PALU – Pelaksanaan Haul ke-58 Sayyid Idrus bin Salim Aljufri telah berakhir. Magnet dari acara religius tersebut banyak memberikan kesan positif, tidak hanya bagi mereka yang hadir untuk mengenang perjalanan sosok pendiri Alkhairaat yang kharismatik di bidang pendidikan.
Namun dari sisi lain, sejak dijadwalkannya pelaksanaan Haul, geliat ekonomi sudah mulai terasa. Dampaknya dirasakan mulai dari pedagang asongan dan kaki lima hingga sektor perhotelan.
Hardi Lingua, Sabtu (04/04), mengatakan salah satu dampak dari pelaksanaan Haul Sayyid Idrus bin Salim Aljufri setiap tahunnya adalah meningkatnya aktivitas ekonomi dari berbagai sektor.
Di antaranya yang paling terlihat dan dirasakan adalah sektor kuliner dan perhotelan, yang tentunya juga memberikan efek terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kita lihat saja Haul ke-58 Guru Tua tahun ini, geliat pedagang dari asongan, kaki lima sampai UMKM yang dibina sudah pasti memiliki keuntungan,” terangnya.
Belum lagi di sektor perhotelan, khususnya di wilayah Palu Barat yang juga merasakan dampak ekonomi dari pelaksanaan Haul Guru Tua. Hardi yang juga akademisi Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu ini menilai tingginya perputaran ekonomi dalam pelaksanaan Haul tersebut tidak hanya terjadi saat Festival Raudhah, namun sudah terasa jauh hari sebelumnya.
“Bayangkan hampir seminggu sebelum pelaksanaan Haul Guru Tua, sejumlah hotel dan penginapan telah dibooking oleh para tamu. Bahkan hotel dan penginapan tersebut belum mencukupi tamu yang akan hadir di acara sakral itu,” ujarnya.
Selain itu, sektor kuliner juga mengalami peningkatan. Di sepanjang arena masuk pelaksanaan Haul Guru Tua menjadi pasar dadakan dengan berbagai sajian makanan dan sandang yang ditawarkan di sepanjang Jalan Sis Aljufri yang kini menjadi salah satu objek wisata religi.
“Tentunya hal ini sangat luar biasa, geliat ekonomi yang penuh berkah tidak hanya bagi pedagang kecil namun juga di sektor lainnya yang memberikan efek pada daerah. Ini perlu menjadi perhatian agar ke depan pemerintah daerah bisa lebih ikut andil dalam hal ini,” ajaknya.
Ia mencontohkan, perhotelan maupun penginapan khususnya di wilayah Palu Barat karena tamu ingin akses ke lokasi pelaksanaan Haul lebih dekat, maka pemerintah daerah perlu memetakan hotel dan penginapan yang dapat digunakan. Demikian pula rumah makan, toko suvenir, serta tempat-tempat yang bisa diakses tamu dari luar daerah.
“Mereka ini tamu ada yang dari Ternate, Kalimantan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Papua bahkan dari Jawa. Tentu perlu petunjuk yang memudahkan mereka saat berada di Kota Palu, jadi ini perlu perhatian khusus pada Haul Guru Tua ke depan,” tutupnya.

