Bomba Sepi Pasaran, Disperindag: Penenun Mesti Inovatif

oleh
, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palu, Syamsul Saifuddin

PALU – Menghadapi perekonomian yang saat ini terpuruk, petenun bomba mulai mengeluh, menyusul bahan baku mahal, pemasaran sulit, sementara barang yang mau dipasarkan pun tidak tersedia. Menghadapi itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palu Syamsul Saifudin menilai, para penenun mesti berinovasi.

Menurutnya, seharusnya di masa pandemik seperti para penenun bisa berinovasi membaca situasi yang ada. Tidak harus memproduksi sarung, melainkan banyak jenis dan motif lain yang bisa dibuat.

“Jangan sarung terus yang dibuat, banyak bentuk lain yang bisa dibuat dengan berbahan dasar tenun bomba. Bisa tas, bisa selendang, masker, sandal, topi dan banyak jenisnya lainnya yang bisa menghasilkan uang yang lebih cepat,” terangnya saat diwawancari media ini, Senin (12/10).

Syamsul Saifudin mengatakan, jika mendapatkan kesulitan, pihaknya berharap penenun memberikan usulan melalui lurah setempat, dan lurah tersebut menyampaikan usulan itu ke Dinas terkait. Sehingga pihaknya mengetahui apa kendala yang dihadapi mereka.

“Selama ini tidak ada usulan jadi saya pikir aman- aman saja. Kalau toh ada berikan usulan itu, apa yang kalian inginkan,” ujarnya.

Syamsul mengaku, pemerintah dalam hal ini dinas terkait tidak lepas tangan. Pihaknya selalu proaktif menanyakan keluh-keluhan para penenun.

Menurutnya lagi, kondisi sulit seperti ini mulai dirasakan oleh penenun sejak habis tsunami dan pandemik.

“Karena bahan baku dari tenun bombanya mahal kami menawarkan kenapa tidak menggunakan bahan serat alam. Tetapi kata penenun hasilnya kurang bagus, kurang jreng atau kurang menyala jika menggunakan serat alam,” ungkap Syamsul.

Penenun, menurutnya, kurang suka menggunakan serat alam karena hasil dari tenunan tidak kemilau seperti jika menggunakan benang sutra dan nilon. Sementara kedua bahan tenun ini semua berasal dari luar negeri, yakni dari China.

Saat ini penenun yang ada di Kota Palu tersebar di beberapa tempat, seperti di kelurahan Watusampu, Baiya dan Pantoloan.

Sementara penenun dari Kelurahan Watusampu Lisnur yang dikonfirmasi mengatakan, saat ini produksi tenun bomba sangat minim. Selain harga tenunnya yang mahal, bahan bakunya pun ikut mahal.

“Apalagi kondisi perekonomian saat ini yang lesu, mana ada yang minat membeli sarung tenun bomba. Karena harganya begitu mahal, pasti mereka berpikir apalagi saat ini pandemik, warga hanya di rumah saja,” ujar Lisnur .

Lisnur mengatakan, jika begini terus kondisinya lama kelamaan penenun bomba akan punah beralih profesi lain. Untuk itu Seharusnya dalam masa pandemik begini pemerintah banyak memberikan pelatihan-pelatihan kepada pengrajin, sehingga banyak ide ataupun gagasan yang diberikan bagi penenun, sehingga mereka bisa bertahan menjadi petenun bomba.

Reporter: Irma
Editor: Nanang

Donasi Bencana Sulbar