PALU – Anggota DPRD Provinsi Sulteng Yahdi Basma dari Fraksi Nasdem angkat bicara terkait pengeroyokan atau pemukulan terhadap Muhammad Wiranto Basatu, Presiden Mahasiswa Universitas Tadulako (Presma Untad) oleh oknum Polisi yang merupakan anggota Densus 88, pada Sabtu (1/1) akhir pekan kemarin.

“Kejadian itu sangat disayangkan, harusnya Anggota Kepolisian selaku penegak hukum hadir sebagai pengayom bukan justru sebaliknya. Apalagi korbannya seorang mahasiswa yang memegang jabatan sebagai Presiden Mahasiswa Untad. Ini bisa memicu gelombang konsolidasi dan protes kampus-kampus,” sesal Yahdi Basma Senin (3/1).

Menurut Koordinator Persatuan Aktivis (Pena) 98 Sulteng itu, DPRD akan segera melakukan koordinasi dengan pihak Kapolda Sulteng, guna membicarakan terkait pelanggaran etika yang telah masuk ke ranah kriminal.

Senada dengan itu, Mahamuddin selaku Mantan Ketua Umum HMI Cabang Palu mengatakan, bahwa ini peristiwa kedua ia tangani dimana melibatkan Anggota Kepelolisian. Pertama soal kasus Asusila yang melibatkan Kapolsek Parigi, dan kedua kasus pemukulan (pengeroyakan dan penganiayaan terhadap mahasiswa Untad).

“Semua orang tahu bahwa tindakan pemukulan itu kriminal, jika demikian kasus pemukulan yang dilakukan oleh enam orang anggota kepolisian (Densus 88) kepada Wiranto wajib diproses secara hukum, karena tidak ada satu orang pun di negara ini yang kebal hukum. Jika dalam beberapa hari kedepan kasus ini belum menemui titik terang, artinya integritas penegerak hukum khusunya Polda Sulteng patut dipertanyakan keberadaannya”, tutup tokoh Pemuda Parigi Moutong itu.

Diketahui Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Tadulako (Untad), Moh Wiranto Basatu menjadi korban pengeroyokan sejumlah oknum polisi. Pengeroyokan tersebut terjadi di Kompleks Bumi Roviga Jl Untad 1, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu awal tahun ini.

Penasehat hukum Wiranto, Proyogo Alwi Yunus mengatakan, kejadian itu bermula saat kliennya sedang dalam perjalanan mengenderai mobil. Saat di depan Rumah Sakit (RS) Untad, Wiranto berpapasan dengan tiga pengendara motor yang salin berboncengan, atau berjumlah enam orang.

“Enam orang itu ugal-ugalan dengan berjalan zigzag di jalan. Mereka kemudian melontarkan ejekan melalui gerakan tubuh dan tertawa kepada Wiranto,” ujar Prayogo, Ahad kemarin.

Melihat hal tersebut, Wiranto kemudian menanyakan maksud dari ejekan yang tujukan terhadapnya. Keenam orang tadi justru merespon dengan suara keras meminta Wiranto agar berhenti dan turun dari kendaraannya. Namun Wiranto tidak menggubris dan tetap melanjutkan perjalanan ke rumah keluarganya di BTN Bumi Roviga.

Keenam pelaku ternyata terus membuntuti hingga sampai di rumah keluarga korban.

“Setiba di lokasi, di situlah terjadi cekcok antara Wiranto dengan keenamnya. Kemudian terjadi pengeroyokan dari enam orang tadi kepada Wiranto,” terang Prayogo.

Atas kejadian itu, baju Wiranto sobek dan mengalami lebam nyaris di seluruh bagian tubuhnya, baik kepala, dada, tangan dan kaki.

Prayogo mengatakan di hari yang sama langsung melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng).

Oleh Propam Polda Sulteng, mahasiswa Fakultas Teknik Untad itu dipertemukan dengan keenam pelaku.

Dari pertemuan itulah Wiranto mengetahui bahwa para pelaku merupakan anggota Detasemen Khusus (Densus) 88.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Polda Sulteng belum memberikan keterangan resmi atas peristiwa tersebut.

Reporter: IRMA
Editor: NANANG