PALU- Bupati Banggai Kepulauan, H. Rais Adam yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Muchsin H.S. Yasano, mengatakan, terlaksananya Musyawarah Daerah (Musda), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banggai Kepulauan adalah wujud nyata dari pemerintah daerah dalam menghimpun para ulama dan cendekiawan muslim Indonesia, menyatukan gerak dan langkah ummat Islam dalam mewujudkan cita-cita bersama.

“Saya mengharapkan, sinergitas pemerintah daerah kabupaten Banggai Kepulauan dan Majelis Ulama Indonesia Banggai Kepulauan, terus terjalin dalam melakukan tanggung jawab bersama, khususnya, dalam bidang keagamaan,” katanya saat membuka Musda MUI Bangkep, Sabtu, (4/12).

Olehnya ia berharap, melalui Musda ini, program-program Majelis Ulama Banggai Kepulauan dapat menjangkau seluruh komponen masyarakat, serta mengakomodir hal-hal baru yang tumbuh dan berkembang. Mengingat dunia ilmu pengetahuan dan teknologi semakin bergerak cepat. Di sinilah peran MUI diharapkan bersama pemerintah, menangkal sisi negatif dari teknologi agar tidak merusak moral anak bangsa.

“Momen ini juga dijadikan bahan evaluasi dan introspeksi diri, bagi pengurus MUI Bangkep sehingga lebih baik lagi kedepan. Bahkan harus maju dengan rasa percaya diri dalam mewujudkan program-program serta keputusan yang menyangkut kepentingan bersama dalam membangun dan mengembangkan organisasi,”jelasnya.

Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, yang diwakili oleh Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan, H. Abdul Gafar Mallo dalam sambutannya mengatakan, tugas MUI mengawal umat dan bangsa. Di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, ada dua kelompok yang bila keduanya baik, maka baiklah umat dan bangsa. Bila keduanya rusak, maka rusak pula umat dan bangsa. Dua kelompok tersebut adalah ulama dan umara.

“Ada dua kelompok masyarakat, bila dua kelompok itu baik, maka baik pula umat dan bangsa, bila keduanya rusak maka umat dan bangsa pun akan rusak. Dua kelompok itu yakni ulama umara,” jelasnya.

Ulama, kata Dekan Fakultas Agama Islam Unisa Palu itu, adalah sekelompok masyarakat yang takut kepada Allah, walau tidak melihatnya, karena titik tumpu rasa takut ada pada pengenalan zat yg ditakuti, orang yang lebih mengenalnya, dialah yang lebih takut kepada-Nya.

Abdul Gaffar mengatakan, MUI harus bersikap hurriyyah, yaitu independen, merdeka dan tidak tergantung atau terpengaruh oleh pihak-pihak lain dalam menjalankan tugas, mengeluarkan pikiran, pandangan dan pendapat.

“MUI juga harus terdepan merespon masalah-masaalah keagamaan dan sosial di tengah masyarakat,”tutupnya.

Reporter: IWAN LAKI
EDITOR: NANANG