POSO – Bank Rakyat Indonesia (BRI) Branch Office Poso menggelar sosialisasi tanggap darurat bencana sebagai upaya memperkuat budaya risiko (risk culture) di lingkungan kerja, Kamis (23/4).
Sosialisasi tersebut sekaligus membangun pemahaman komprehensif terkait mitigasi risiko serta prosedur penanganan bencana secara terstruktur.
Pimpinan Cabang BRI Poso, Nofiar Jakananda mengatakan, kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat implementasi Business Continuity Management (BCM).
“Sektor perbankan harus mampu menjaga stabilitas layanan di tengah situasi yang tidak terduga, sehingga kepercayaan nasabah dapat terus terjaga,” ujarnya.
Oleh karena itu, kesiapan menghadapi bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi bagian penting dari tata kelola perusahaan yang baik.
“Agar, operasional perbankan tetap berjalan meskipun terjadi gangguan, baik akibat bencana alam maupun faktor lainnya,” imbuhnya.
Nofiar menambahkan, sosialisasi juga bagian dari strategi perusahaan dalam membangun ketahanan organisasi.
“Hal ini sejalan dengan komitmen BRI untuk memberikan layanan yang andal dan berkelanjutan di berbagai kondisi,” tukasnya.
Sementara itu, Kalak BPBD Poso, Darma Metusala, sebagai narasumber utama memberikan perspektif praktis terkait penanganan bencana.
Darma mengatakan, pentingnya kesiapsiagaan berbasis pengetahuan dan latihan yang terstruktur.
“Respons cepat dan tepat sangat menentukan dalam meminimalisir dampak bencana,” tegasnya.
Ia juga menguraikan berbagai jenis potensi bencana yang dapat terjadi di wilayah Poso, mulai dari gempa bumi hingga banjir. Sehingga penting pemetaan risiko serta penyusunan rencana evakuasi yang jelas dan terukur.
Selain itu, koordinasi lintas sektor, termasuk peran dunia usaha untuk mendukung upaya penanggulangan bencana.
“Sinergi antara pemerintah dan sektor swasta dinilai menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan daerah,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, BRI Poso dapat meningkatkan kesiapan internal sekaligus berkontribusi dalam upaya mitigasi bencana di daerah, serta menjadi langkah strategis membangun sistem kerja yang tangguh dan adaptif terhadap berbagai risiko.

