SIapa yang diuntungkan?

Hampir semua hari raya yang dirayakan barat hari ini berasal dari ritual pagan dan penyembahan kuno. Itulah sebabnya Allah melindungi kita dan hanya mensyariatkan dua hari raya saja. Selain itu semuanya adalah tradisi buatan manusia.

Tradisi ini kemudian diambil, dikembangkan dan dibungkus oleh agama Nasrani hingga akhirnya sampai ke zaman modern.

Lalu di zaman sekarang siapa yang paling diuntungkan? Para pedagang. Perayaan ini dijadikan alat untuk menguras dompet manusia. Para penguasa ekonomi dunia mendukung dan memoles hari-hari ini agar terlihat indah, romantis dan wajib dirayakan. Dan mereka berhasil.

Fakta menunjukkan pada tahun 2020, Hari Valentine menjadi peringkat kedua pengeluaran terbesar tahunan. 27 miliar dolar dihabiskan hanya di Amerika Serikat. https://www.vue.ai/blog/retail-trends/valentines-day-2020-spend-27-billion/ atau https://www.upi.com/Top_News/US/2020/02/14/Americans-to-spend-record-274B-for-Valentines-Day-survey-says/6091581651123/?

Bayangkan kalau dihitung seluruh dunia, uang itu berpindah dari kantong masyarakat awam ke kantong segelintir elit yang mengendalikan dunia.

Di manakah posisi Islam dalam persoalan ini?

Islam adalah agama yang sempurna. Allah SWT menegaskan: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan umatnya agar tidak menyerupai tradisi keagamaan kaum lain: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Islam tidak mengajarkan perayaan Valentine, tidak menganjurkannya, dan tidak mengenalnya sebagai bagian dari syariat.

Bahkan Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan jelas membatasi hari raya umat Islam hanya pada dua hari: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Abu Dawud)

Namun penting untuk ditegaskan, Islam bukan agama yang kering dari cinta. Islam memuliakan kasih sayang, tetapi menempatkannya dalam bingkai yang suci dan bermartabat.

Allah SWT berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Cinta dalam Islam tidak dibangun di atas ritual, simbol kosong, atau hawa nafsu sesaat, tetapi di atas iman, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Allah.

Karena itu, bagi seorang muslim yang menjadikan Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dan para sahabat sebagai panutan, tidak pantas menjadikan Valentine sebagai perayaan.

Ia bukan budaya netral, bukan sekadar bunga dan cokelat, melainkan warisan ritual berhala yang dibungkus dengan kemasan romantisme modern.

Setelah sejarah ini diketahui, hujjah telah ditegakkan. Tinggal pilihan yang tersisa: ikut arus budaya global, atau berdiri tegak menjaga iman dan jati diri sebagai seorang muslim. Wallahu a’lam bish-shawab

Rifay (Redaktur Media Alkhairaat)