk menuntun kita.

Kita pemuda pemudi Al-Khairaat, teruskan perjuangan guru-guru kita! Teruskan jalan yang telah dibangun, jalan yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

: كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبٌا وَلاَ تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلَكَ.

“jadilah kamu orang pandai, pelajar, pendengar atau pencinta. Dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima sebab kamu akan binasa”. (HR: Al-Baihaqi)

Di Al-Khairaat kita diajarkan untuk menjadi empat golongan beruntung sebagaimana hadits di atas: Menjadi orang yang ‘alim, dan orang yang selalu belajar, jika tidak mampu setidaknya ia senang mendengarkan ilmu, atau sekurang-kurangnya mencintai ilmu dan orang berilmu. Bentuk kecintaan ini dapat berwujud dukungan dengan apapun yang ia bisa kepada kegiatan belajar dan mengajar.

Kita juga diajarkan untuk selalu mengiringi ilmu dengan amal. Bayangkan jika setiap Abnaul Khairaat mengamalkan ilmu yang diperoleh dari setiap majelis, kelas, dan waktu-waktunya di Al-Khairaat, maka bukan cuma pada dirinya, insyaAllah akan tumbuh perbaikan dalam keluarga dan masyarakatnya.

Karena itu kita harus senantiasa mewaspadai peringatan Rasulullah SAW:

“إن أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه”

“Orang yang paling berat siksaanya pada Hari Kiamat adalah orang alim yang tidak bermanfaat sama sekali ilmunya”.

Bayangkan dunia ini sebagai lautan, sedangkan akhirat adalah tujuan. Amal dari ilmu yang kita miliki adalah bahteranya. Kita butuh kapal yang kokoh agar tidak mudah hancur diterjang ombak lautan maupun badai. Sedang kita juga harus sadar lautan bukan tempat tinggal abadi kita, sebagaimana dunia ini hanya sementara.

Maka teruslah berada dalam bahtera guru-guru kita. Belajarlah, dan amalkan ilmu yang kita miliki. Teladani bagaimana kehidupan Guru Tua, juga Habib Saggaf Al-Jufri yang seakan selalu menjadi perlombaan antara ilmu dan amal.

Bangunlah dari tidurmu! kejar dan wujudkan impianmu yang ingin berkumpul lagi bersama Guru tua Habib Idrus, Habib Muhammad, Habib Saggaf, Habib Abdillah dan juga bersama para shalihin dan para pecinta mereka. istiqamahlah meniti jalan mereka:

Allah SWT berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ، الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ …

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. QS Yunus[10]: 62-63.

Semoga kita dikelompokkan menjadi orang-orang yang mencintai ulama, cinta kepada para Aulia Allah dan dikumpulkan bersama mereka di akhirat. Amin

*Penulis adalah Pimpinan Ponpes Putra Alkhairaat Pusat Palu