PALU – Warga Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Sulawesi Tengah (Sulteng) di Palu, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1444 H, Sabtu (22/10) malam di pelataran depan Sekretariat KBB, Jalan Danau Poso.
Acara berlangsung semarak dan hikmat, diawali pembacaan Kitab Maulid Simtudduror oleh para pemuda Banjar.
Dalam ceramahnya, Habib Abdul Bari bin Salim bin Smith menceritakan sejumlah kisah keagungan akhlak Rasulullah dan keutamaan membaca shalawat.
Sebagian dari akhlak Nabi yang terpuji, kata Habib Bari, adalah sikap pemaaf dan kasih sayang terhadap sesama. Meskipun sering dicemooh, dihina, difitnah, dan disakiti orang lain, Rasulullah tetap tabah dan menerima perlakuan mereka dengan lapang dada.
“Bahkan membalas perlakuan kasar mereka dengan lemah lembut dan kasih sayang serta mendoakan mereka agar segera menerima petunjuk dari Allah SWT, sebagaimana firman Allah dalam surah Al Imran ayat 159,” ujar Habib Bari.
Sementara itu, Ketua KBB Sulteng, H. Muhammad Zain Halud, mengatakan, warga Banjar di daerah ini telah turun temurun hidup berdampingan dengan masyarakat beragam suku di Sulawesi Tengah. Karena itu, eksistensi orang Banjar khususnya dalam tradisi dan kegiatan keagamaan tidak diragukan lagi.
“Jumlah orang Banjar di Sulawesi Tengah cukup banyak. Mencapai ribuan orang,” kata Zain.
Namun ia mengakui, belum seluruhnya terdata dengan baik. Karena itu, kata dia, pengurus KBB yang baru di SK-kan akan melakukan konsolidasi dan pembentukan organisasi KBB di seluruh kabupaten/kota di Sulteng.
Menurut Zain, keberadaan orang Banjar saat ini bukan saja bermukim di wilayah NKRI, tetapi telah mendunia, mulai dari negara-negara ASEAN, Saudi Arabia bahkan hingga ke Madagaskar Afrika.
“Kami telah menerima undangan menghadiri Pra Kongres KBB Sedunia di Balikpapan akhir bulan Oktober ini,” ujar Zain Halud.
Sebelumnya, Ketua Panitia Maulid, H. Sofyan Arsyad memaparkan hubungan antara Alkhairaat dan Bubuhan Banjar di Palu, yang sulit untuk dipisahkan.
Kata dia, hubungan emosional tersebut telah terjalin sejak masa Guru Tua, saat para sesepuh Banjar menimba ilmu di Alkhairaat, serta dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga kini.
Dalam literasi sejarah, lanjut dia, terdapat sejumlah nama sesepuh Banjar di Palu yang merupakan murid utama tokoh pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Aljufri. Bahkan menjelang wafatnya Guru Tua, diantara mereka menerima wasiat sebagai pelaksana penyelenggaraan jenazah pemakaman sang guru ketika itu.
“Seperti memandikan/mengkafani (KH. Hasbullah Arsyad), pembacaan talqin (KH. Rustam Arsyad) dan pemandu acara pemakaman (KH. Bahrain Thayeb),” ungkap Sofyan.
Dalam banyak hal, kata Sofyan Arsyad, Kalimatan Selatan dan Sulawesi Tengah juga punya banyak kesamaan.
“Contohnya, jika di Palu dikenal sosok Guru Tua, Kalsel juga miliki Guru Sekumpul. Bila di Palu setiap tanggal 12 Syawal diadakan Haul Guru Tua, maka di Martapura Kalsel juga rutin digelar Haul Guru Sekumpul setiap 5 Radjab,” ujarnya.
Selain 400-an warga Banjar, turut hadir dan memberikan sambutan Gubernur Sulteng yang diwakili Asisten III H. Mulyono.
Hadir pula Pimpinan Ponpes Raudhatul Musthafa Lil Khairaat Habib S. Idrus bin Ali Alhabsyi, anggota DPRD Sulteng H. Hidayat Pakamundi dan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sulteng, Drs. H. Tarsi, SH, M.HI. */RIFAY

