BATUI – Sebagai bentuk nyata pelestarian satwa endemik dan penghormatan terhadap warisan adat Batui, Konau Institut bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Tolando resmi meluncurkan Wilayah Konservasi Maleo Sambal (KMS) di Bungin Sambal, Kelurahan Tolando, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, pada Selasa (13/5).
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penanaman simbolik dua biji telur burung maleo oleh tokoh adat Daka’nyo Tolando dan Binsilo Balantang, serta penanaman 115 pohon kemiri oleh Lurah Tolando bersama seluruh peserta sebagai simbol keberlanjutan dan harapan bagi generasi mendatang.
Prosesi peresmian diawali dengan pembacaan dan penandatanganan Piagam KMS, disaksikan oleh Perangkat adat Batui, Lembaga adat Batui, pemuda, dan masyarakat. Piagam tersebut memuat lima poin utama, yakni: Pertama, penetapan wilayah Bungin Sambal sebagai kawasan konservasi untuk perlindungan burung maleo dan ekosistemnya. Kedua, melindungi habitat Maleo dari perambahan, perburuan, pertambangan dan aktivitas merusak lainnya.
Lalu ketiga, pengelolaan berbasis kearifan lokal dan partisipasi masyarakat adat. Keempat, menguatkan peran lembaga adat, Perangkat adat, masyarakat adat dan pemuda dalam merawat hutan dan alam. Dan kelima, menjadi acuan resmi bagi semua pihak— termasuk pemerintah, aparat, dan lembaga pembangunan — bahwa segala kegiatan diwilayah ini harus menghormati nilai-nilai adat dan prinsip konservasi.
Dalam sambutannya, Lurah Tolando, Budiarto K. Abdurahman, menyampaikan bahwa pelestarian burung maleo bukan hanya soal ekologi, tapi juga soal identitas dan kehormatan masyarakat adat Batui.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu menjaga habitat burung maleo. Tanpa dukungan dari kita semua, kelangsungan hidup burung ini terancam,” ujarnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Konau Institut dan semua pihak mendukung kegiatan tersebut sebagai bagian dari amanah para leluhur.
Ketua Panitia Pelaksana, Ahmad Yasin Siyah, dengan penuh keyakinan mengungkapkan bahwa peluncuran wilayah konservasi tersebut adalah langkah pertama dari tekad bersama masyarakat Batui, untuk menjaga kelestarian burung maleo dan ekosistemnya di atas tanah adat telah lama diwariskan oleh leluhur.
“Ini bukan hanya soal melestarikan satwa, tetapi ini adalah bentuk penghormatan kami terhadap warisan leluhur tertanam dalam jiwa kami. Kami percaya bahwa menjaga hidup burung maleo di tanah adat Batui adalah kewajiban, sebagai penerus tradisi dan penjaga adat istiadat telah mendarah daging dalam kehidupan kami,” ujar Ahmad Yasin dengan penuh semangat.
Reporter: ***/IKRAM
Editor: NANANG

