Bahas Kontribusi Pendidikan Vokasi Sulteng pada Dunia Industri

oleh -
DR.Ali Kadir, Dewan Pembina Lembaga Pengembangan Pendidikan Sulteng ( LP2ST) dalam seminar wajah pendidikan Vokasi di Aula Dikjar Provinsi Sulteng, Kamis (25/1). (Foto: Irma/Media Alkhairaat)

PALU – Lembaga Pengembangan Pendidikan Sulawesi Tengah (LP2ST), menggelar seminar “Wajah Pendidikan Vokasi Sulawesi Tengah”. Kegiatan ini digelar di Aula Kantor Dikjar Provinsi Sulteng, Kamis (25/1)

Dewan Pembina LP2ST, Dr. Ali Kadir, mengatakan, seminar ini merupakan sumbangsih organisasi non-pemerintah dalam mendukung cita-cita Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, dalam mendorong pendidikan menengah dan tinggi untuk kontribusi terbesar terhadap angkatan kerja di daerah industri tersebut.

Tema seminar mencerminkan komitmen untuk memikirkan masa depan pendidikan di Sulteng, khususnya di industri pertambangan di Morowali dan sekitarnya. LP2ST mendukung program “Semua Bisa Kerja” yang dicanangkan oleh Gubernur, menjadikan pertumbuhan daerah sebagai hasil dari anak-anak muda yang kompeten dan siap bersaing.

“Dalam upaya mencapai visi ini, gubernur Sulteng mencanangkan revitalisasi pendidikan, termasuk hubungan dengan dunia industri, ketenagaan pendidikan, sarana-prasarana, dan manajemen pendidikan. Konsep SMA Plus sebagai integrasi langsung dengan dunia kerja juga menjadi perhatian, mengajak SMA di daerah untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja.

Seminar ini diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap dunia pendidikan di Sulteng, menyoroti gap dalam pendidikan vokasi nasional, serta membawa pencerahan bagi semua pihak yang terlibat.” ujar DR Ali Kadir.

Sementara itu, dalam kegiatan itu, Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Provinsi Sulteng Yudiawati Vidiana mengatakan, vokasi atau pendidikan kejuruan diselenggarakan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai, yang terampil dan sesuai dengan spesifikasi kerja yang dibutuhkan pasar industri. Pendidikan vokasi pada pada saat ini menjadi peluang untuk mendorong partisipasi peningkatan pertumbuhan angkatan kerja, produktivitas ekonomi kesejahteraan yang lebih pesat.

“Kita sadari bahwa era revolusi industri 4.0 menuntut adanya angkatan kerja yang adaptif kreatif dan memiliki keseimbangan antara hard skill dan soft skill, serta menguasai teknologi informasi tapi tidak kehilangan karakter dan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Dalam kaitan ini program semua bisa kerja merupakan terobosan dari visi misi gerak cepat pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, yang bertujuan membuka akses dan penciptaan lapangan kerja baru di masyarakat, guna mengurangi tingkat kemiskinan terbuka dan pengangguran,” ujar Yudiawati Vidiana.

Dia mengatakan, dengan masuknya investasi bertumbuhnya industri kebijakan hilirisasi telah menjadi benang merah bagi meluasnya kesempatan bekerja di masyarakat, antara lain dengan rekrutmen tenaga kerja yang masih dari berbagai perusahaan berinvestasi di Sulteng.

“Oleh karena itu, untuk menyambut peluang-peluang itu, maka seminar yang digagas oleh LP2ST saya pandang strategis, sebagai langkah awal yang sangat penting dalam rangka memajukan pendidikan vokasi di negeri 1000 megalit,”

Dia berharap, hasil diskusi dan rekomendasi yang digali dari seminar ini, akan menjadi acuan bagi perangkat daerah dan stakeholder.

Reporter: IRMA
Editor: NANANG