Alumni UIN Datokarama Diharap Menjadi Ilmuwan yang Berkarakter Religius

oleh -

PALU – Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu sejatinya harus menjadi ilmuwan yang berkarakter religius, sekaligus agamawan yang berpola pikir saintifik.

Alumni UIN Datokarama Palu harus bisa menyelaraskan tuntutan kebutuhan kehidupan di era revolusi industri 4.0 saat ini, di mana kecerdasan intelektual tidak menjadi satu-satunya kompetensi untuk survive, tapi juga kecerdasan spiritual, kecerdasan sosial dan juga kecerdasan emosional.

Hal ini menjadi salah satu poin pesan almamater yang disampaikan Rektor UIN Datokarama Palu, Prof Dr Sagaf Pettalongi pada kegiatan wisuda sarjana dan pascasarjana, di Gedung Auditorium UIN, Senin (20/03).

“Perkembangan kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) akhir-akhir ini, misalnya. Dapat dipastikan akan melahirkan disrupsi pada semua sektor kehidupan masyarakat di masa yang akan datang, bahkan telah dimulai saat ini,” katanya.

Di satu sisi, kata dia, AI memiliki manfaat bagi kehidupan masyarakat, mulai dari pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga transportasi, dan lainnya.

Namun, di sisi lain, lanjut dia, AI dapat mengambil alih tugas-tugas yang dulunya dilakukan oleh manusia. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya pengurangan pekerjaan pada bidang-bidang tertentu yang menimbulkan masalah sosial dan ekonomi, seperti pengangguran dan kemiskinan.

“Oleh karena itu, sekali lagi, bila para sarjana hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, dia akan tergusur dan dikalahkan oleh AI. Ada satu kompetensi penting yang harus dikembangkan, yaitu kreativitas. Meskipun AI dapat melakukan tugas-tugas tertentu secara efisien, namun AI masih tidak memiliki kreativitas seperti manusia,” jelasnya.

Menurutnya, bila para sarjana memiliki daya kreativitas, maka AI bukanlah sebuah ancaman, melainkan sebagai partner dalam melahirkan karya-karya bermutu, sebagai asisten dalam pengambilan keputusan secara bijak, cepat dan akurat.

“Hal penting untuk dikembangkan saat ini adalah potensi-potensi insaniyah (humanity) yang tak tergantikan oleh teknologi,” katanya.

Menurutnya, kampus adalah miniatur dari kehidupan bermasyarakat. Di kampus ini, kata dia, alumni telah melalui banyak hal selama studi.

“Berbekal ilmu pengetahuan, skill dan nilai-nilai moderasi yang telah kalian miliki, saya yakin kalian akan mampu beradaptasi dan berkompetisi di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Sebab, kata dia, melalui implementasi kurikulum dengan pendekatan integrasi keilmuan, para alumni telah dibekali bukan hanya ilmu-ilmu agama tetapi juga ilmu-ilmu di bidang sains dan teknologi.

Ia tak lupa berpesan kepada para sarjana untuk memberikan konstribusi positif dalam memberikan
pendidikan politik yang sehat bagi masyarakat, dalam rangka menyonsong perhelatan Pemilu serentak pada tahun 2024.

Reporter : Hamid
Editor : Rifay