ACT Sulteng Beri Satu Unit Motor ke Pemulung

oleh
Kepala ACT Cabang Sulteng Normarjani Loulembah menyerahkan satu unit motor kepada Siamin di rumahnya , Jumat (29/5). (FOTO: MAL/Ikram)

PALU – Lembaga Global Aksi Cepat Tanggap (ACT) Cabang Sulawesi Tengah menyerahkan bantuan satu unit kendaraan sepeda motor kepada seorang pemulung, Siamin (60).

Penyerahan satu unit bantuan sepeda motor dilakukan Kepala ACT Cabang Sulteng Normarjani Loulembah, berlangsung di rumah Saimin,  Jalan Rajamoili, Kota Palu, Jumat (29/5).

Kepala ACT Cabang Sulteng Normarjani Loulembah  mengatakan, bantuan yang mereka berikan ini adalah program mobile sosial rescue (MSR).

“Yang mana tim kami, berkeliling mencari masyarakat membutuhkan bantuan dan kami menaikan konten kampanye disalahsatu link co founding,” kata Normarjani.

Ia  mengatakan lagi, setelah dananya terkumpul, lalu disalurkan tergantung kebutuhan masyarakat. Terdapat beberapabentuk bantuan, diantaranya pembangunan rumah, biaya kesehatan dan lainya.

“Jadi ada beberpa konten disesuaikan kebutuhan masyarakat,” ujar Nani panggilan akrabnya.

Ia menyebutkan, kali ini pihaknya memberikan bantuan kepada Siamin sepeda motor, untuk melancarkan pekerjaan dilakoninya sebagai pemulung, sebagaimana kita lihat bersama gerobak sampahnya ditarik dengan sepeda tidak layak lagi.

“Dengan bantuan sepeda motor ini, anaknya bisa membantu pekerjaan dalam menambah pendapatan ekonomi,” ujarnya.

Selain sepeda motor kata dia, pihaknya juga memberikan dana keperluan keluarga.

Menurutnya, pekerjaan pemulung dan petugas kebersihan patut diapresiasi dan perlu mendapat perhatian. Sebab dengan adanya mereka, sampah-sampah tidak berserakan dimana-mana, yang sebagian masyarakat tidak memiliki  kesadaran akan kebersihan membuang sampah sembarang tidak pada tempatnya.

” Adanya mereka sampah berserakan dapat diminimalisasi,” ujarnya.

Atas bantuan diberikan ACT Sulteng, Siamin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih.

Ayah dari empat orang anak ini sudah 20 tahun lebih melakoni pekerjaanya sebagai pemulung. Tiga dari anaknya sudah putus sekolah. Hanya anak keempat bersekolah dan tinggal bersama sanak keluarga lainnya.

Sementara Kustia (56) istri dari Saimin wafat seminggu  usai bencana tsunami 28 September silam yang juga menyapu bersih rumah mereka. Kini mereka hanya tinggal dan mendirikan rumah sementara di lahan milik orang berbaik hati. (Ikram)




Iklan-Paramitha