Setiap kali kata cinta dan romantisme disebut, warna merah hampir selalu menjadi simbol yang pertama terlintas di benak manusia.

Seolah-olah kita semua telah diprogram untuk mengaitkan merah dengan kasih sayang, bunga, cokelat, dan perasaan hangat.

Padahal, warna yang sama juga identik dengan darah, kekerasan, kebrutalan, dan penderitaan.

Di titik inilah pertanyaan penting muncul, bagaimana mungkin satu warna mewakili cinta dan romantisme, tetapi pada saat yang sama juga melambangkan darah dan kekerasan?

Dari pertanyaan inilah kisah tentang Valentine seharusnya dimulai. Sebab yang jarang disadari banyak orang, Hari Valentine sama sekali tidak berawal dari cinta sebagaimana yang digambarkan setiap 14 Februari, tepatnya Sabtu besok.

Sejarah mencatat bahwa perayaan ini justru berakar pada ritual pagan yang sarat kekerasan, penyembahan berhala, dan pelecehan terhadap perempuan.

Asal-usulnya justru berkaitan dengan ritual brutal dan tindakan yang sangat keji. Dalam ritual itu, perempuan dipukul dengan cambuk dari kulit kambing secara kejam dan tidak berperikemanusiaan. Dan setelah itu terjadi pemerkosaan

Untuk memahami asal-usulnya, kita harus mundur jauh ke masa sebelum kelahiran Nabi Isa ‘alaihis salam, bahkan sebelum berdirinya Kekaisaran Romawi.

Pada masa itu hidup seorang raja pagan bernama Amulius, penguasa wilayah yang kelak dikenal sebagai Italia. Ia adalah raja tirani yang mempertahankan kekuasaan melalui garis keturunan.

Dalam kisahnya, Amulius melakukan kejahatan besar dengan memperkosa seorang perempuan. Dari perbuatan itu lahirlah dua bayi kembar laki-laki.

Ketika Amulius mengetahui bahwa anak-anak tersebut berpotensi menjadi pewaris tahta, ia murka dan memerintahkan agar kedua bayi itu dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke sungai.

Namun seorang prajurit yang ditugaskan untuk melaksanakan perintah tersebut diliputi rasa belas kasihan. Ia tidak sanggup membunuh bayi-bayi itu dengan tangannya sendiri. Maka ia meletakkan mereka ke dalam sebuah keranjang dan menghanyutkannya ke sungai, menyerahkan nasib mereka kepada takdir.

Menurut legenda Romawi, keranjang itu akhirnya terdampar di daerah Palatina dan kedua bayi tersebut disusui oleh seekor serigala betina sebelum ditemukan oleh seorang gembala.

Dari kisah inilah lahir mitologi tentang Romulus dan Remus, yang kemudian dianggap sebagai pendiri Romawi.

Peristiwa disusui oleh serigala betina ini tidak berhenti sebagai legenda. Ia berkembang menjadi kultus. Serigala dipuja sebagai simbol kekuatan, kesuburan, dan perlindungan. Gua tempat peristiwa itu diyakini terjadi dinamakan Lupercal, dari kata lupus yang berarti serigala.

Dari sinilah muncul ritual tahunan yang disebut Lupercalia, yang dilaksanakan setiap pertengahan Februari.

Ritual Lupercalia bukanlah perayaan cinta, melainkan perayaan nafsu dan kekerasan. Dalam ritual ini, hewan-hewan disembelih, darahnya dilumurkan ke tubuh para lelaki, dan kulit hewan tersebut dipotong menjadi cambuk.

Nama-nama perempuan dituliskan, lalu perempuan-perempuan itu dicambuk dengan keyakinan bahwa hal tersebut membawa kesuburan.

Dalam banyak catatan sejarah, ritual ini juga diiringi dengan tindakan seksual yang dipaksakan dan tidak manusiawi. Darah, jeritan, dan kekerasan menjadi bagian dari apa yang mereka sebut sebagai ibadah kepada dewa cinta dan kesuburan.

Sumber-sumber sejarah Romawi klasik menjelaskan bahwa ritual Lupercalia ini dilakukan setiap tanggal 13 hingga 15 Februari. Tradisi ini berlangsung berabad-abad hingga memasuki era munculnya agama Nasrani di wilayah Romawi.

Pada abad ke-3 Masehi, muncul tokoh bernama Valentinus, seorang pendeta Nasrani yang menentang kebijakan Kaisar Claudius II yang melarang prajurit menikah. Valentinus menikahkan mereka secara sembunyi-sembunyi hingga akhirnya ditangkap dan dieksekusi.

Banyak riwayat menyebutkan bahwa eksekusinya terjadi pada 14 Februari. Setelah kematiannya, ia dikenang sebagai martir oleh sebagian pengikutnya.

Masalahnya, pertengahan Februari telah lama diisi oleh ritual Lupercalia. Ketika Nasrani akhirnya menguasai Kekaisaran Romawi, alih-alih menghapus tradisi pagan tersebut, mereka justru menggabungkannya dengan penghormatan terhadap Valentinus.

Inilah pola yang juga terjadi pada perayaan lain. Tradisi pagan tidak dihilangkan, tetapi diberi makna baru dan kemasan religius.

Dari sinilah Valentine modern lahir, sebuah perayaan yang menggabungkan ritual pagan tentang darah dan kesuburan dengan kisah pendeta Nasrani yang dieksekusi.

Warna merah yang hari ini dipuja sebagai simbol cinta sejatinya berasal dari simbol darah dalam ritual pagan tersebut.

Sejarah ini dapat ditelusuri dalam berbagai kajian akademik, salah satunya dalam publikasi ilmiah yang tersedia di OAPEN Library dengan judul kajian tentang ritual Lupercalia dan tradisi Romawi kuno (https://library.oapen.org/bitstream/handle/20.500.12657/30774/642728.pdf).

Keterkaitannya bisa dilihat di https://time.com/5527259/valentines-day-lupercalia/ Narasi sejarah ini juga dipaparkan secara panjang di https://www.history.com/articles/lupercalia atau https://en.wikipedia.org/wiki/Valentine%27s_Day?.