OLEH: Eka Erwansyah*

Saya datang ke Palu dalam rangka pelantikan Pengurus Wilayah Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Sulawesi Tengah.

Sebuah agenda organisasi profesi yang berjalan formal dan khidmat. Namun justru di sela-sela kegiatan itulah perhatian saya tertarik pada sesuatu yang tampak sederhana: sebuah kawasan perkampungan di Kota Palu.

Kawasan ini tidak mencolok. Tidak menawarkan simbol kemegahan. Tetapi dari sanalah muncul pertanyaan reflektif yang kemudian membawa saya pada satu kesadaran penting: bagaimana sebuah komunitas lokal mampu berperan besar dalam membentuk dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) unggul, bahkan jauh melampaui wilayahnya sendiri?

SDM Unggul Tidak Selalu Lahir dari Proyek Negara

Selama ini, pembangunan SDM sering dipahami sebagai urusan kebijakan negara: kurikulum, anggaran, regulasi, dan program berskala nasional. Semua itu penting. Namun pengalaman sejarah Indonesia menunjukkan bahwa SDM unggul tidak selalu lahir dari intervensi negara yang terencana, melainkan sering tumbuh dari ekosistem komunitas yang konsisten menanamkan nilai, pendidikan, dan etos hidup.

Komunitas Arab–Kaili di Palu adalah salah satu contoh menarik. Mereka bukan kelompok elite birokrasi, tetapi aktor sosial yang secara perlahan membangun fondasi pendidikan dan kepemimpinan masyarakat.

Pendidikan sebagai Instrumen Pemberdayaan

Kontribusi paling nyata komunitas Arab–Kaili terhadap pembangunan Sulawesi Tengah terlihat pada pendidikan. Bukan pendidikan yang semata-mata berorientasi mobilitas sosial individual, tetapi pendidikan sebagai alat pemberdayaan masyarakat.

Keberadaan Universitas Alkhairaat adalah bukti konkret. Perguruan tinggi ini tumbuh dari komunitas, berkembang dengan kemandirian, dan menjadi salah satu pusat pendidikan penting di Indonesia Timur.

Lebih jauh lagi, berdirinya Fakultas Kedokteran di Palu—yang kita pahami bersama sebagai institusi yang sangat kompleks dan sulit diwujudkan—menunjukkan bahwa komunitas lokal memiliki kapasitas, visi, dan keberanian untuk membangun SDM unggul berstandar nasional.

Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari tradisi panjang yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdian sosial.

Pemberdayaan Tanpa Jargon

Menariknya, komunitas Arab–Kaili nyaris tidak pernah menyebut kegiatannya sebagai “pemberdayaan masyarakat”. Namun praktiknya nyata:
•⁠ ⁠pendidikan sebagai prioritas utama,
•⁠ ⁠keluarga sebagai basis pembinaan karakter,
•⁠ ⁠tokoh agama dan pendidik sebagai teladan sosial,
•⁠ ⁠serta komunitas sebagai sistem kontrol moral.

Model ini tidak bergantung pada proyek jangka pendek atau siklus anggaran. Ia bekerja sunyi, berkelanjutan, dan lintas generasi. Justru karena itulah dampaknya kuat dan bertahan lama.

Integrasi Identitas sebagai Modal SDM

Komunitas Arab–Kaili di Palu juga memperlihatkan bahwa integrasi identitas memperkuat kualitas manusia.

Nilai Islam yang universal berpadu dengan kearifan lokal Kaili dan kesadaran kebangsaan Indonesia. Hasilnya adalah SDM yang:
•⁠ ⁠tidak terjebak eksklusivisme,
•⁠ ⁠adaptif di berbagai lingkungan, dan
•⁠ ⁠mampu berkontribusi di tingkat regional maupun nasional.

Inilah dimensi soft power SDM yang sering luput dari perencanaan kebijakan, tetapi sangat menentukan daya saing manusia Indonesia.

Catatan bagi Kebijakan SDM Nasional

Dari kawasan Arab di Palu, kita belajar bahwa:
1.⁠ ⁠SDM unggul lahir dari nilai yang hidup dalam komunitas, bukan hanya dari kebijakan tertulis.
2.⁠ ⁠Pendidikan berbasis masyarakat mampu melahirkan institusi besar dan bermutu.
3.⁠ ⁠Pemberdayaan paling efektif sering berlangsung tanpa label dan tanpa sorotan.

Jika Indonesia serius membangun SDM unggul—terutama di Indonesia Timur—maka pendekatan berbasis komunitas seperti yang ditunjukkan Arab–Kaili di Palu perlu diakui, dipelajari, dan diperkuat.

Penutup

Kunjungan singkat ke Palu dalam rangka kegiatan organisasi profesi itu akhirnya meninggalkan kesan mendalam. Sebuah kawasan yang tampak sederhana justru menyimpan pelajaran besar tentang bagaimana manusia unggul dibentuk secara konsisten, bermartabat, dan berkelanjutan.

Mungkin sudah saatnya kebijakan SDM Indonesia tidak hanya menoleh ke pusat-pusat besar, tetapi juga belajar dari kampung-kampung yang telah lama bekerja tanpa banyak bicara.

*Sekjen PB Persatuan Dokter Gigi Indonesia